Ponsel Usang Kakek

Zata Amanila
Chapter #15

BAB 15

“Rifky datang, mau pamit.”

Elea tak sengaja mendengar suara Retno, ketika percakapan dengan Dita baru saja selesai. Elea hampir lupa kalau Rifky akan mampir ke rumah. Ternyata laki-laki itu sudah tiba. Mungkin ada di ruang tamu bersama Kakek, Pak Lik, dan Bu Lik. Tebak Elea.

“Ada tamu, ya?” tanya Dita.

“Sepertinya teman aku. Hari ini mau berangkat kerja ke Cikarang katanya.”

“Oh ya? Ya sudah, ditemui dulu, Nak. Ibu juga mau numpang mandi.” 

Elea mengangguk-angguk. Ia beranjak ke ruang tamu. Sesuai dugaannya, sudah ada Kakek Aryo, Hendra, dan Retno di sana.

Assalamualaikum, Elea.” sapa Rifky menyadari kehadiran Elea di ruang tamu. Laki-laki itu tersenyum lebar. Ia terlihat sudah sangat rapi dan siap untuk pergi dengan Suede Jacket warna abu-abu gelap.

Waalaikumussalam. Rifky udah dari tadi, ya?” tanya Elea. Ia mengambil duduk di dekat Kakek Aryo.

“Belum lama, kok. Kira-kira setengah jam.”

“Hah? Setengah jam berarti… udah lama banget, dong?” Elea merasa tidak enak.

Ojo guyon ngono lho, Ky.” timpal Hendra yang sedari awal duduk di sebelah Rifky sambil menyesap kopi hitamnya. 

Mboten, Pak De,” pandangan Rifky beralih pada Elea lagi, “bercanda, Lea. Aku baru 7 menit di sini,”

“7 menit banget? Persis?” Kali ini Elea yang mencandai. Rifky hanya tertawa.

Setelahnya, laki-laki itu diajak mengobrol Kakek Aryo dan Hendra. Elea hanya bisa menyimak sambil memikirkan Ibunya yang ada di ruang tengah. Entah sekarang sudah beranjak ke kamar mandi atau belum. Percakapan yang mengalir dengan Dita masih belum bisa hilang dari pikirannya. Semuanya terlalu cepat terjadi. Karena kepala yang pusing, Elea jadi kesulitan mencerna dengan otak calon Dokternya tersebut. 

Benar juga, ia sedang kuliah Kedokteran. Tapi sepertinya dirinya lah yang butuh Dokter untuk bisa keluar dari sakit batinnya.

“Elea?” Tiba-tiba saja suara Rifky masuk ke gendang telinganya. Elea tersentak. Di ruang tamu itu hanya tersisa Elea dan Rifky. Agaknya lamunan Elea berlangsung cukup lama—sampai-sampai ia tak sadar Kakek Aryo dan Hendra pergi.

“Kamu masih demam? Soalnya muka kamu masih pucat.” tanya Rifky.

“Terakhir di cek suhunya 37 derajat. Sekarang udah lebih mendingan, mungkin udah turun lagi.”

Alhamdulillah, kalau begitu. Calon Dokter pasti pandai mengobati diri sendiri, kan?”

Dahi Elea mengerut tetapi bibirnya menahan tawa. 

“Dapet dari mana pikiran begitu? Dokter juga manusia, Ky. Kalau sakit juga butuh diobati sama Dokter lain.” 

Rifky mengusap-usap leher belakangnya dengan canggung dan malu. “Begitu, ya?”

Elea mengubah posisinya untuk lebih condong ke arah Rifky yang duduk lumayan jauh darinya. 

“Bukannya kamu mau ngasih tahu aku sesuatu?”

Pertanyaan Elea dibalas tawa kecil Rifky. “Ini soal rumah Belanda itu,”

“Eh? Sssstt! Kita keluar dulu aja, deh.”

Elea bangkit dari duduknya disusul Rifky. Mereka bergerak menjauhi pintu utama setelah Elea menutupnya rapat-rapat. Ia berdiri di hadapan Rifky dengan jarak sekitar 100 meter.

Lihat selengkapnya