Mulut Elea sudah membuat huruf O dengan sempurna ketika mendapati ponsel usang ada di atas meja side-bed. Ia mulai mengulang memorinya sebelum masuk ke kamar. Begitu selesai mandi, Elea mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk—masih dengan kebiasaannya. Ia tidak masuk ke ruangan manapun, namun sempat melihat Hendra sedang salat Ashar di ruang tengah. Itu pun pemandangan yang juga sudah sering ia lihat sejak datang ke Desa Banjar. Selanjutnya, Elea mendengar suara petir yang cukup kencang sambil bersyukur hujan akhirnya turun setelah hampir satu bulan dilanda kemarau. Baru setelahnya, Elea buru-buru masuk ke kamar karena ingat jendela kamarnya belum ditutup.
Seperti yang diketahui, Kakek Aryo menghampiri Elea di kamar ketika perempuan itu tengah membaca buku catatan kecilnya. Elea tidak membuka sama sekali laci meja side-bed tersebut berdasarkan urutan dari ingatannya. Tiga kali kesempatan telepon masa lalu, dirinya selalu memperhatikan letak ponsel usang Kakek Aryo berada. Baginya, selama misi belum selesai, ponsel itu tidak boleh dilihat siapapun—termasuk si empunya. Tetapi, sore ini, Kakek Aryo lah yang pertama kali menyadarkan Elea kalau ponsel usang ada di kamarnya.
Tangan Elea mulai gemetar. Perlahan ia mengambil ponsel usang yang keadaannya masih sama persis seperti yang ia lihat terakhir kali. Apakah Elea sempat melupakan waktu-waktu dimana ia mengambil ponsel itu kemudian menaruhnya di atas meja? Jangan-jangan sebelum mandi sore, Elea memang menaruhnya di sana tapi tak sadar.
“Nggak mungkin. Kenapa bisa pindah?” Ia bertanya lirih.
Benar. Elea bukan tipikal perempuan sembrono dan teledor dalam menaruh barang. Apalagi ini barang yang sangat penting bagi misinya.
“Kamu yang menemukannya, Nduk?”
Suara Kakek Aryo membuyarkan konsentrasi Elea. Kalau memang bukan dirinya yang memindahkan, lalu siapa?
“Jangan-jangan…”
Elea menyadari sesuatu. Mungkin lini waktu telah benar-benar berubah sekarang sehingga muncul hal-hal yang di luar akal sehat. Perempuan itu setengah berlari keluar dari kamar—meninggalkan Kakek Aryo yang nampak kebingungan. Ia mulai melihat satu persatu ruangan di dalam rumah.
Pertama, Elea menghampiri Dapur. Karena di sanalah ia melihat perubahan tempat dengan jelas. Ternyata, letak wastafel cuci piring masih berada di samping kompor gas. Lalu, perhatiannya beralih pada pigura foto di dinding atas meja makan. Tidak ada foto Dita kecil di sana.
“Lea? Kamu sedang apa? Kenapa panik begitu?” Hendra muncul dari arah ruang tengah.
Melihat Hendra, Elea sempat terpaku sejenak. Ia tidak menjawab pertanyaan dari Pak Lik-nya tersebut dan langsung beranjak menuju ruang tengah. Samar-samar, ia mendengar suara Retno yang bertanya pada Hendra soal Elea. Begitu sampai di ruang tengah, Televisi dan bangku kayu tidak ada perubahan sedikitpun. Hanya ruangan itu nampak lebih bersih karena mungkin Retno baru selesai membersihkannya sebelum digunakan Hendra untuk salat Ashar tadi.
“Ini juga tetap sama. Mungkin di ruang tamu!”
Elea kembali setengah berlari menuju ruangan paling depan dari bagian rumah Kakek Aryo tersebut. Telinganya masih menangkap suara rintik hujan yang jatuh ke permukaan genting rumah. Sementara matanya dengan teliti menelusuri setiap inci barang maupun furnitur seperti meja, kursi, lemari hias, lukisan pemandangan alam, pigura foto, dan…
Ah, benar juga. Ada sebuah pigura foto yang tertempel di dinding ruang tamu sederhana itu. Hanya ada foto Kakek Aryo meski terlihat usianya lebih muda dari yang sekarang. Sayangnya, Elea tidak terlalu memperhatikan sejak awal apakah komposisi piguranya sama atau sudah berubah—seperti pigura yang ada di atas meja makan. Jadi ia juga tidak bisa memastikan bahwa sudah terjadi perubahan pada lini waktu.
“Ada apa, Lea? Dari tadi kamu seperti orang linglung itu, lho. Nyari apa?” Lagi-lagi Hendra mendesak jawaban. Kali ini ia menghampiri Elea ke ruang tamu disusul Retno di belakangnya.
“Kalau ada yang bisa Bu Lik bantu, tinggal bilang aja, Nduk.”
Suara-suara tersebut tak berhasil membuat perhatian Elea teralihkan. Ia masih sibuk dengan pemikiran soal ponsel usang yang tiba-tiba ada di atas meja. Semakin Elea berusaha membantah segala kemungkinan yang tidak masuk akal, semakin Elea yakin kalau lini waktu telah berubah, sebab wastafel cuci piring di dapur saja bisa berpindah tempat. Kepala Elea mendadak seperti terhantam sesuatu yang tajam. Pandangannya memudar, lalu sekelilingnya tampak berputar pelan.
Apa sebentar lagi aku akan menghilang dari dunia ini?
“Argh!”
Elea menekan kepalanya yang terasa sakit itu. Tubuhnya mulai tak bertenaga. Sosok Hendra dan Retno yang berdiri bersebelahan tak jauh dari Elea sudah memudar. Ia kesulitan menopang tubuhnya sendiri meski berdiri dengan dua kaki. Lalu, dalam sekejap, semuanya menjadi hitam.
***
“Elea, Ibu dan Ayah tidak jadi berpisah.”
“Benar. Kami berdua masih tinggal di rumah ini bersama-sama.”
“Pertengkaran suami-istri itu hal yang biasa dalam pernikahan, jadi kami tidak akan membuat pertengkaran itu menjadi hal yang besar.”
“Apa yang dikatakan Ayahmu benar, Elea. Ibu juga sudah salah mengira Ayah berselingkuh, padahal Ayahmu hanya bersikap profesional saat bekerja. Perempuan itu sudah meminta maaf karena menyebabkan kesalah pahaman dan sudah pergi jauh dari kami.”
“Ayah hanya mencintai Ibumu seorang, sejak awal sampai Ayah meninggal nanti. Tidak akan pernah ada perempuan lain di hati Ayah.”
“Mulai saat ini, kami akan memulai kembali dari nol. Semua perhatian kami untuk Elea saja. Jangan bersedih ya, Nak. Yuk, kembali pada Ibu dan Ayah.”
“Elea, kami menunggumu.”
Kelopak mata itu akhirnya bergerak-gerak, menandakan kalau Elea telah bangun dari tidurnya. Langit-langit yang berhias genting rumah dan lampu neon putih itu menyambut Elea. Ia mengerjap-erjap. Kepalanya berdenyut meski dalam skala kecil. Tenggorokannya juga sangat kering. Hal pertama yang Elea inginkan adalah minum air putih.
“Air… Dimana Air?” Elea mencoba mengeluarkan suara walaupun tak berhasil menjangkau siapapun.