[怒る]
Okoru/Ingin marah 1
Semenjak hari itu, musim panas yang kukenal berubah. Setiap aku bangun pagi, yang menyapaku pertama kali dengan ucapan selamat paginya itu bukan lagi sesosok wanita paruh baya bertubuh semampai dan bertatapan hangat, namun seorang pria usia akhir 30-an dengan kemeja putih dan tatapan ramah dibuat-buat yang berdiri di depan pintu rumahku. Dia datang tiap jam 7 pagi. Untuk mengurusku.
Semerbak aroma masakan dari arah dapur kecil belakang ruang keluarga menggelitik masuk melalui lubang hidung, sebuah kejanggalan. Aroma yang masakan lezat yang tidak pernah kukenal. Gyoza? Kare? Nabe? Tamagoyaki? Tidak, rupanya itu cuman kare, kare yang berbeda dalam kenanganku. Lebih janggal lagi, yang tertampil pada TV bukan lagi acara masak-memasak, atau variety show komedi, melainkan berita politik terkini soal imigran. Dan, yang menantiku di ruang keluarga selepas pulang sekolah, adalah bingkisan makanan yang ditempeli nota. Kadang juga bahasa isyarat pria bernama Hiro-kun itu. Bukan senyuman hangat dari seorang wanita canggung kikuk yang sering kelupaan sesuatu.
Aku menutup pintu di belakangku. Kemudian melepaskan sepatu. Ketika pria itu datang menyambutku dengan senyumannya yang dipaksa dibuat ramah.
Okaeri, katanya lewat isyarat
Rumah yang adalah rumah, bukan lagi terasa sebagai rumah. Dia jadi orang asing. Meskipun berada dalam ruang dan waktu yang sama, tapi dalam sisi lain tempat itu sudah terasa berbeda. Ibu tidak ada di sini. Yang ada adalah orang asing yang baru kulihat wajahnya beberapa hari yang lalu. Dua kali dalam setiap harinya, aku terpaksa melihat wajah itu.
Tidak hanya rumah. Segala sesuatunya terasa berbeda. Atmosfer di jantung kota lebih bersahabat. Penduduk setempat lebih ramah padaku. Orang-orang kerap berdatangan ke rumahku buat memberi bingkisan. Saat aku pergi ke Supermarket Minamigoto, seorang kasir sengaja memberiku diskon. Wajah orang-orang ini seolah berkata, “Bebanmu sudah sangat berat, biar aku bantu ringankan.” Atau “Anak malang sekali dia, biar kami bantu.”
Semakin banyak kebaikan-kebaikan ini mengalir, semakin aku, benci pada mereka.
Padahal orang-orang ini hanya ingin membantu, padahal yang mereka lakukan adalah kebaikan, kenapa aku harus merasa benci dengan mereka? Apa aku ini sudah berubah menjadi gadis tidak tahu terima kasih, kurang ajar dan sombong sehingga tidak menganggap kebaikan-kebaikan mereka ini?