Hari ini, Elea bangun lebih awal dibanding biasanya. Setelah melahap Ubi Kukus dan minum Teh Hangat, tubuhnya lemas hingga ia tidak bisa menahan kantuknya. Tetapi, Elea hanya bisa tidur sebentar sampai waktu tahajud tiba. Karena kulitnya masih tidak bisa terkena air, Elea tayamum untuk melaksanakan salat Sunnah di sepertiga malam tersebut. Ia menangis, mengadu tentang hidupnya yang belakangan sangat rumit. Tak lupa, ia juga meminta ampunan karena di kehidupan kali ini dirinya merasa terlalu banyak dosa.
Sehabis Subuh, Elea menuliskan semua hal yang membebaninya. Seorang teman Elea yang kuliah di jurusan Psikologi pernah menyarankan Elea untuk melakukan journaling dengan rutin agar mengurangi stres yang kemungkinan besar tidak disadari Elea. Ditakutkan, jika berlarut-larut, Elea akan terkena depresi. Tentu saja hal itu tidak diketahui oleh orang tuanya. Elea memendam semuanya seorang diri. Beruntung, di perjalanan mengubah masa lalu Kakek Aryo saat ini, ia memiliki teman yang memahaminya.
“Kalau memang akhir yang dicapai Rifky itu bahagia, kenapa justru nggak bikin semuanya lebih baik?” Elea bertanya pada diri sendiri begitu ia mengingat cerita Rifky.
Suara burung yang berkicau di pelataran rumah Kakek Aryo membuat Elea sadar kalau langit sudah terang. Ia memeriksa sendiri keningnya. Demam sudah pergi. Tetapi, baiknya ia gunakan termometer untuk mengecek suhu pastinya. Selagi Termometer itu ditempel ke ketiak Elea, ia membuka pesan singkat yang baru masuk ke ponselnya. Dari Rifky.
Lea, nanti aku ke rumah Kakek Aryo sebelum Zuhur ya. Sekalian, aku mau kasih tahu kamu sesuatu.
Alis Elea naik. Sesuatu apa yang akan diberitahukan Rifky? Sepertinya soal utang cerita perubahan masa lalu yang dialami oleh laki-laki itu, Elea menebak. Ia meletakkan ponselnya, tepat saat itu termometernya berbunyi.
“37,6 ternyata,” kata Elea. Ia harus minum lebih banyak supaya suhunya turun dan mengompres telapak tangannya dengan air hangat.
Diambilnya botol minum stainles—yang selalu menemani Elea ketika ia sedang jogging—untuk diisi air mineral. Langkahnya menuju Dapur lumayan berat. Biasanya jam-jam seperti ini, semuanya berkumpul untuk sarapan. Tetapi, Dapur tampak sepi—bahkan tidak ada jejak Retno setelah masak.
“Jangan-jangan… ada yang berubah lagi?”
Mata Elea mulai awas memutari sekelilingnya. Ia perhatikan setiap sudut Dapur tanpa terlewat Setelah beberapa menit, Elea bisa memastikan kalau Dapur itu tidak berubah sedikitpun. Elea berbalik untuk memeriksa ruangan lain, namun ia justru mendengar suara seseorang yang menjadi sumber lukany, berbicara dari kejauhan.
“Mbak Dita dalam perjalanan ke sini, katanya mau jenguk kamu, Nduk.”
Ucapan Retno semalam terngiang di telinga Elea. Apakah ibunya sudah sampai? Tanpa sadar, jemari Elea yang sedang menggenggam botol minumnya mengeras. Apalagi sosok Dita sudah menyembul dari arah ruang tamu. Tidak ada yang bicara. Elea hanya menatap lurus perempuan paruh baya yang mengenakan blouse merah marun dan celana kulot cream. Dita memang belum berhijab seperti Elea tetapi ia selalu memakai pakaian yang sopan sekaligus elegan. Seperti wanita karir pada umumnya.
Namun sayang, penampilan tersebut kontras dengan kehidupan pribadinya.
***
“Ibu dengar dari Bu Lik-mu, kemarin kamu pingsan ya, Nak?”
Dita memulai percakapan setelah Elea mengajaknya untuk duduk di bangku ruang tengah. Semalam, setelah Retno memberitahu soal kedatangan Dita, Elea sempat bertanya apakah Retno yang menyuruh Ibunya datang. Ternyata Hendra. Elea sudah bisa menduga sebab Pak Lik-nya itu memang sangat amat dekat dengan Ibunya.
“Cuma karena demam,” jawab Elea sekenanya. Ia melanjutkan, “apa karena itu Ibu langsung datang kemari?”
“Kamu tidak pernah pingsan seumur hidup, Lea. Bagaimana Ibu tidak khawatir?!”
Elea mendecih, menganggap ucapan Dita sangat lucu, sekaligus aneh.