Tak disangka, Elea berhasil menemukan sebuah lembar kertas yang sudah memenuhi isi kepalanya sejak kemarin. Bukan di kamar Kakek Aryo, melainkan di ‘rumah’ Gundul. Itu artinya, Kakek Aryo tidak membohongi Elea perihal goodie bag yang diberikan pada Dita. Diam-diam Elea merasa bersalah karena sempat hilang kepercayaan terhadap Kakeknya itu.
Tak menunggu lama, Elea mulai membaca isi surat tersebut. Tulisan Nenek Yanti sangat rapi sehingga memudahkan Elea untuk membaca goresan tinta yang hampir pudar di beberapa bagian.
Untuk Mas Aryo yang Yanti cintai.
Elea menelan ludah dengan nafas yang tak beraturan. Jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya.
Maaf kalau Yanti harus pergi. Yanti mungkin tidak pernah mengatakan cinta pada Mas Aryo selama pernikahan kita, tapi Yanti mencintai Mas dengan sepenuh hati, dengan cara Yanti sendiri. Semoga Mas bisa merasakan itu. Mas Aryo dan anak-anak berhak bahagia. Yanti hanya pembawa malapetaka bagi kalian. Jadi, dengan kepergian ini, Yanti berharap hidup kalian hanya akan dipenuhi hal-hal baik sebab tidak akan ada lagi orang yang mengusik kehidupan kalian. Orang itu akan ikut pergi bersama Yanti karena itulah yang dia inginkan. Mas Aryo, terima kasih sudah mau mencintai Yanti yang tidak sempurna sejak awal. Cinta Mas Aryo begitu tulus sampai terkadang Yanti masih sulit percaya bisa dicintai orang setulus Mas. Anggap kepergian Yanti adalah bentuk pengabdian Yanti sebagai istri Mas Aryo. Jangan khawatir, Yanti juga akan bahagia dimanapun Yanti berada.
Air mata Elea menggenang begitu selesai membaca tulisan pada surat Nenek Yanti. Ia mengulanginya sekali lagi tanpa terburu-buru sehingga dirinya dapat merasakan luka menganga dari penulis surat tersebut. Hati Elea yang rapuh mulai ikut perih. Ada hal yang baru ia ketahui soal Neneknya dan itu kontras dengan apa yang selama ini Elea percayai..
Elea beranjak. Ia langsung menuju ke kamar Kakek Aryo. Tanpa mengetuk, Elea membuka pintu yang ternyata tak dikunci pemiliknya. Kakek Aryo yang sedang membereskan selimutnya, menoleh ke arah pintu.
“Elea? Belum ti—”
“Kenapa, Kek?” tanya Elea dengan suara lantang.
“Kenapa Kakek menyembunyikan hal sebesar ini soal Nenek? Nenek nggak salah, tapi cerita Kakek bikin aku berpikir jahat. Bikin aku membenci Nenekku sendiri!” lanjutnya menggebu-gebu.
“Lea?! Ada apa ini?”
Elea melihat Hendra dan Retno ikut masuk ke kamar Kakek Aryo.
“Jangan teriak-teriak begitu, Lea. Ini sudah malam.” Retno menimpali.
“Aku cuma tanya sama Kakek, kenapa kebenaran soal kepergian Nenek sampai harus bikin aku salah paham? Kakek lupa? Atau karena terlalu depresi jadi Kakek mengarang cerita? Gitu?!”
“Lea!!! Cukup!!!” Hendra menggenggam erat pundak keponakannya yang bergetar. “kamu ini kalau ada masalah mbok yo diomongin baik-baik, apalagi sama Kakek. Jangan seperti anak kecil!”
Akhirnya tangis Elea pecah. Semua orang di ruangan kecil itu hanya bisa memandangi Elea hingga isakannya berhenti. Perasaannya sekarang sungguh sulit digambarkan—bahkan bagi Elea sendiri. Perempuan itu mendekati Kakek Aryo perlahan, lalu menggenggam satu tangannya. Elea bisa merasakan kalau Kakek Aryo pun terkejut.
“Kakek tahu kan, kalau orang yang paling sayang sama aku sejak aku bayi itu cuma Kakek? Aku selalu percaya sama semua cerita Kakek, termasuk tentang Nenek. Aku pikir Nenek kejam karena udah ninggalin Kakek tanpa kejelasan. Karena itu… karena itu aku…” Elea kembali terisak.
Karena itu aku jadi mengambil jalan untuk mengubah masa lalu Kakek dengan mencegah pernikahan Kakek dan Nenek. Itulah yang ingin disampaikan Elea. Tetapi, tidak mungkin ia mengatakannya karena siapapun yang mendengar akan menganggap dirinya tidak waras.
Kakek Aryo menatap iba Elea yang sedang menangis tersedu-sedu. “Ndak apa-apa. Kakek mengerti kemarahan kamu.” Suaranya serak dan lemah. Elea jadi tidak sanggup melanjutkan amarahnya.
“Lea, sebenarnya ada apa? Tolong jangan bersikap kasar sama Kakek.” Hendra memberi peringatan kecil.
“Mas Hendra, kita keluar dulu saja. Biar Elea dan Bapak bicara berdua,” ajak Retno sambil mencoba menggandeng lengan Hendra menjauh dari kamar. Tetapi Hendra menolak.
“Lea, kalau kemarahan kamu karena cerita soal kepergian Nenek, kamu bisa bicara sama Pak Lik.”
Dahi Elea mengerut, tidak mengerti maksud ucapan Hendra.
“Mas, nanti saja!” pekik Retno.
“Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan soal Nenek?”
Hendra melangkah mendekati Elea. Pria itu sempat melirik kertas yang ada di genggaman Elea.