[泣く]
Naku/Ingin Menangis 2
Terdengarnya bunyi nada-nada yang membentuk melodi emosional dalam ritmis yang stabil. Naik dan turun. Berulang. Melodi dan progresi akordnya sangat khas. Rasa khas dari lagu-lagu era baroque.
Jemariku makin menari lihai menekan tuts piano. Nada-nada meledak di udara. Melepaskan rasa-rasa yang beragam. Not penuh warna biru memberi rasa tenang. Not setengah penuh warna merah memberikan rasa senang. Hitam setengah penuh memberi rasa takut. Dan seterusnya… dan seterusnya. Dan seterusnya.
Orang-orang bersorak ria mendengar penampilanku. Binatang-binatang menari. Bintang-bintang mengerjap dan melayang berpusar-pusar. Bunga sakura berguguran di sekitar piano Steinsway & Sons ini. Aku merasa seperti di pusat alam semesta. Bagaikan gaya gravitasional besar dari pusat galaksi milkyway menyatukan ribuan bintang-bintang, di sini, laguku menyatukan semua kehidupan.
“Permainanmu payah. Lebih baik kau gunakan tanganmu untuk membantu ibumu bodoh.”
Tiba-tiba alunan nada itu berantakan. Berhambur memelesat-lesat ke udara. Sebuah pusaran nada tidak beraturan yang saling menghilangkan. Lebih parah dari interferensi destruktif.
Aku menahan tanganku di udara, kakiku juga tertahan di atas pedal.
Sebuah bayangan objek raksasa berwarna putih pudar menggema di permukaan air. Di dekatnya, seorang gadis berdiri setengah menjulurkan tubuh keluar jendela kamar.
“Permainanmu jelek. Buruk sekali!”
“Maaf?”
“Lebih baik kau gunakan tanganmu untuk membantu ibumu bodoh.”
“Maaf, apa maksudmu? Bisa diperjelas, aku tidak paham maksudmu?” tanyaku pada si gadis.
“Lihat, bahkan kau sendiri tidak tahu apa yang salah pada musikmu!” tawanya terdengar jahat. “Persis berwisata mengikuti buku panduan. MEMBOSANKAN!”
Kata-katanya menggeletar bagai guntur. Menyengat diriku hingga gosong. Aku pun tiba-tiba terlonjak bangun.
Mimpi Pianis Misterius itu lagi, ada apa dengannya hingga berubah jahat seperti itu?
Perasaan menggigil yang merambat di kaki membangunkan tidur nyenyakku ini. Jam ponselku memberitahukan sekarang masih pukul 01.00 malam. Napasku menghembus panjang tidak karuan ketika melihat bawahanku. Seragam sekolah.
Benar juga. Salahku sendiri, karena terlalu malas mengganti baju sehingga bangun tengah malam.
Pemikiran itu terus berulang bagai piringan usang. Kejadian tadi di ruang musik. Permainanku payah sekali.
Kenapa musikku tidak seperti biasanya? Aku tidak mungkin melakukan kesalahan begitu, apalagi yang kumainkan lagunya Chopin. Sudah ratusan hingga ribuan kali aku memainkannya, baik secara langsung atau secara tidak langsung di kepalaku. Kenapa, ya?
Lalu aku pun sudah mengganti bajuku dengan lebih layak. Karena kebetulan aku juga ingin ke kamar mandi, jadi aku memutuskan untuk turun ke lantai satu. Dan, malah menemukan Ibu terkapar tak berdaya di sofa ruang keluarga. Sikunya ditaruh menutup separuh wajahnya yang tampak pucat. Dadanya kembang kempis teramat lemah.
Kapan Ibu pulang?
Mungkin Ibu baru saja pulang, mungkin juga sudah di rumah sedari tadi. Ini karena aku tuli. Aku tidak bisa tahu kalau ada orang yang datang.
Ketika melihat Ibu seperti ini, terkulai lesu di atas sofa, aku jadi ingin duniaku kembali berwarna abu-abu. Karena dengan duniaku hanya berupa warna hitam putih, aku tidak akan bisa melihat garis-garis warna ekspresi Ibu yang kelelahan oleh derita dunia.
Segera hatiku tergerak untuk melakukan sesuatu. Dan aku memang melakukan sesuatu. Membawakan sepasang selimut. Membentangkan selimut menutupi tubuhnya yang masih dibalut jas kerja. Lalu, menyelimuti diriku sendiri dengan selimut satunya. Menempelkan pipi di tepian sofa.
Aku memutuskan akan bersamanya. Aku akan menjaga Ibu malam ini.
Mataku terasa agak panas tapi anehnya mata ini juga terasa basah. Begitu pula kondisi hatiku. Terasa panas menyeruak, namun juga dingin merambat.
Perasaan asing ini lagi. Apa nama dari perasaan ini?
Pikiranku coba mencari jawaban dari pertanyaan itu agar pemilik tubuh tahu apa yang sedang melanda hatinya. Beribu kemungkinan telah dia tempuh untuk menemukan jawabannya. Tapi tidak pernah berhasil. Pandangan ini lebih dahulu terhalangi bayang-bayang hitam. Aku pun tertidur. Kali itu, si Pianis Misterius tidak muncul dalam mimpiku.
🌸🌸🌸🌸🌸
Di keesokan harinya, suasana di sekolah sedikit berbeda. Ketika aku coba mengeluarkan uwabaki dari loker, terasa ada beberapa tatap mata yang tertuju padaku. Saat aku di kelas pun, tatapan itu masih ada. Waktu aku mengembalikan ponsel yang tertinggal di ruang musik itu ke pemilik aslinya, juga tetap ada. Tatapan menelisik itu.
Aku tidak terlalu mempedulikannya. Aku tidak bisa mendengar. Apa-apa yang mereka katakan, aku tidak mungkin bisa tahu bila mereka tidak mau membuka jendela jiwa mereka padaku. Aku, cuman bisa berharap saja.
Semoga apa yang mereka katakan bukan sesuatu yang terkait denganku.