Ponsel Usang Kakek

Zata Amanila
Chapter #18

BAB 18

Tidak mungkin!

Elea masih berpikir keras. Ia pasti salah mendengar ucapan Aryo muda karena sedang kalut.

“Sebentar… Anda sudah menikah tapi bukan dengan Yanti? Lalu dengan siapa? Dan… dan bagaimana mungkin?” pekik Elea.

“Itu yang terjadi, semuanya begitu cepat.”

Elea tertawa sarkas.

“Dua hari yang lalu saya mendengar dengan jelas pembicaraan Anda dengan orang tua Anda. Disitu Anda bilang hanya akan menikahi Yanti. Tapi sekarang?”

“Elea, saya memang membawa Yanti menemui orang tua saya untuk bisa mendapat restu. Bagaimanapun saya ingin menikahi Yanti dengan cara yang baik, bukan kawin lari. Sejak awal, tanggal pernikahan saya sudah ditentukan. Setelah memikirkannya dengan matang, saya menyetujui untuk menerima perjodohan orang tua saya,” jawab Aryo muda dengan tenang. Bahkan tidak ada sedih, panik, kesal dari nada bicaranya itu.

Justru Elea-lah yang merasakan itu semua. Bercampur aduk hingga ia sendiri tidak bisa mengontrolnya dengan baik. Dagunya bergetar, menahan emosinya sekuat tenaga.

“Kenapa?” Suara Elea ikut bergetar. “kenapa Anda justru mewujudkan keinginan saya?” tanyanya.

“Kamu sedih, Elea?”

Benar juga, kenapa Elea bersedih? Seharusnya ia senang karena keinginannya terkabul yaitu memisahkan Kakek Aryo dan Nenek Yanti di kehidupan sekarang.

“Sekarang, apa saya bisa memanggil Anda ‘Kakek’?” tanya Elea.

“Ya. Panggil apapun sesuai keinginan kamu. Walaupun memang terdengar aneh bagi saya yang masih 26 tahun.”

Elea tersenyum getir.

“Jadi siapa nama istri Kakek sekarang?”

“Namanya Ayunda.”

“Nama yang cantik.”

“Benar. Dan dia sekarang ada di samping saya.”

Elea menarik nafas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Waktunya sudah hampir habis.

“Kalau begitu, sampaikan salam saya pada… Nenek Ayunda.”

Elea merasa tidak terbiasa menyebut nama lain dengan sebutan Nenek setelah nama Yanti selalu menemaninya selama ini. Sungguh terlalu aneh baginya.

“Ya. Nanti saya sampaikan,” balas Aryo muda.

“Sebelum telepon ini putus, saya mau menyampaikan sesuatu.” Elea menjeda kalimatnya sebelum kemudian melanjutkan, “saya sudah gegabah menentukan jalan hidup Kakek sesuka hati. Tapi, saya jadi tahu kalau setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Itu akan menjadi pelajaran paling berharga untuk pendewasaan saya.” 

Tanpa diketahui Aryo muda, satu tetes air mata Elea jatuh perlahan.

“Jangan pernah berpikir kamu yang salah. Saya terbantu dalam membuat keputusan karena kamu. Tapi, apa yang kamu ceritakan soal masa depan saya dengan Yanti, itu bukan alasan saya memilih jalan ini. Sejak awal, saya selalu merasa Yanti tidak pernah mencintai saya, jadi saya tidak boleh memaksakan perasaan ini demi kebahagiaannya.”

Tidak, Kek. Nenek Yanti juga mencintai Kakek. Tapi sekarang percuma mengatakan itu. Elea sangat ingin mengucapkannya dengan gambling, namun bibirnya terasa sangat berat untuk bergerak.

“Maka dari itu, saya berterima kasih sama kamu, Elea. Terima kasih… karena sudah membuka pikiran saya,” jelas Aryo mud dengan suara yang terdengar sangat lembut di telinga Elea.

Elea terdiam sambil menggigit kedua sisi bibirnya.

“Tolong pastikan Nenek Yanti jauh dari mantan suaminya supaya beliau bisa bahagia. Janji?”

Ada jeda sesaat sebelum Aryo muda berkata, “saya janji.”

“Terima kasih,” ucap Elea.

“Sampai bertemu lagi ya… Cucuku.”

Elea sudah tidak sanggup lagi berbicara. Hatinya terluka namun rasanya tetap lega, tetap bahagia. Tepat setelah ucapan selamat tinggal tersebut, sambungan telepon terputus.

“Semoga Kakek tidak lagi menderita setelah ini…”

Dan layar ponsel usang memunculkan tulisan ‘5 kesempatan sudah digunakan. Saatnya menerima hasil dari misi Anda.’ yang membuat Elea menelan ludah. Kakek Aryo memilih jalan yang bertolak belakang dengan lini waktu asli, jadi Elea bersiap untuk tidak lagi dilahirkan. Sudut bibir Elea ditarik hingga membentuk senyuman manis meski tak ada yang melihat. 

“Selamat tinggal, Elea Nareswari. Kamu sudah melakukan yang terbaik,” bisiknya. 

Masih dalam kondisi menggenggam ponsel usang, Elea melihat sosok Meneer Ed yang berdiri tak jauh dari posisinya sambil ikut tersenyum bersama Elea. Baiklah, Elea tahu kalau waktunya sudah tiba. Bayangan Meneer Ed perlahan memudar, menyisakan bentuk mozaik yang tak beraturan, kemudian semua yang dilihat Elea berubah menjadi hitam. Tubuh Elea jatuh di atas bantal dengan begitu tenang—bahkan masih dengan senyuman yang mengembang sempurna.  

Lalu, ponsel usang yang terlepas dari genggamannya itu ikut menghilang, seperti pudarnya sosok Meneer Ed.


***

Kelopak mata yang berhias bulu lentik nan panjang itu bergerak-gerak. Sinar matahari yang hangat menyelinap melalui celah tirai putih, jatuh lembut menimpa setengah tubuh pemilik kelopak mata cantik tersebut. Hangat itu berbeda. Tidak seperti sinar pagi yang biasa masuk ke kamar tidurnya.

Dahinya mengernyit.

"A-aku…"

Ia berusaha untuk mengeluarkan suara, tetapi yang keluar hanyalah erangan lirih karena kepalanya masih terasa berat. Baru disadarinya kalau ia tidur dengan posisi duduk lalu pipi kirinya menempel pada sebuah meja yang dilapisi taplak bermotif abstrak. Perlahan, ia mengangkat kepalanya yang dibalut sebuah hijab segiempat berbahan Paris yang hampir berantakan.

Lihat selengkapnya