Tidak pernah terpikirkan di otak Elea bahwa ada informasi yang tidak sesuai dengan cerita Kakek Aryo. Sejak awal, ia selalu percaya bahkan seratus persen, terhadap Kakeknya itu. Biarkan Elea berpikir ulang sejenak. Nenek Yanti adalah cinta pertama Kakek Aryo sejak SMA. Tetapi, Nenek Yanti menikah lebih dulu tanpa tahu kalau ada laki-laki yang menyukainya secara diam-diam sampai akhirnya terjadilah perceraian itu. Kakek Aryo diambang dilema. Orang tuanya sudah menjodohkan dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan tetapi Kakek Aryo justru membawa Nenek Yanti pergi untuk kawin lari atas permintaan Nenek Yanti.
Lalu, kehidupan mereka berdua setelahnya mungkin sama seperti yang diceritakan Kakek Aryo. Mereka menikah hingga memiliki Dita dan Hendra. Pernikahan berjalan 8 tahun lamanya sampai kemudian Nenek Yanti meninggalkan surat bahwa ia ingin bebas.
Ya, surat itu. Surat yang membuktikan kalau Nenek Yanti tidak pernah bahagia hidup bersama Kakek Aryo. Jika ada cerita mengenai kehamilan Nenek Yanti dari suami pertamanya, seharusnya wajar kalau Elea berpikir Nenek Yanti hanya memanfaatkan kebaikan Kakek Aryo, bukan? Tetapi anehnya, Elea juga jadi memikirkan kemungkinan Kakek Aryo yang salah menafsirkan isi surat tersebut. Apa Elea harus menemukan surat itu dan membacanya sendiri supaya ia semakin tahu kebenarannya?
Elea baru sadar kalau ia sudah sampai di Desa Banjar.
“Rifky,”
“Iya, Lea. Ada apa?”
Pandangan Elea menerawang ke langit yang dihiasi awan putih serta warna birunya yang cerah. Sangat cantik. Namun, kecantikan langitnya tidak serta merta membuat hati gusar Elea hilang begitu saja.
“Kamu pernah berpikir buat mengubah masa lalu, nggak?” tanyanya.
Rifky tidak langsung menjawab. Elea melihat laki-laki itu menepikan dan mematikan mesin motor. Ia turun kemudian menatap Elea lurus-lurus. Ada sorot yang tidak bisa Elea artikan di mata Rifky.
“Pernah dan aku juga punya kesempatan itu,” jawab Rifky.
Mata Elea membola. “Maksud kamu?”
Rifky tertawa kecil lalu berkata, “seandainya aku punya kesempatan itu, aku mau mengubah masa lalu Ibuku.”
“Jadi… kamu juga punya penyesalan soal hidup orang lain? Bukan hidup kamu sendiri?”
Rifky menggeleng pelan.
“Ceritanya panjang, Lea. Aku akan cerita lain waktu kalau kamu juga sudah bersedia cerita sama aku. Kamu lagi nggak baik-baik aja sekarang, jadi kita pulang dan istirahat. Ya?”
Elea berpikir apa yang dikatakan Rifky ada benarnya. Pikirannya sedang kacau sementara malam ini juga ia harus bertindak cepat untuk memutuskan hal apa yang bisa ia sampaikan pada Aryo muda. Belum lagi kalau Aryo muda benar-benar memilih jalan yang sama dengan menikahi Nenek Yanti yang sedang hamil. Ah, ternyata persoalan orang dewasa sedemikian peliknya. Kepala Elea jadi sakit.
Setelah sampai di rumah, jam pada Smartwatch Elea menunjukkan pukul 14:30. Untuk izin ke sungai, ini sudah termasuk sangat lama. Pintu ukir kayu jati itu sudah dibuka oleh Hendra dan Retno. Elea bisa melihat raut kecemasan di wajah keduanya dan entah bagaimana hal itu justru membuat Elea bahagia.
“Kamu ndak bawa HP, Lea? Pak Lik sudah telepon berkali-kali. Kemana saja?”
Rifky baru akan membuka mulut untuk membela, Elea keburu menahan laki-laki itu dengan ucapannya.
“Maaf ya, Pak Lik. Habis dari sungai, aku ajak Rifky keliling Desa Banjar naik motor. Lain kali, aku izin dulu sama Pak Lik dan Bu Lik,” ujar Elea seolah ia sudah menyiapkan kalimat itu sebelumnya dengan matang.
“Kami cuma khawatir sama Lea, kalau terjadi apa-apa di luar sana, bagaimana?” Retno ikut menimpali.
Elea tersenyum lebar. Tentu saja kecemasan Hendra dan Retno menjadi sesuatu yang membahagiakan sebab Elea sudah mendambakannya sejak lama sekali namun ia tak pernah menerimanya. Setidaknya sekarang, hal sekecil ini mampu membuat suasana hati Elea lebih baik.
“Aku ngerti, Bu Lik. Makasih karena udah mengkhawatirkan aku.”
***
Jalan setapak kecil dari tanah merah itu cukup panjang. Kaki Elea hampir tidak bisa lagi berjalan. Nafasnya sudah terengah-engah, begitupun keringatnya mengalir deras di punggungnya—membuat sedikit bagian dari kaosnya basah. Mata Elea mulai memindai sekitarnya. Ia tahu tempat ini.