Otak Elea butuh waktu lama mencerna tulisan yang muncul pada layar ponsel usang. Jadi, kali ini ia yang harus mengangkat telepon Aryo muda? Bukan sebaliknya seperti yang biasa ia lakukan dua malam ini? Belum lagi, waktu untuk berbicara lintas masa tinggal satu menit. Walaupun bingung, tetapi Elea tidak mau berpikir terlalu lama. Ia mengikuti aturan. Saat ponsel usang sudah menempel di telinganya, Elea mendengar suara seseorang dengan samar.
Tentu saja Aryo muda.
“Ha-halo?” Elea mencoba untuk menyapa meski terbata-bata.
Tidak ada jawaban.
Namun, ketika bibirnya kembali bergerak, Aryo muda berbicara, “Aku memberanikan diri malam ini untuk mengajak perempuan yang aku cintai ke hadapan Ibu dan Bapak. Kalian sudah mengenal Yanti, kan? Apa Yanti tidak pantas untuk menjadi istriku?”
Jantung Elea berdetak kencang selama dua detik. Aryo muda tidak sedang bicara padanya. Lantas, dengan siapa?
“Bapak dan Ibu memang mengenal Yanti, tapi pernikahanmu sudah ditetapkan. Besok kita akan pergi ke rumah keluarga Prasetyo untuk melamar. Tidak ada penolakan!”
Elea tidak mengenal suara Pria ini. Jadi, ia terdiam untuk mendengar seluruh percakapan sebelum mengambil konklusi.
“Masalahnya, aku ndak mencintai perempuan yang Ibu dan Bapak pilih. Apakah nanti aku akan bahagia?” kata Aryo muda.
“Aryo, Ibu mengerti. Tapi, Yanti itu kan… dia…”
“Aku tahu, Bu. Dia sudah pernah menikah dan gagal. Lantas, apa itu masalah besar? Kami ndak berselingkuh. Aku mendekati Yanti setelah dia berpisah dari suaminya secara sah.”
“Memang tidak ada yang salah dari itu. Tapi ini mengenai martabat keluarga, Aryo! Keluarga Prasetyo itu sudah sangat berjasa bagi hidup Bapak dan Ibu sejak kamu belum lahir. Kita ini berutang budi terhadap mereka. Dan putrinya Prasetyo itu bukan perempuan sembarangan, bahkan pendidikannya lebih baik dari kamu. Dia juga sudah menyukai kamu sejak lama. Sudah berapa kali Bapak katakan soal ini?”
Elea memainkan ujung kuku Ibu jarinya. Adrenalinnya cukup terpacu. Ia mulai mengerti kalau ini adalah percakapan yang sangat penting dan tidak pernah ia bayangkan akan didengarnya secara langsung. Jadi, Kakek Aryo pernah berterus terang soal Nenek Yanti pada orang tuanya? Lalu, apakah di lini waktu asli, perjuangan mereka gagal sampai-sampai harus kabur dari rumah?
“Mas Aryo, sudah. Ndak perlu diteruskan. Yanti sudah mengerti kalau jalan ini ndak mudah.”
Ini pertama kalinya Elea mendengar suara Nenek Yanti.
“Ndak bisa, Dik. Mas masih mau berjuang. Kamu pantas diperjuangkan.”
“Aryo, tolong jangan keras kepala. Dengarkan Bapakmu. Tolong, Nak.” Kali ini suara Ibu Aryo muda alias Nenek Buyut Elea yang menggema.
Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya suara Aryo muda kembali terdengar.
“Maaf, Bu. Aku ndak akan menikah dengan siapapun, kecuali Yanti. Keputusanku sudah bulat.”
Nafas Elea tercekat. Jemarinya meremas ujung piyama yang dikenakannya. Tepat ketika itu, telepon berakhir. Elea menurunkan ponsel usang perlahan, tangannya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Desa Banjar, ia tidak tahu siapa yang harus disalahkan atas semua kejadian yang menimpanya.
Seperti yang terjadi pada dua malam sebelumnya, muncul tulisan ‘3 kesempatan sudah selesai. Kesempatan Anda tinggal 2 kali lagi.’ yang membuat Elea menghela nafas berat. Malam ketiga ini sungguh rumit—lebih dari yang ia kira. Elea mengusap-usap wajahnya. Ia tidak bisa berpikir apa-apa termasuk soal rencana untuk sisa dua telepon.
Tiba-tiba, muncul notifikasi pesan singkat di ponsel pribadi Elea. Ia langsung meraihnya. Ternyata dari Rifky.
Lea, besok mau ke sungai? Hari ini kan gak jadi.
Benar juga. Elea berniat untuk menghibur dirinya hari ini tetapi justru mendapat hal-hal berat yang memenuhi isi kepalanya. Perempuan itu melirik buku catatan kecilnya sekilas. Tetapi, ia justru buru-buru mengetikkan balasan ke nomor Rifky.
Oke, ketemu di depan Warung Mbah Trisno jam 6 pagi ya.
Dan setelah mengirimkan pesan singkat itu, Elea berbaring—menyelimuti dirinya sampai ke leher hingga ia berhasil memejamkan mata. Entah apa yang akan dihadapinya esok, biarlah berjalan saja. Ada kalanya merencanakan segala sesuatu dengan matang tidak terlalu bagus bagi otak manusia.