[笑う]
Warau/Ingin Tertawa 2
Pagi itu, aku terbangun dengan kondisi kepala pening mau pecah sebab ditekan oleh piston satu ton. Aku memaksakan tubuhku bangkit. Terduduk setengah sadar menekuri layar ponselku, hanya untuk mendapati sebuah notifikasi pesan masuk dari Hyūga. Sudut bibirku naik 20 derajat. Beban di kepalaku itu lenyap. Pistonnya menghilang. Sebuah perasaan hangat memercik, yang lama-lama menyeruak menyebar dari hati menuju seluruh anggota tubuh. Hormon adrenalin terpacu hebat. Kedua tangan dan kakiku seolah ingin bergerak tidak henti, mengayun, memutar pada poros, meliuk anggun, menari. Dan, aku memang menari selihai seelegan grup idola di Tokyo. Menyenandungkan melodi Waltz in A minor.
Dunia berhenti berputar. Tersadar sesuatu, aku mengambil lompat setengah langkah, meraih seragam sekolah yang tergantung di dinding kamar. Mengenakannya, kemudian lekas turun ke lantai satu untuk memberi senyuman paling menawan paling cerah di hari itu. Lalu berkata selamat pagi pada sosok yang sangat aku sayangi, Ibu.
Perempuan itu terkejut. Mengerjap. Membelalak. Seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak ada pada tempatnya, tapi malah ada dan hal itu mengejutkannya sebab puzzle salah tempat ini entah bagaimana begitu cocok dan indah untuk sebuah mozaik yang menggambarkan seorang gadis rambut panjang bermata biru laut.
Aku duduk di kursi. Menangkupkan tangan, berdoa pada pencipta alam.
Kira-kira hari ini apa yang akan terjadi, ya? Aku tidak sabar menunggu....
Di depan pintu pagar rumahku, aku bertemu dengannya. Gadis yang memiliki ragam rasa. Dia setengah menaiki sepedanya, menatapku. Dunia dengan suara mendekat. Gadis itu berujar
“Selamat pagi, senyumanmu sangat lebar hari ini.”
“Ya..aa... kah? (ya, kah?)”
“Benar,” jempolnya menarik sudut bibirku naik, “senyumannya kurang lebih seperti ini.”
Bukannya itu terlalu lebar
Tangannya turun. Senyummnya muncul. “Memang, makanya aku menambahkan kata ‘sangat’ di depannya.”
Aku pikir, kata-kata gadis ini ada benarnya. Karena saat ini aku sedang ingin tertawa dan tersenyum selebar-lebarnya pada kucing hitam kebetulan melompat, pada pagar sekolah, pada teman sekelasku, pada ukiran kapas di langit, pada langit kota itu sendiri, dan pada angin mati musim panas. Pada dunia.
Bergelimpahan nada-nada mengintari seisi bumi dan tata suryanya. Nada-nada yang menyilau-nyilaukan sebuah warna biru dan merah. Mereka-mereka yang ceria di tangga nada mayor. Berdenting-dentingan mereka, menari. Memanggilku lewat lagu Mirror Tune.
Tergerak aku bangkit apalagi setelah gadis bernama Hyūga Akari itu menebar senyum usil nan liciknya ketika di kelas. Ingin menari? Kata-katanya lembut merasuki jiwa luar tubuh. Dia mendorong kursi menjauh, menarikku naik ke atas meja. Berputar bersama dalam pusaran delapan garis harmoni Mirror Tune.
Lalu timbul perasaan gelap, redup, dan sesak tenggelam dalam air.
Aku tersentak bangkit dari dudukku. Tetiba saja, Okuda, si kembar, Maehara, pun guru bernama Reiko-sensei itu. Mereka melemparkan tatapan heran padaku.
Segera aku membungkuk hormat. Kembali duduk di kursiku. Tanpa suara.