[驚く]
Odoroku/Ketakutan 1
Ibu, cuman rata-rata. Tidak ada yang spesial darinya. Ibu tidak pintar-pintar amat, dia juga tidak cantik-cantik amat. Satu hal yang mungkin menjadi kekuatan Ibu adalah bagaimana dia benar-benar mencintai sehingga sangat berusaha keras demi aku. Aku yakin, hal ini mungkin bukan sesuatu yang spesial juga, karena sudah sewajarnya seorang Ibu begitu mencintai anaknya—darah dagingnya sendiri. Kecuali jika pada era modern sekarang hal semacam ini menjadi langka, maka itu menjadi spesial.
Ibu hanya lulusan SMA dengan nilai yang biasa-biasa saja. Aku yakin, Ibu berpikir jika sekolah tinggi-tinggi pun tidak akan banyak mengubahnya, sebab pada akhirnya Ibu hanya akan kembali ke pulau dan bekerja di ladang atau menjadi buruh kasar lainnya. Dan memang itu yang terjadi. Satu setengah tahun kuliah jurusan ilmu sosial, Ibu memutuskan kembali ke pulau untuk mengurus Nenek setelah mendengar kematian kakek.
Nenek dan Kakek dari keluarga Ibu keduanya anak tunggal, sementara Nenek memiliki penyakit langka dari mutasi kromosom tujuh yang membuat intelektual tidak bekerja sebaik orang normal dan memiliki kepribadian tidak biasa—selalu melihat dunia lewat sisi baiknya saja, percaya pada siapapun termasuk orang jahat, kadang kala bersikap kenak-kanakan, serta mudah marah pada sesuatu yang berisik. Hal ini menyebabkan Nenek tidak bisa hidup mandiri. Dengan demikian tidak ada yang bisa merawat Nenek selain Ibu. Keputusan yang tepat kembali ke pulau, begitu aku yakin pemikiran Ibu waktu itu.
Walau Ibu tidak pernah menceritakan banyak padaku kehidupan mereka berdua selang waktu itu, aku bisa tahu bagaimana kehidupan mereka, keseharian mereka.
Satu hari Nenek melakukan tindakan kanak-kanaknya di rumah, bermain-main dengan anjing peliharannya hingga membuat rumah berantakan. Lalu setelah Ibu kembali dari toko, melihat semua kekacauan yang dibuat Nenek, Ibu marah. Dan, berikutnya Nenek menyesal. Lalu mereka pun menyesal bersama.
“Jangan terlalu kelelahan Mama, biar Misaki saja yang masak makan malam hari ini,” kata Ibu satu waktu. “Mama sudah tua, tulang-tulang Mama sudah tidak sekuat dulu.”
Nenek pasti akan menjawab, “Maafkan saya, terus merepotkanmu. Saya merasa malu sekali dengan diri saya.”
Yang Ibu katakan adalah, “Tidak apa Ma.”
“Sungguh, saya menyesal tidak bisa banyak membantumu Misaki.”
“Mama sudah cukup membantu Misaki kok dengan merajut baju-baju itu. Mereka lumayan terjual di Nagasaki.”
“Sekali lagi, maafkan saya, Misaki.”
Ibu pun memeluk Nenek yang kelihatan rapuh itu. “Tidak apa-apa, kita cuman punya satu sama lain, jadi saling membantu walau sekecil apapun itu sangat berarti.”
Entah bagaimana, mereka bedua bisa bertahan hidup seperti itu.
Ibu paham kondisi Nenek. Ibu juga tahu kapabilitas Ibu seperti apa, sehingga yang bisa Ibu lakukan hanya mengandalkan sesuatu yang pasti melekat pada setiap manusia, nilai kemanusiaan. Kasih sayang, cinta, dan kebaikan.
Aku juga merasakannya sendiri, bagaimana kasih sayang Ibu padaku. Rela mengganti pekerjaan, rela menjadi budak korporat, rela mengambil banyak kerjaan, cuman buat membelikanku piano baru, cuman buat aku terus bermain piano.
Ketika orang-orang mencibirnya karena tidak pernah ada darah musisi di keluarga Takasaki, tatkala orang-orang mengatakan sesuatau tentang keburukan keluarga Takasaki, bahkan ketika orang-orang berkata-kata tentangku—menganggapku sebagai anak aneh, Ibu tidak pernah berhenti mendukungku.
“Yah, bagaimana lagi, habisnya dia keturunan wanita itu.”
“Maklumi saja, setidaknya dia tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang-orang.”
“Biarkan saja dia, dia memang aneh.”
Respon Ibu pada orang-orang ini hanya satu.
“Ruri adalah anak yang luar biasa, saya yakin Ruri akan menjadi musisi hebat.”
Kegigihannya setidaknya membuahkan hasil. Ia berhasil meyakinkan orang-orang kalau aku memang bisa.
Ibu melakukan segalanya demi mimpiku. Demi aku. Seharusnya aku menyadari hal ini. Aku terlalu egois dengan mimpiku sehingga melupakan Ibu. Kalau saja aku memutuskan untuk melupakan mimpiku menjadi pianis, semua tidak akan berakhir seperti ini. Ayah meninggalkan Ibu, hutang satu juta Yen itu, dan sekarang stroke.
Seharusnya aku bisa membantu pekerjaan Ibu, walau hanya sekedar pekerjaan rumah saja.
Mengapa hal semacam ini tidak kulakukan? Sebelum bertemu Hyūga, pandanganku terlalu sempit.
Tatapan mataku masih belum bisa berpaling dari wanita paruh baya yang terbujur lesu di atas ranjang. Tidak ada sedikitpun gerakan muncul darinya dan kelihatan tidak mungkin ada. Tapi, aku tetap mengharapkan gerakan kecil baik dari bulu matanya menggeletar atau jemari tangannya mengangkat. Karena gerakan sekecil itu menandakan Ibu masih bisa bangkit lagi dan memelukku kemudian hari.