Bagian Dua:
Dunia Tanpa Impian
Napasku menderu, langkah kakiku berderap tergesa-gesa, dan pengejar di belakangku berteriak murka.
"Berhenti!" ketus pengejar kami.
Apa? Apa artinya ini?
"Sini, lewat sini!" seru gadis itu.
Tidak mungkin. Tidak mungkin.
Gadis itu menukik tajam di belokan depan. Berlari secepat angin berhembus. Aku dibawa olehnya, ditarik ulur hampir terjatuh.
Pendengaranku? Apa benar pendengaranku ini?
Pengejar masih mengekor. Tak terlalu jauh. Malah jarak kami semakin terpangkas. Jantungku seolah ingin meledak menyadari jarak kami tinggal beberapa meter lagi. Sementara itu, sang gadis membuat ulah.
"TOLONG! TOLONG! ADA PENCURI! ORANG MESUM! ORANG GILA!!" teriak gadis yang menarik pergelangan tanganku itu.
Ini bukan ilusi. Ini kenyataan. Benar. Ini kenyataan.
Sembari berlari, sembari juga gadis itu membuat kehebohan. Anjing menggonggong karenanya, klakson mobil bergema oleh ulahnya yang nekat menerobos lampu merah, dan deru napasnya semakin terasa seiring dadanya kembang kempis.
Pendengaranku kembali.
Kami memasuki gang kecil, memasuki tangga diapit dua pagar rumah, dan tiba di taman tempat truk Supermarket Minamigoto selalu singgah.
Kejar-kejaran berhenti di situ. Pengejar kami berlari ke arah berlawanan. Kami selamat. Lalu masalah lain muncul.
"Darah! Da-darah!"
Kumelirik ke balik bahu. Gadis yang menarikku itu membeliak. Matanya membola dan tangan kanannya membekap mulut. Sementara itu, pandanganku kian memudar dan perlahan tubuhku lemas. Kualihkan pandanganku ke arah tatapan gadis itu tuju. Aku barulah tersadar, bahwa aku tertusuk pisau. Perlahan aku ambruk.
🌸🌸🌸🌸🌸
Terdengar bunyi tuts piano ditekan. Berdenting-denting lembut nan indah nada-nada yang dihasilkan, seolah membawaku ke sebuah dunia fantasi. Nada-nada itu, terdengar familiar. Nada dasar C# dalam progresi akor minor. Itu lagu Moonlight Sonata.
Kemudian, kurasakan hembusan angin yang berdesir lembut membelai poni rambutku. Aku mengerjap, mengucek mata beberapa kali sebelum akhirnya bangkit berdiri.
Tempat itu, sangat indah. Terlalu cantik. Warna langit biru membentang di atas bangunan berlantai dua itu. Rumah tua dengan halaman dua kali lipat luas bangunannya. Di halaman depan, tampak sebuah piano berdebu yang tengah dimainkan seorang gadis kecil. Jari lentiknya lihai menekan tuts piano, memainkan akor dan melodi. Dia terlalu tenggelam dalam senandung nada, tidak menyadari keberadaanku.
Siapa dia ya? Dan aku sedang berada di mana? batinku.
Sekarang, lagu berganti. Lagu yang satu ini sangat asing di telingaku tidak seperti sebelumnya. Walau begitu, perasaan sang pianis itu entah bagaimana tersampaikan dengan jelas padaku. Perasaan sedih yang mengharu pilu.
“Boleh kutanya sesuatu padamu?” ucap gadis piano itu pada pianonya, atau mungkin padaku. “Kenapa kamu bermain piano?”
“Karena bermain piano itu menyenangkan.”
“Apa benar, bermain piano itu menyenangkan?”
Aku memandang punggung gadis kecil itu dan kedua tanganku bergantian. “Sangat menyenangkan. Kau bisa melihat banyak keindahan warna pada tiap nada yang kamu mainkan. Kau juga bisa merasa ingin tertawa, menangis, marah, takut, dan kecewa hanya dengan memainkan piano. Dia, bisa membawamu ke dunia lain yang hanya kamu yang pahami.”
“Kelihatannya menyenangkan,” nada-nada dari piano itu berdenting melaun. Lagu selesai setelah akor miring dan beberapa melodi pada akor A. “Tapi, kenapa kamu kelihatan tidak senang?” Gadis itu menoleh—
Dan, aku terlonjak bangun. Sebuah dunia berwarna abu-abu menyambut. Kipas yang menggantung di langit-langit dan wajah Ibu yang terbujur lesu di tepian tempat tidur rumah sakit.
Ibu yang terlelap itu tiba-tiba terbangun, menyadari keberadaanku yang baru saja siuman.
Ruri. Ungkap Ibu lewat bahasa isyarat.
Raut wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran. Kemudian, Ibu menceritakan apa yang terjadi. Setelah berhasil lolos dari kejaran, aku tergolek jatuh. Tak sadarkan diri karena kehabisan darah. Rupanya ketika aku menolong gadis itu dari serangan penjahat, aku malah tertusuk pisau. Aku baru menyadarinya ketika sudah lepas dari pengejar.
Tangan Ibu bergerak lebih cepat dari biasanya, aku agak kesulitan memahami bahasa isyarat Ibu. Kurang lebih ini yang beliau katakan. Masih ada yang terasa sakit?
Aku tidak apa-apa. Aku memberikan senyum lebar pada Ibu, guna mengurangi rasa khawatirnya.
Syukurlah Ruri baik-baik saja. Ibu khawatir.
Aku sudah tidak apa-apa ibu. Aku mengulangi kata-kataku lewat bahasa isyarat.
Ibu seketika meraih sesuatu dari kantong belanjaan. Cheesecake stroberi.
Ini? Ibu ini barang mahal aku—
Tidak apa. Ayo habiskan saja. Ibu belikan khusus untuk kesembuhanmu. Ibu tahu Ruri sudah lama tidak makan keik stroberi. Wanita paruh baya itu memberikan senyum tulus yang hangat. Walau demikian, ada kesan memaksa di sana agar aku menuruti keinginannya. Tidak apa-apa Ruri. Soal uang, serahkan saja pada Ibu, yang terpenting adalah kebahagiaan Ruri.
Aku menjawab lewat seulas senyum, meraih potongan segitiga cheesecake strawberry itu. Ibu baca di internet bila kebahagiaan bisa membantu proses penyembuhan. Ini makanlah. Tambah Ibu sementara aku mulai mengunyah.
Rasa kuenya hambar, kataku dalam benak pada potongan segitiga keik stroberi ini. Tentu saja hanya dalam benak, tidak mungkin aku ungkapkan pada Ibu.
Malamnya, waktu kami habiskan bersama. Berbincang tentang sekolah baruku juga tentang beasiswa yang seharusnya digunakan untukku sekolah musik di Tokyo tetap mereka berikan padaku. Dan malam itu, Ibu bersikeras ingin tidur di tepian ranjang, menemaniku.
Aku mengalihkan pandang dari wajah Ibu ke dunia luar jendela berwarna abu-abu.
Kota ini memang tidak pernah berubah, ya? Mereka indah dan juga baik, tapi kejam juga dalam lain sisi.
Dalam kota ini, distrik perumahan dan distrik publik terpisah dalam dua kota kembar yang terhubung oleh jembatan. Kota sebelah selatan dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk. Beberapa ada berjejal toko kelontong dan ruko dan sebuah kuil, tapi pada umumnya dari tepi jembatan, yang terlihat hanya rumah-rumah sampai lereng bukit. Sementara kota sebelah utara, lebih didominasi oleh fasilitas publik. Sekolah yang berada di atas tanjakan curam, rumah sakit di perempatan, pelabuhan dan lain seterusnya menguasai kota utara. Rumahku berada di kota selatan, sekitar satu kilometer dari jembatan.
Kenangan itu pun bergulir merasuki pikiran. Penampilan pertamaku ketika bermain piano di atas panggung dekat jembatan. Sorak penonton membahana, tepuk tangan meriah mengisi sewaktu nada terakhir berhenti. Lalu terdengar bunyi ledakan memekakkan telinga. Penonton seolah menyaksikan penampilan spektakuler. Aku menghentikan permainanku, berpaling ke arah jembatan. Bunga api warna-warni menghiasi langit senja. Lalu, bunga api itu lenyap. Lenyap digantikan cahaya abu-abu yang mengerjap dan denging yang berkepanjangan.
Sebuah kalimat halus membisik ke dalam benakku.
Tadi kusaksikan bintang jatuh, bila aku berharap indraku kembali, apakah duniaku akan hidup? Apakah aku bisa menikmati musik lagi?
Tidak…tidak… tidak boleh berharap. Duniaku tidak mungkin kembali. Dokter sudah jelas-jelas menyatakan hal itu mustahil. Aku seharusnya paham. Kalau mimpiku, hanya mimpi belaka.
Aku mendengus. Kembali pada realita. Pandanganku beralih kepada buku novel Rein-sensei.
Dunia selalu punya aturan tak tertulis yang entah bagaimana secara sepihak orang-orang meyakininya. Aturan seperti, buka tirai jendelamu di pagi hari. Atau, semua anak harus pergi ke sekolah tidak terkecuali. Aturan semacam ini yang memisahkan order dan chaos pada dunia sehingga peradaban manusia berkembang. Di dunia musik, pasti juga ada aturan tidak tertulis yang sama. Bahwasanya, orang yang tidak bisa mendengar, tidak cocok menjadi musisi. Oleh karena itu, dalam dunia tanpa suara ini, sudah sewajarnya aku berhenti bermimpi menjadi musisi. Dan itu sudah hakikatnya.
Cahaya tidak mungkin bisa menjangkau ke dasar samudra, itu sudah hakekatnya.
Pemikiran itu berubah. Tepatnya tiga hari kemudian setelah aku keluar dari rumah sakit, saat aku sudah kembali duduk bersekolah.
Sementara anak-anak lain sibuk bercanda di dalam kelas, aku duduk membaca novel karya Rein-Sensei. "Iblis Pencuri Indra". Halaman demi halaman dibalik. Dan kemudian seseorang menahan tepian atas buku.
Halaman buku tertahan. Aku menoleh ke atas.
Okuda melambai. Ada yang ingin menemuimu.
Dahiku mengerucut. Aku mengerling kelas berwarna abu-abu itu. Sontak Okuda menegaskan lewat catatan ponselnya yang dia tunjukkan padaku. [Gadis yang kamu selamatkan menunggu di luar].