“Kamu mau tahu rahasia yang bertahun-tahun aku sembunyikan?”
Kalimat Rifky yang terlontar dengan begitu lembut, mengalahkan suara gemercik air sungai di telinga Elea. Entah bagaimana detik itu ia merasa ada sesuatu yang aneh. Lalu, Rifky seperti menambah keanehan yang dirasakan Elea dalam kurun waktu singkat.
“Rahasia apa?” tanya Elea hati-hati.
Tidak mungkin kan, kalau rahasia itu berhubungan dengan Meneer Ed?
“Aku juga pernah melihat rumah Belanda itu.”
Mata Elea membesar. Ia juga tak sadar mulutnya sudah menganga. Kalau bukan karena kedua tangannya menutupi, mungkin serangga bisa masuk ke mulut Elea. Tapi ini memang berita yang sangat mengejutkan. Selama ini ia berpikir hanya dirinya-lah yang dipertemukan dengan rumah Belanda. Ternyata, ia tak sendiri.
“Rumah Belanda… Meneer Ed?” tanya Elea.
Rifky tertawa kecil. “Begitulah, Lea. Aku sebenarnya sudah curiga waktu malam charity, kamu bilang ada rumah di belakang Pasar, padahal cuma ilalang tinggi. Ya memang, nggak pernah ada rumah dibangun di tanah itu karena yang kamu lihat cuma imajinasi.”
Kenapa rasanya Elea tidak terima kalau ia berimajinasi. Nyatanya, ia benar-benar terhubung dengan Kakek Aryo di tahun 2003 melalui ponsel usang itu. Dan hal tersebut tidak terjadi satu kali, melainkan sudah tiga kali.
“Lucu, ya? Seperti dongeng. Fantasi. Pasti kamu berpikir kalau kamu lagi mimpi waktu tidur setelah ketemu rumah Belanda itu.”
“Apa itu yang kamu rasakan juga, Rifky?”
Rifky memilih diam sejenak. Elea masih sulit percaya kalau ternyata laki-laki itu pun mengalami kejadian yang sama dengannya.
“Awalnya memang aneh. Kenapa tiba-tiba di lapangan tempat biasa aku main sepakbola dengan teman-temanku, ada rumah sebesar itu.”
Dahi Elea mengkerut tipis. “Rumahnya di tengah lapangan sepakbola?” tanya Elea yang dibalas anggukan ringan Rifky.
“Kalau aku jadi kamu juga aku bakal merasa aneh, sih.”
“Tapi dengan gampangnya, aku justru langsung masuk ke rumah itu. Nggak curiga sama sekali. Mungkin karena aku masih 11 tahun saat itu, jadi otak aku ini nggak berjalan baik.”
Satu lagi fakta baru yang diterima Elea. Rumah Belanda muncul di depan Rifky di saat usianya masih sangat muda. 11 tahun artinya sebelum Rifky dan Elea bertemu untuk pertama kali karena Elea mengunjungi Kakek Aryo saat duduk di kelas 7 SMP, yakni pada usia 13 tahun.
“Terus, setelah masuk rumah Belanda, kamu juga ketemu sama pemiliknya?”
“Maksud kamu Eduard Jansen?”
Elea mengangguk-angguk. “Iya, Meneer Ed yang pakai baju tradisional Jawa itu.”
“Iya, tentu aja aku ketemu sama dia,” jawab Rifky. Ia kemudian menatap Elea lurus, kemudian berkata, “tapi, rumah Belanda itu nggak muncul begitu aja, Lea. Sama halnya Meneer Ed. Dia muncul di depan orang yang lagi rapuh karena kehidupan yang keras.”
Elea termangu. Apa yang dikatakan Rifky mungkin benar, sebab ia datang ke Desa Banjar di saat kemelut hidupnya membuncah. Namun, itu berarti Rifky juga mengalami kepahitan hidup sampai-sampai Meneer Ed muncul di hadapannya?
“Setidaknya itu yang bisa aku simpulkan setelah semua kejadian nggak masuk akal itu terjadi,” kata Rifky.
Elea jadi teringat sesuatu. “Ky…”
“Hm?”
“Orang yang kamu ubah masa lalunya itu… Ibu kamu?” tanyanya.
“Awalnya… iya.”
Alis Elea tertaut cukup jelas. “Kenapa awalnya?”
“Ya karena hidup Ibuku nggak bahagia. Sesederhana itu,” balas Rifky.
Elea menghela nafas panjang. “Aku pengin tahu cerita versi kamu, tapi nggak sekarang. Aku tahu kapasitas otakku lagi penuh sama masalahku sendiri. Jadi, aku boleh kan, minta ceritanya lain kali?”