Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #10

[泣く]: Naku/Ingin Menangis 1

[泣く]

Naku/Ingin Menangis 1

 

Tanganku meraba-raba dinding, mencari-cari saklar lampu yang entah kenapa sulit dicari. Cahaya putih pun mengerjap bersinar di atas kepala, menerangi ruang keluarga yang besarnya tidak seberapa. Di bawah cahaya lampu bohlam tidak stabil itu, tujuh kaleng minuman berenergi teronggok tersebar pada lantai dan meja di dekat sofa. Sementara di atas sofa itu sendiri, sesosok wanita paruh baya terbaring lesu. Matanya memejam, tersembunyi setengah di balik punggung tangan kanannya.

Aku melangkah pelan menghampiri wanita itu, melepaskan blazer seragam sekolahku untuk mengubahnya menjadi selimut. Membentangkannya. Untuk menghangatkan tubuh Ibu yang kelelahan agar tidak demam. Tangan wanita itu pun bergerak lemah. Dadanya menurun laun.

Di sini aku, duduk di lantai. Menepikan pipiku ke sofa. Agar bisa menatap wajah Ibu lebih dekat.

Sebuah rasa aneh bergejolak di dalam hati. Rasa yang bila dideskripsikan seperti terdapat api kecil di sana, hatiku. Yang bila berlama-lama dibiarkan, akan menyebarkan api serupa ke seluruh tubuh lewat aliran darah. Hingga api itu berakhir di mata. Dan entah mengapa, mataku jadi terasa panas. Pandanganku berkilauan oleh berlian. Aku mengerjap, menggosok mata untuk melepaskan energi negatif ini. Memang pandanganku sudah kembali semula, sudah sama. Namun terasa tidak sama.

Aku paham betul kondisi yang sedang kami berdua hadapi. Ekonomi keluargaku sedang tidak baik-baik saja. Sementara dunia semakin tidak baik-baik saja. Belakangan aku sering mendengar berita harga bahan baku terus naik. Harga beras mulai merangkak naik. Bensin ikut pula naik. Tapi begitu, pendapatan Ibu tidak bertambah. Beruntung sehari-hari perut kami masih bisa terisi sebab memiliki tambahan pendapatan dari beasiswa yang seharusnya digunakan untukku sekolah musik di Tokyo. Yang jadi masalah adalah utang Ayah. Utang satu juta Yen itu bagaimana Ibu bisa membayarnya?

Karena aku semua jadi seperti ini, gumamku dalam benak.

Ketika coba menempelkan tanganku pada dahinya yang sedikit terdapat kerutan itu, bola mata berwarna hazel itu mengerjap. Ibu terbangun dengan matanya yang masih setengah sadar. Pandangan kami tak sengaja saling bertaut.

Aku menggerakkan tanganku di udara. Selamat pagi Ibu

Setengah badan wanita itu terbangkit seketika. Blazer yang kugunakan untuk menyelimutinya menggelosor turun. Mata nanar setengah sadar itu kembali menjadi hangat seperti musim semi selepas salju mengering. Apakah jam segini cocok disebut pagi, ya? Katanya lewat isyarat. Bergegas Ibu bangkit berdiri mengumpulkan kesadarannya yang masih terpecah.

Kedua tangan ini sedikit tertahan, namun aku tetap mengungkapkannya.

Ucapan selamat pagi menurutku bagus untuk memulai hari. Kalau cocok untuk memulai hari, maka cocok juga kalau menjadi kalimat pertama pembuka hari baru ketika pertama bertemu meski saat itu sudah bukan pagi lagi.

Beberapa saat Ibu berdiri diam memandang langit-langit. Lalu terkikik bisu. Mungkin ada benarnya juga, ya.

Kata-kataku barusan adalah kata-kata dari Ayah. Ayah sangat senang mengatakan ‘selamat pagi’ walau hari itu sudah tidak pagi. Alasannya adalah seperti yang sudah kukatakan. ‘Selamat pagi’ cocok untuk memulai hari. Dan baginya, saat memulai sesuatu yang baru, harinya akan diulang menjadi pagi bergelora lagi. Sebaliknya, bila tidak memulai sesuatu, harinya akan selalu malam, menanti mentari datang. Budaya yang aneh, tapi kami senang melakukannya.

Ibu beranjak menuju dapur. Memasakkan sesuatu untuk kami makan malam. Aku di sisinya, bantu membersihkan bahan-bahan masakan. Cuman itu yang bisa kulakukan, aku tidak bisa memasak. Sama sekali tidak bisa. Meksi aku anak perempuan, dapur bagiku adalah planet asing. Segalanya terasa aneh.

Hari itu pun kami makan malam agak cepat. Terlalu cepat. Pukul 18.00. Karena pagi dan malam sebelumnya kami tidak bertemu. Jadi seperti inilah yang dilakukan untuk melepas rindu.

Tidak terjadi percakapan di atas meja ini selama beberapa waktu. Dan, tahu-tahu sepasang piring tergeletak kosong di atas meja. Juga dua gelas kaca di sampingnya. Meski saling diam, aku paham Ibu ingin mengatakan sesuatu padaku. Tatapannya walau ada kehangantan di sana, tapi terkesan serius. Yang mana membuatku sedikit gugup.

Tangannya bergerak di udara. Dalam ritmis berantakan. Pun matanya, berubah sesaat. Aku tidak paham apa yang ingin Ibu katakan.

Ibu menggeleng, memperbaiki gerak tangannya di udara. Bagaimana sekolahnya, Ruri? Tanya Ibu, tatapannya tiba-tiba berubah hangat seperti tatapan Ibu yang kukenal.

Aku menceritakan pada Ibu tentang gadis aneh itu. Tingkahnya yang nyentrik, hingga sifat egoisnya. Kelihatannya Ibu sedikit menyukai Hyūga, dilihat dari caranya mendengar ceritaku. Tawa kecilnya membuat perasaan aneh barusan lenyap menguar di udara. 

Aku berencana mendaftar Klub Filmaker. Selasa depan aku resmi menjadi anggota. Tanganku berhenti bergerak sesaat di udara. Aku menambahkan senyuman dalam kalimat berikutnya. Nilai akademikku aku rasa akan cukup untuk masuk rangking satu seangkatan. Dengan begitu beasiswanya akan aman.

Benarkah? Bagus kalau begitu. Selamat ya, Ruri. Ibu senang melihat Ruri senang.

Ya.

Dialog terhenti sebentar. Kami saling menebar senyum kepada satu sama lain. Saling coba mengertikan lewat jendela jiwa.

Ibu menangkupkan tangan depan piring, bangkit. Pergi kembali ke ruang belakang, mencuci piring. Sementaranya aku masih duduk diam, mengalihkan pandang ke arah lain.

Dari hati kecilku terdalam, terdapat kegelisahan yang tidak mampu aku deskripsikan. Kalau boleh bilang, mungkin semacam firasat. Aku punya firasat aneh, kalau ada sesuatu yang disembunyikan Ibu dariku.

Perasaan aneh itu muncul lagi ketika aku memandangi punggung Ibu yang kian mengecil.

🌸🌸🌸🌸🌸

Siang esoknya terjadi sedikit kehebohan di ruang Klub Filmaker.

“Selamat Datang Ruriko!”

Begitu sahut semua orang. Yang mana diikuti dengan suara ledakan dari coffetti popper. Berguguran meliuk turun butiran-butiran kertas warna di udara. Memeriahkan ruangan yang semula sudah meriah oleh tempelan kertas origami yang dibentuk lucu nan imut dan balon warna membentuk nama ‘Ruriko’.

Tidak tahu bagaimana harus bereaksi, aku hanya diam saja, mengerjap-ngerjapkan mata. Untungnya ada salah satu dari mereka yang menjelaskan kondisi ini. Seorang cowok kacamata rambut acak-acakan.

"Kami selalu menyambut kedatangan anggota baru dengan pesta kecil semacam ini. Maaf bila membuatmu tidak nyaman," Tampang laki-laki itu agak konyol berkat topi kerucut warna merah yang menempel di atas kepalanya itu. “Oh, ya, kau boleh memanggilku Tatsuya. Dan selamat datang di Klub Filmaker. Aku yang menulis artikel itu.”

Lihat selengkapnya