Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #5

[青] : Ao/Biru

[青]

Ao/Biru

 

Dunia tanpa suara menjadi dunia dengan suara, ya?

Sekilas aku membaca isi artikel itu. Dikatakan di sana bahwa ‘jika kau datang dengan hati yang murni, Dewa Gunung Tersembunyi akan menunjukkan mukjizat padamu’.

Entah bagaimana, tulisan itu seolah membesar dan mengerjap seiring berulang kalinya kubaca.

Melalui ini, indraku akan kembali? Batinku pada layar ponsel.

Kalau tidak salah, cerita semacam ini pernah aku lihat. Dalam novel Rein-sensei, Iblis Pencuri Indra, tokoh utama yang kehilangan suaranya bertemu Makhluk Tanpa Wajah yang entah mengapa memiliki suara tokoh utama. Tentu saja tokoh utama murka, suara indah si Makhluk Tanpa Wajah adalah suara miliknya yang hilang. Tokoh utama menginginkan suaranya kembali—sebab hanya suaranyalah yang membuat orang-orang meliriknya—bertekad membunuh Makhluk Tanpa Wajah jika dia tidak akan mengembalikan indra penyuaranya. Makhluk Tanpa Wajah tidak tahu menahu, karena dia baru terlahir ke dunia. Tapi makhluk itu tahu sesuatu. Sebuah tempat di mana keajaiban bisa muncul.

Sesuatu mencuil bahuku. Buru-buru aku menutup layar ponselku kemudian berbalik. Dia Okuda. Okuda berdiri di samping meja, tersenyum. Begitu pula dua gadis yang berdiri di belakangnya.

Mau makan siang bareng? Kata Okuda lewat isyarat, mengangkat tas kain yang biasa digunakan untuk membawa bekal. Okuda menolehkan pandang pada dua gadis di belakangnya.

Aku mengangguk tanda setuju.

Okuda pun menggeser bangkunya, merapatkannya dengan punyaku. Dua gadis yang memiliki wajah mirip itu juga melakukan hal serupa. Mejaku menjadi lebih lapang.

Yang sebelah kiri ini Fujiwara Yuzuki dan yang ini Fujiwara Natsuki, Okuda memperkenalkan mereka padaku sambil menuliskan nama mereka di kertas. Cara membedakannya lihat saja bintik hitam di kerutan matanya. Yang tidak punya tahi lalat itu Yuzuki.

Senang bertemu denganmu, aku Takasaki Ruriko, kataku lewat isyarat, menunjukkan kanji namaku di kertas.

Yuzuki menggoret pena di halaman kosong sebuah buku catatan, kemudian menunjukkan buku catatan itu padaku. Salam kenal Takasaki Ruriko. Dipanggil Ruri-chan saja tidak apa-apa?

Pandanganku bergeser pada Okuda yang sedang berbicara dengan isyarat. Mereka tidak bisa bahasa isyarat.

Sambil mengangguk, sudut bibirku terangkat sedikit. Menunjukkan kalau aku tidak keberatan. Lalu pundak si kembar itu turun. Wajah mereka tampak lebih cerah di meja seberang. Berbeda, raut wajahkulah yang kelihatan agak suram.

Bagaimana kondisimu Ruri? Kamu tidak apa-apa?

Lukanya masih terasa sakit. Agak perih dan terasa berdetak.

Okuda menghela napas, menatapku tajam. Seolah-olah aku baru saja melakukan kejahatan besar. Pelajaran olahraga setelah ini sebaiknya Ruri tidak ikut dulu. Jangan paksakan diri seperti waktu lalu, oke?

Sementara itu, di sisi seberang, si kembar agak heboh. Gerak tangannya dan mulutnya. Okuda menerjemahkan ucapan mereka padaku.

Mereka bilang semangat.

Yuzuki dan Natsuki memberi dua jempol. Yang mana Yuzuki, yang mana Natsuki, tidak bisa aku bedakan. Bintik hitam di kerutan mata itu tidak terlihat dalam gradasi duniaku.

Aku mengangguk singkat saja. Kemudian, membuka ikatan pita dari kain bercorak kotak-kotak. Isi dari bekal makan siangku tidak semewah luarnya. Sandwich isi yang dibeli dari supermarket dekat pelabuhan.

Sudah memutuskan bakal gabung ekskul mana? Tanya Okuda tiba-tiba.

Masih belum kuputuskan.

Tidak jadi dengan klub kaligrafinya?

Tulisanku tidaklah bagus.

Segera putuskan, demo ekskul tidak akan berlangsung selamanya. Kata Okuda lewat isyarat, menjumput nasi daging cincang tiga warnanya menggunakan sumpit.

Aku hanya menanggapi kata-katanya lewat keheningan.

Padahal hanya memilih ekskul, tapi entah mengapa hatiku begitu ragu untuk memutuskan. Dulu aku pasti akan langsung memilih klub musik, atau klub yang dekat dengan musik. Tapi sekarang, rasanya lain. Meski Hyūga tergabung dalam klub musik pun, rasanya ada yang salah bila aku daftar klub musik. Seperti ada yang berada tidak pada tempatnya, padahal tidak ada yang berkata demikian padaku.

Kosong, gumamku pada sandwich isi yang berada di tanganku.

Sudah hampir dua tahun aku hidup dalam kehampaan ini, aku masih belum terbiasa dengan lidah yang tak bisa mengenal rasa. Semua makanan dan minuman yang masuk ke mulutku terasa kosong seperti memakan udara. Rasa manis, pahit, asin, dan asam tidak ubahnya, mereka sama saja di mulutku ini. Tidak ada bedanya. Pun tekstur makanannya. Lidah ini sudah berhenti bertugas mengirimkan sinyal ke otak.

Bila warna dan suara kembali ketika berada dekatnya, apakah rasa juga akan kembali? Tanyaku seorang diri sambil membuat gigitan besar pada roti itu.

Bicara soal Hyūga, pagi tadi gadis itu menungguku. Dia berdiri cukup lama, menyandar pada pagar sekolah hanya untuk menunjukkan artikel itu.

Senyum gadis itu membuatku gugup.

“Bagaimana menurutmu, Ruri? Apakah jantungmu berdebar-debar hebat mendengar ini?”

Mengejutkan, sampai aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Reaksi macam apa itu? Kau tampak seolah tidak peduli.”

Dia terkekeh. Tawanya ekspresif sekali.

Lalu, kami pun berjalan bersisian memasuki kompleks sekolah. Terjadi sedikit percakapan di depan loker siswi.

Jadi, apa yang kita lakukan mulai sekarang?

“Hm... Mungkin kita cari tahu dahulu siapa penulis artikel tersebut. Darimana datangnya. Siapa yang memulainya. Tempatnya di mana, dan seterusnya.”

Hyūga berkata demikian sembari mengganti sepatu luar ruangan dengan uwabaki.

Kedengarannya sulit, ucapanku lewat isyarat.

“Tentu saja akan sulit, habisnya tidak ada yang mudah di dunia ini. Semua pasti perlu perjuangan.” Gadis itu berhenti di hadapanku, berputar anggun. Tubuhnya mencondong ke padaku. “Tenang saja, serahkan saja semua padaku. Baiklah, kita berpisah di sini, Ruri, bye!”

Terdengar bel mengalun halus. Dan aku dan gadis itu berpisah di lorong kelas. Dia membawa dunia intraspasialnya ke lantai atas. Warna abu mulai mengisi ketidakhadiran intraspasialnya.

Lihat selengkapnya