Oke, kita ketemu di depan Warung Sembako Mbah Trisno ya!
Setelah telepon kedua, Elea keluar kamar untuk menemui Retno yang ternyata belum tidur. Ia meminta nomor HP Rifky. Karena ingin melepas penat dengan pergi ke sawah dan sungai yang letaknya cukup dekat dari rumah Kakek Aryo, Elea meminta Rifky menemaninya hari ini. Laki-laki itu menepati janji. Elea tidak ingin Rifky menjemput dirinya di rumah sehingga ia meminta bertemu di tengah jalan. Dan Warung Sembako milik tetangga Kakek Aryo itu dijadikan tempat untuk pertemuan keduanya.
Elea sudah selesai mandi karena ia terbiasa mengguyur tubuhnya sebelum Subuh meski sedang libur. Dikenakannya celana kulot warna hitam, kardigan rajut, dan hijab berbahan Paris yang ia biarkan menjuntai ke depan perutnya. Elea berjalan menuju meja makan. Seperti sebelumnya, sudah ada Kakek Aryo, Hendra, dan Retno di sana sedang bercengkerama sambil menikmati Teh Manis hangat. Perempuan itu bergeming memperhatikan pemandangan di depannya.
Ia hampir lupa kalau waktunya tinggal tiga hari lagi. Artinya, jika usahanya berhasil, maka tidak akan ada dirinya yang hadir di rumah ini. Bahkan Hendra dan Retno pun tidak akan pernah ada.
Jantung Elea berdesir. Tiba-tiba ia merasa sudah berbuat jahat terhadap keluarga yang begitu menyayanginya.
“Nduk, kok berdiri saja di situ?” Suara Kakek Aryo membuyarkan lamunan Elea.
“Sini, sarapan dulu, Lea.” Kali ini giliran Retno yang langsung sibuk mengambilkan piring untuk keponakannya itu. Elea tersenyum lebar dan berjalan mendekat.
Setelah duduk tepat di depan Kakek Aryo, Elea melihat Retno sedang meracik Kupat Tahu, makanan Khas Desa Banjar, sekaligus yang menjadi kesukaannya. Wajahnya berubah sumringah.
“Bu Lik beneran masak ini?” tanya Elea.
Retno ikut tersenyum. “Sesuai keinginan Lea semalam mau makan Kupat Tahu, toh?”
Saat meminta nomor HP Rifky, Retno sempat bertanya apakah Elea mau ikut ke pasar untuk membeli makanan kesukaannya. Namun, Elea sungkan untuk meminta Bu Lik-nya itu memasakkannya makanan yang tidak biasa ia masak setiap hari. Jadi, Elea lebih baik makan apapun yang Retno masak. Tetapi, Retno berhasil mengingat Kupat Tahu yang begitu disukai Elea saat berkunjung dahulu dan menanyai Elea apakah dirinya akan suka kalau dimasakkan Kupat Tahu tersebut.
Elea merasa terharu. Sudah begitu lama ia tidak dimanja dengan makanan favoritnya.
“Walaupun rasanya ndak seperti yang dijual di luar sana, tapi semoga tetap enak di lidah Lea ya, Nduk,” kata Retno sambil menaruh piring Kupat Tahu di hadapan Elea.
Perempuan itu menggeleng cepat.
“Semua masakan Bu Lik itu terbaik! Nggak ada yang ngalahin. Benar kan, Pak Lik?”
Hendra yang tiba-tiba mendapat pertanyaan kecil dari Elea, tidak nampak kebingungan. Sambil mengunyah, ia mengacungkan jempol tanda setuju dengan pernyataan Elea.
“Tuh, Pak Lik aja setuju.”
“Mas Hendra ki ojo ngrungokne ponakanmu wae ngono, lho. Aku yo ngerti tenan njenengan ora setuju*.”
“Ra setuju piye, Dik? Wong iki Kupat Tahu pancen wenak, ra ngapusi. Ben dino opo sing kowe masak yo aku ki sueneng mergo rasane ngalahke restoran. Tenanan.”
Elea kurang begitu paham, tetapi ia tahu kalau pasutri di depannya sedang bercanda. Sambil mendengarkan obrolan mereka, Elea melahap Kupat Tahu yang sangat lumer di mulutnya. Iya selalu ingat rasa yang membuat dirinya dilempar ke masa lalu itu. Perhatian Elea beralih ke Kakek Aryo yang tengah meneguk air putih.
Tidak bisa dipercaya kalau ia sudah mengobrol dua kali dengan versi muda Kakek Aryo. Elea jadi menemukan kesamaan yakni ketegasan. Tetapi, Aryo 73 tahun ini lebih lembut pada Elea, lebih ramah, dan perasaan sayangnya sangat menyentuh hati Elea. Ia jadi ingat kalimat di penghujung telepon semalam.
“Kakek, aku udah nggak lihat Gundul sejak kemarin. Kemana?” tanya Elea di sela-sela obrolan Retno dan Hendra yang begitu asik.
“Ada,” jawab Kakek singkat.
“Dimana?” Elea mendesak.
“Di kandangnya.”
Elea mendengar deham Hendra, ternyata obrolan dengan Retno sudah selesai tanpa Elea sadari.
“Gundul sudah sakit-sakitan, Lea. Jadi badannya lemah. Ya setiap hari begitu, tidur di kandang.” Hendra menimpali.
“Oh, begitu.” Elea mulai paham untuk tidak lagi meneruskan pembahasannya, tetapi ia sangat terusik dengan ucapan Aryo muda soal Yanti. Selama ini, Elea percaya seratus persen cerita Kakek Aryo kalau Nenek Yanti pergi tanpa berpamitan dan meninggalkan surat berisi keinginannya untuk bebas. Namun, benarkah yang terjadi sebenarnya sesuai dengan cerita itu?
Elea buru-buru menghabiskan Kupat Tahu. Setelah mencuci piringnya sendiri, ia kembali ke hadapan Kakek Aryo yang masih menikmati Teh Manis hangatnya perlahan-lahan. Matanya awas memperhatikan Retno dan Hendra yang sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri lalu menjauh dari area meja makan.
“Ibunya Gundul itu kucing kesayangan Nenek kan, Kek? Kapan mulai dipelihara sama Nenek?” tanya Elea sungkan.