Sepanjang perjalanan menuju Desa Mbangunkerto, Elea disuguhkan oleh suasana asri khas pedesaan. Awalnya area persawahan yang hijau dan dihiasi para petani yang sedang beraktivitas, hingga berakhir di area pesisir mendekati pantai yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Elea sangat menikmati perjalanan yang ternyata begitu menyenangkan. Rifky juga lebih banyak diam untuk memberi Elea waktu menikmati alam di atas motor.
“Pertigaan depan sana sudah Mbangunkerto, Lea,” kata Rifky dengan suara yang cukup keras supaya Elea yang tengah duduk di jok belakang mendengar.
Karena terhanyut suasana alam di sepanjang jalan, Elea lupa soal kemana ia harus mencari setelah sampai di desa tersebut. Maka dari itu, Elea meminta Rifky untuk berhenti di sembarang tempat. Ia kemudian turun dari motor sambil memperhatikan sekitar.
“Kayaknya aku harus ke rumah Kepala Desanya dulu deh, Ky.”
“Kamu sudah tahu dimana rumahnya?”
Elea tersenyum kikuk. “Belum.”
Elea melihat Rifky mengeluarkan ponsel layar sentuhnya. Laki-laki itu sibuk selama beberapa menit. Elea baru akan bergerak untuk mencari info dari penduduk sekitar sebelum akhirnya Rifky mengatakan sesuatu.
“Rumah Kepala Desanya ada di arah sana, Lea. Sekitar 100 meter.”
“Kamu tahu dari mana?”
Rifky tersenyum. “Aku tadi tanya sama temanku yang tinggal di Mbangunkerto. Dia langsung share loc alamatnya.”
Elea lupa kalau Rifky besar di kota ini jadi kemungkinan ia memiliki teman yang masih berada di satu kota itu cukup besar.
“Sebenarnya kamu mau cari siapa, Lea?”
Pertanyaan Rifky membuat Elea termangu. Benar, ia mencari siapa? Tepatnya, Elea hanya tahu nama adik Nenek Yanti dari Kakek. Sementara adiknya tersebut belum tentu masih ada di Mbangunkerto. Kalaupun sudah tidak tinggal di sana, apakah Elea bisa memastikan kalau keturunan keluarga Nenek Yanti masih ada di desa yang sama seperti puluhan tahun lalu?
“Kita ke rumah Kepala Desa dulu aja, Ky. Setelah itu, aku baru bisa memutuskan langkah selanjutnya,” ucap Elea.
Dengan mengikuti arah yang ditunjukkan peta di ponselnya, Rifky membawa Elea bergerak menelusuri jalan yang hanya muat untuk satu mobil besar. Mereka melewati sebuah Sekolah Dasar yang dengan sederhana membentang cukup luas hanya satu lantai. Kebetulan anak-anak di sekolah itu sedang istirahat sehingga terlihat ramai berlarian, bermain, bahkan ada yang sedang latihan upacara. Elea jadi rindu masa sekolah. Meski masa-masa itu hubungan dengan orang tuanya sudah tidak baik, tetapi setidaknya Elea memiliki kenangan positif dari teman-teman sekolahnya.
Lamunan Elea buyar ketika Rifky menghentikan laju motor.
“Ini rumah Kepala Desanya, Lea,” kata Rifky sambil menunjuk ke sebuah rumah dua lantai dengan dominasi warna cat biru muda dan putih. Dibanding rumah-rumah penduduk di sekitarnya, rumah ini memang terlihat mencolok—bahkan ada plang di pagarnya yang lumayan besar bertuliskan ‘Kepala Desa Mbangunkerto, Setiaji Pramono’.
Perlahan, Elea mendekati pagar tersebut. Selayaknya tamu, ia memberi salam sambil mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati dengan ukuran tinggi besar. Tak butuh waktu lama, Elea disambut oleh seorang baya yang menyapanya ramah. Ternyata ia Asisten Rumah Tangga di rumah itu. Dan ia memberitahu Elea kalau Kepala Desa yang dikenalkan sebagai Pak Aji itu masih berada di dalam rumah namun akan berangkat menemui tamu dinasnya dari Jambi di kantor. Begitu Elea dipersilakan masuk, tak basa-basi, perempuan itu langsung menuturkan maksud kedatangannya.
“Jadi, Nak Elea ini cucunya Pak Aryo Wicaksono yang dari Banjar itu, toh?” Pak Aji memastikan.
“Betul, Pak. Sejauh ini, saya cucu satu-satunya beliau.”
Pak Aji mengangguk-angguk seolah paham.
“Sebetulnya saya menjadi Kepala Desa Mbangunkerto belum terlalu lama, sekitar 5 bulan. Kalau orang yang ditanyakan Nak Elea… siapa tadi?”
Elea menelan ludah, lalu menjawab, “Ginarti, Pak.”