Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #15

[驚く]: Odoroku/Ketakutan 2

[驚く]

Odoroku/Ketakutan 2

 

Terdengar suara denting piano bergaung di atas permukaan air. Nada-nada yang dihasilkan sang pianis terasa hidup. Namun, hidup bukan berarti baik. Nada-nadanya ini hidup untuk memberikan sebuah kesedihan yang dibalut kesenangan. Aneh, tapi nyata. Merabai jiwaku dalam balutan kisah duka lara penuh kepalsuan. Keajaiban kunci mayor yang dimainkan sedemikian rupa sehingga terdengar sedih.

Aku pun bangkit, menoleh ke arah sumber suara.

“Apa aku bilang? Kau hanya orang bodoh. Mengikuti sesuatu yang hanya menyakitimu. Daripada buang-buang waktu main piano, kau seharusnya bisa membantu Ibu.”

Padahal aku cuman ingin main piano

Dia menghela napas, kemudian melanjutkan kata-katanya sambil bermain piano. “’Padahal aku cuman ingin main piano’, pasti itu kalimatmu, piano adalah bagian darimu dan dia tidak bisa lepas darimu.”

Aku cuman diam saja memandangi wajahku dalam air. Perkataannya tidak salah, aku memang sempat berpikir seperti itu. Selain dari piano dan gadis benarma Hyūga Akari itu, tidak banyak yang bisa membuatku ‘merasa ada’ di dunia.

Bayangan rembulan bersinar putih di permukaan air tempat kedua kakiku menapak. Permukaan air ini menggema laun mengikuti irama lagu. Menyebabkan wajahku di permukaan membuyar dalam gelombang air. Si gadis piano ini masih belum selesai mengata-ngataiku.

“Tapi lihat dirimu sekarang, bahkan main Nocturne saja tidak bisa, putus-putus tengah jalan. Tidak sesuai ketukan. Tempo yang salah. Nada yang melenceng. Apa yang bakalan kau lakukan kalau saja lagu yang dimintai juri adalah Winter Wind? Bukan lagi musik yang kau tampilkan melainkan sirkus.” Dia tertawa. Tawa jahat.

“Kau benar, aku seharusnya mendengarkanmu. Sekarang aku harus apa?”

Gadis itu mengabaikanku. Kembali sibuk berpiano. Gadis itu tiba-tiba mengobrak-obrak nada rendah dan tinggi kencang bersamaan, meledak-ledakkan nada-nada hitam kelam. Tercipta efek suara menegangkan beberapa jenak.

Berpianonya selesai. Dia menoleh. “Di dunia ini, masing-masing orang memiliki peran sendiri. Tidak mungkin semua orang bisa menjadi arsitek karena kita juga membutuhkan pedagang dan petani untuk menompang roda kehidupan. Tidak mungkin juga semua orang menjadi pedagang, nanti siapa yang jadi pembeli dan raja? Peran-peran ini harus ada sehingga tercipta sebuah keteraturan. Maka dari itu, sebagai orang yang tidak mampu mendengar, apa yang harus kau lakukan adalah memerankan peranmu sebagai orang yang tidak mampu mendengar.”

Kata-katanya memang menyakitkan. Seolah sengaja dia lontarkan agar membuatku terluka. Namun begitu, terdapat pula kebenaran di dalamnya. Terdapat aturan tidak tertulis di dunia ini.

“Peran orang yang tidak mampu mendengar?” gumamku pada bayanganku.

“Berhenti main piano. Piano tidak ada gunanya lagi bagimu yang tuli. Piano tidak pernah berbohong. Dia tidak membutuhkanmu lagi, begitu pula dirimu. Kau sudah mengecewakannya. Musikmu sudah rusak. Sekarang lebih baik gunakan waktumu itu untuk bisa berguna pada yang lain.”

Berguna pada yang lain, ya?

Benar juga, sejak kapan aku pernah berguna pada yang lain? Semua yang kulakukan, berakhir merusak. Ayah dan Ibu berpisah karena aku. Ibu sakit karena aku. Okuda pernah aku buat sedih lewat musikku. Orang-orang tidak pernah menyukaiku. Benar, semua karena aku. Musikku hanya mampu merusak—

Sesuatu menimpa kepalaku. Mimpi itu terputus. Aku terlonjak bangun. Lagi-lagi, aku terbangun di dalam kelas. Dimarahi oleh guru baru itu lagi. Reiko-sensei.

Setelah pelajaran, tolong temui saya di ruang konseling.

Aku pun meminta maaf dengan benar. Lalu, duduk kembali di bangkuku.

Kelas dimulai lagi. Kali ini aku memusatkan perhatian pada catatan Okuda yang sengaja dia tuliskan untukku paham apa yang dibicarakan Reiko-sensei dan pada Reiko-sensei yang menulis di papan tulis. Meski aku lebih serius untuk belajar sekarang, pikiranku tidak mau terpusat ke dalam kelas ini.

Kata-kata gadis piano itu sangatlah jahat. Tapi, aku tahu kata-katanya mengandung kebenaran. Paling tidak separuhnya. Yang artinya, aku harus hidup dalam peranku yang seharusnya. Sebagai orang cacat.

Aku benci ini

Okuda berhenti menggoret pena di kertas. Mengangsurkan bukunya.

Kamu tidak apa-apa? Tertulis miring di pojok bawah halaman buku.

Tidak apa-apa. Jawabku di halaman pojok seberangnya.

Seusai kelas, tatapan-tatapan itu muncul lagi. Tatapan tidak menyenangkan beberapa hari lalu. Kali ini lebih tidak menyenangkan sebab disertai tatapan ‘kasihan’. Seisi kelas pasti sudah mendengar apa yang terjadi kemarin. Semua orang merasa tahu perasaanku melebihi aku sendiri.

Aku benci ini...

Di dalam ruang konseling, guru muda itu sudah menantiku. Dia sudah menungguku sambil meminum teh. Aku menghampirinya malas-malas.

Reiko-sensei tersenyum padaku, menaruh cangkir kosongnya di meja. Punggungnya berdiri.

Kamu kelihatan sulit fokus di kelas.

Aku menangguk.

Ibu tahu belakangan ini adalah hari-hari berat bagimu, tapi bukan berarti kamu boleh seenaknya tidur di kelas begitu. Ibu tidak bisa memperlakukan salah satu murid ibu dengan spesial, itu bisa memberi contoh buruk untuk anak lain. Kamu setuju kan?

Bibirku bergerak, mulutku berbicara tanpa suara. “Maaf.” Membungkuk hormat.

Saya tidak akan memberi hukuman. Hanya saja jangan diulangi lagi. Nah, sekarang apa ada yang ingin kamu disampaikan padaku?

Lihat selengkapnya