Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #2

Bagian Satu: Dunia Tanpa Suara

Bagian Satu:

Dunia Tanpa Suara

 

Tempat itu tidak pernah berubah. Ketika mentari menggantung, sekitar pukul 10.00 pagi pada hari Sabtu, truk toko Supermarket Minamigoto selalu singgah di samping taman dekat ceruk. Truk itu menjual beraneka ragam belanjaan. Beragam sayur mayur, makanan siap saji, dan aneka barang dapur dapat ditemukan berjejal menghiasi rak. Biasanya, ibu rumah tangga yang malas berjalan jauh ke jantung kota, atau tidak memiliki waktu luang, akan membeli segala keperluan di sini.

Aku ingat dulu bersama Ayah dan Ibu sering pergi ke taman itu. Sementara Ayah dan Ibu berbelanja, aku bermain bersama anak-anak seumuranku di taman. Jiwa anak-anakku kegirangan, terlebih ketika truk Supermarket Minamigoto memutar lagu ikonik dari Disney yang berjudul "It's a Small World". Senandungnya merdu.

Lalu, tepat ketika pukul 11.00 tiba, selalu melintas sebuah kapal feri. Sinar kuningnya menyilaukan mata dan suara trompetnya menggemakan jiwa. Indah rasanya bila aku berada di atas dek kapal untuk memandangi kota kembar yang berada di pulau ini menjauh perlahan. Apalagi ketika festival kembang api. Beragam warna menghiasi langit di atas kota. Biru, oranye, merah, dan kuning.

Sudah lebih dari 10 tahun, aku sudah SMA sekarang dan tempat itu masih sama indahnya. Hanya saja bagiku, semua itu tinggal denging dan dunia berwarna abu-abu. Aku, kehilangan indra pendengaran dan mataku tak lagi bisa melihat warna selain warna abu-abu.

Duniaku berubah. Dunia tak Lagi sama. Batinku.

Selarik benda asing melintas di atas langit kota, tenggelam ke dalam cakrawala. Intuisiku mengatakan, kalau benda tersebut seharusnya indah dipandang kalau tidak berwarna abu-abu. Sebuah bintang jatuh ya? Warnanya seperti apa ya? pikirku dalam hati.

Halaman buku tertahan. Seseorang mengacungkan jari telunjuknya di antara lembar halaman. Aku menengadahkan pandangan.

Gadis itu memberikan ekspresi yang biasa dia berikan padaku. Senyuman segaris hampir buyar dalam balutan perpaduan warna hitam dan putih.

Guru sudah datang, turunkan bukumu, katanya dalam isyarat, yang kemudian menaikkan buku catatan miliknya.

Maaf, aku terlalu asik membaca.

Kuturunkan buku novel ‘Iblis Pencuri Indra’ karya Rein-sensei ini ke dalam laci meja. Lalu, mengalihkan pandangku ke pria berambut gelombang mirip kapas itu di depan kelas.

Hari ini adalah trisemester pertama di SMA Minamigoto. Seperti biasa, pertemuan pertama dimulai dengan pengenalan. Dimulai dari pria yang sedang tersenyum pada seisi kelas ini. Berikutnya, diikuti oleh anak yang duduk di ujung kanan depan.

Aku tak terlalu mengingat semuanya. Lagi pula aku hanya mengetahui yang dibicarakan ketika Okuda menjelaskan ulang lewat bahasa tangan. Atau lewat pesan singkat di Line.

Apa warna ekspresi orang-orang ini ketika memperkenalkan diri mereka di depan kelas? Bagaimana ekspresi anak itu ketika dia menjelaskan arti nama dan kanjinya? Apakah dengan senyuman? Tawa? Tanpa ekspresi? Hampa? Apa warna rambut cowok tadi? Gadis di sana sedang menunjukkan ekspresi apa di wajahnya? Air muka cowok barusan bagaimana?

Aku tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu, karena bagiku semuanya terlihat sama. Dinding kelas, meja tempatku duduk, buku novel Rein-sensei, hingga ekspresi orang-orang. Semuanya sama. Buyar dalam perpaduan warna hitam dan putih. Bila dimetaforakan, dunia di mataku mirip seperti film bisu. Film lawas putih abu tanpa suara. Dengan garis-garis yang terkadang tidak jelas karena terlalu buram oleh paduan kontras dua warna hitam dan putih.

Tentang warna, rasa, dan suara. Hal-hal barusan adalah sesuatu yang asing di dunia film bisu ini. Sebuah kemewahan yang tidak bisa kumiliki.

Gadis kacamata dengan rambut panjang diikat itu kembali ke tempat duduknya. Kemudian berikutnya, giliran cowok berbahu lebar dan tinggi itu. Cowok itu berdiri di hadapan semua orang. Bibirnya bergerak, berkedut, naik turun dalam denging tidak berkesudahan. Ketika dia tersenyum, denging lagi yang kudengar. Lalu, dia mengakhiri pengenalannya. Seisi kelas memberikan tepuk tangan kebisuan. Lelaki tinggi dan berbahu lebar itu pun berjalan ke tempat duduknya yang berada dua bangku di sebelah kanan tempatku duduk.

Maehara, nama cowok itu. Dia cowok populer. Dia memiliki segudang bakat dalam olahraga. Semua cabang olahraga. Dia juga tampan dan pintar. Setidaknya begitu kata Okuda di belakangku ketika menjelaskan ulang lewat ponselnya.

Sebuah notifikasi mencuat di layar ponsel. Pesan singkat dari Okuda lewat Line.

[Giliranmu].

Aku mengerling seantero kelas. Seisi kelas menaruh tatapan serius ke arahku. Aku pun mengepalkan tangan di atas pangkuan, mengumpulkan keberanian dalam satu tarikan napas lalu bangkit berdiri kemudian mulai menulis di papan tulis:

Takasaki Ruriko, seorang gadis SMA yang menyukai musik. Aku senang sekali bermain musik. Hampir semua alat musik bisa aku mainkan. Spesialisasiku adalah bermain piano. Aku pernah menjadi juara dalam ajang bermain piano ketika duduk di bangku SD. Berbagai lomba lain juga aku ikuti untuk mendukung musikku. Aku bermimpi ingin menjadi musisi terkenal. Seorang pemain piano hebat yang bisa tampil solo piano di teater La Scala, Milan.

Hinggasanya, kejadian itu menimpaku dan mimpiku hanyalah mimpi belaka. Kejadiannya tepat ketika aku kelas dua SMP. Duniaku menjadi seperti ini. Tanpa warna dan tanpa suara.

-Gadis SMA yang kehilangan warna dan suara.

Tanganku berhenti. Aku menarik napas dalam. Kuturunkan kapur ini, lalu berputar. Salam kenal semuanya. Ungkapku menggunakan bahasa isyarat. Aku membungkuk hormat pada seisi kelas.

Tepuk tangan mengisi kelas. Pak Suzuki yang wajahnya tampak agak kalut itu pun ikut memberi tepuk tangan tanpa suara. Memeriahkan drama panggung bisuku.

Lihat selengkapnya