“Mbak Dita benar mau kembali ke Jakarta sekarang? Ndak besok pagi saja?”
Hendra sudah menanyakan itu dua kali. Ia menyayangkan kedatangan kakaknya tersebut untuk sebentar. Setelah Magrib, Dita berpamitan.
“Mbak ke sini mendadak kemarin. Seharusnya hari ini Mbak ada jadwal meeting dengan investor baru. Tapi jadi ditunda besok. Makanya Mbak tidak bisa lama-lama. Lagipula…” Dita langsung melirik ke arah Elea di sebelahnya.
“Suhu badan Elea sudah normal. Elea juga sudah mengizinkan Mbak kembali ke Jakarta. Tidak apa-apa, Sayang?”
Elea yang ditanyai dengan tiba-tiba hanya bisa tersenyum kaku dan mengiyakan. Ia terkejut dengan sapaan ‘Sayang’ yang dilontarkan Dita. Bukan apa-apa, Elea hanya tidak mau melihat Ibunya terlalu sering karena ia bisa goyah melaksanakan teleponnya yang terakhir malam ini. Yang penting, hubungan mereka sudah jauh lebih baik. Untuk pertama kali, Elea bisa merasakan kehadiran seorang Ibu saat ia sedang berusaha sembuh dari sakit. Itu sudah lebih dari cukup.
“Dita…”
Kakek Aryo muncul dari belakang punggung Hendra dan Retno dengan langkah tertatih. Mereka sedang berada di teras rumah sekarang dan Kakek Aryo sebelumnya mau mengambil sesuatu dulu sebelum mengantar kepergian Dita. Sekarang, Kakek Aryo kembali dengan sesuatu di tangannya.
“Ada apa, Pak?” tanya Dita sambil merangkul Kakek Aryo. Tak disangka melihat itu saja membuat hati Elea tersentuh..
“Bawa ini, Nduk. Ini peninggalan Ibumu.” Kakek Aryo menyerahkan sebuah goodie bag bergambar kelinci ukuran sedang.
“Ini apa? Sebaiknya Bapak saja yang simpan kalau memang ini dari Ibu,” seloroh Dita.
Kakek Aryo menggeleng. “Sejak awal ini memang untukmu. Ibumu sendiri yang minta disampaikan. Tapi, Bapak selalu lupa.”
Dahi Elea mengerut hebat. Ia bertanya-tanya barang apa yang ada dalam goodie bag tersebut hingga membuat Kakek Aryo rela berjalan tertatih-tatih dari kamarnya ke teras rumah. Jarak itu lumayan jauh untuk ukuran manusia 73 tahun yang sedang sakit seperti Kakek Aryo.
Dita nampak menengok sekilas ke dalam goodie bag. Dari ekspresi pertamanya, Elea bisa menebak kalau di dalamnya adalah benda istimewa milik Nenek Yanti karena Dita terlihat kaget sekaligus terkejut.
“Kalau begitu, ini Dita terima ya, Pak,” katanya. Elea berusaha untuk mengetahui isi goodie bag tersebut tapi sia-sia. Elea jadi berpikir apakah ada surat asli dari Nenek Yanti di dalam sana? Kalau kecurigaannya benar, ia akan sulit mengetahui mengetahui motif asli kepergian Nenek Yanti.
“Jadi naik pesawat, Mbak?” Kali ini Retno yang bertanya begitu sebuah Taksi muncul di jalan depan rumah.
“Iya, jadi. Mbak naik pesawat dari YIA*, take off jam 21:10.”
Baiklah, jadi Ibunya akan sampai di Jakarta lebih dulu sebelum perubahan lini waktu, bukan saat di dalam pesawat, itu hal baik, Elea membatin. Jemarinya menggenggam kuat udara saat memikirkan hal tersebut. Dita kemudian meraih tubuh Elea untuk direngkuh dengan erat. Elea bisa merasakan pelukan yang tulus untuk kali pertama setelah bertahun-tahun ia tidak pernah suka saat Dita memeluknya dengan arogansi yang masih menempel.
“Ibu tunggu Elea di Jakarta, ya. Di rumah kita. Walau tidak ada Ayah, tapi Ibu janji akan berusaha mengisi rumah itu dengan kehangatan keluarga yang utuh. Kali ini tolong percaya sama Ibu ya, Nak.” Dita sudah hampir menangis.