Possesive Twins!

Fiqih Tamir
Chapter #2

Kepergian yang Tidak Dijelaskan

      Beberapa hari kemudian setelah Gito meninggal. Rumah terasa kosong, tidak ada lagi sapaan pagi hari, tidak ada lagi suara langkah kakinya, dan tidak ada lagi tawa kecil yang biasanya datang dari ruang tamu. Udara di rumah terasa dingin dan lebih sunyi dari biasanya.


     Lily berdiri di dapur sambil menatap secangkir teh yang biasanya ia sediakan untuk mendiang ayahnya. Ia tidak meminumnya, tangannya hanya butuh sesuatu untuk dipegang.


***


     Liam duduk di sofa ruang tamu, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya bertaut, matanya menatap kosong ke arah lantai. Tiga hari semenjak kepergian Papa, rumah ini terasa seperti bukan rumah lagi, batinnya.

     Trisha duduk di sudut sofa, memeluk bantal kecilnya. Ia menjadi lebih pendiam semenjak hari pemakaman. Sesekali ia melirik ke arah pintu, seolah ia berharap seseorang masuk melewati pintu tersebut.

     Lily masuk ke ruang tamu sambil membawa secangkir teh yang dibuatnya, "Liam..." panggilnya pelan. Tidak ada jawaban dari Liam.

     "Aku buatkan teh, kalau kamu mau..." ujarnya meletakkan teh tersebut di hadapan Liam. Namun, Liam tidak kunjung menjawab bahkan bergerak.

     Lily menghela napas kecil kemudian duduk di sebelahnya, "minumlah sedikit," pintanya lembut.

     Liam akhirnya bergerak, bukan untuk mengambil teh, tapi untuk menatap Lily dengan sekilas.

     "Mama ke mana?" pertanyaan itu dilontarkan kepada Lily, membuatnya terdiam.

     Sejak pagi, Kathrina tidak terlihat berada di rumah. Awalnya, Lily hanya mengira ibunya pergi keluar sebentar—entah membeli atau mengurus administrasi pemakaman. Namun, waktu sudah menjelang sore dan Kathrina tak kunjung pulang.

     Lily mencoba tenang, "mungkin Mama keluar sebentar, Liam," jawabnya pelan.

     "Sebentar?" ulang Liam dengan tajam, "sedari pagi?"

     Lily kembali diam, suasana ruang tamu kembali sunyi dan tegang. Trisha—si bungsu—menatap mereka dengan gugup, "a-aku ke kamar du-dulu..." gumamnya pelan sebelum berlari kecil meninggalkan ruang tamu.

     Liam berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju kamar orang tuanya. Sesampainya di depan pintu, ia membukanya tanpa ragu, memperlihatkan tempat tidur yang rapi dengan lemari yang terbuka sedikit. Ia melangkah masuk perlahan, matanya kesana kemari melihat isi ruangan—lalu berhenti di depan sebuah meja dengan amplop putih di atasnya.

     Ia menatap amplop itu, terlihat jelas sebuah tulisan bertuliskan Untuk Kalian Bertiga. Jantungnya berdetak cepat, "Lily," nada panggilnya membuat Lily segera datang menghampirinya.

     "Ada apa—" Liam menyerahkan amplop tersebut kepada Lily tanpa memberikan penjelasan.

     "Amplop apa ini?" tanya Lily penasaran.

     Lily kemudian membaca tulisan tersebut, napasnya seketika tertahan. Tangannya gemetar membuka amplop tersebut, ia mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam situ. Lily membacanya dengan diam. Satu baris… dua baris… Napasnya mulai tidak teratur. Tangannya perlahan gemetar hingga kertas itu hampir terjatuh. Beberapa detik berlalu, wajahnya perlahan berubah pucat.

     "Apa isinya?" tanya Liam. Lily tidak langsung menjawab, matanya mulai berkaca-kaca menatap Liam.

     "Lily, ada apa?" tanya Liam sekali lagi.

     "Kita... harus kuat..." gumamnya hampir tidak terdengar.

     Liam merenggut kertas itu dari Lily, ia membaca surat itu dengan cepat. Sangat cepat.


     Liam, Lily, Trisha. Maafkan Mama harus meninggalkan kalian... Jujur, Mama bingung menghadapi kondisi kita sekarang. Mama tidak kuat menahan semuanya, jadi... Mama minta maaf.


Lihat selengkapnya