[怒る]
Okoru/Ingin marah 2
Yume
[Bagaimana persiapan tesnya?]
Hyūga
[Tidak perlu belajar, aku sudah pintar kok]
Kaori
[Aku cukup percaya diri, aku rasa aku bisa mencapai nilai minimum]
Asami
[Seru, sekali, Ketua]
Yume
[Bagus, itu yang ingin kudengar. Karena aku punya pengumuman penting.]
[Seharusnya aku katakan ini pada pertemuan terakhir sebelum ekskul diliburkan tapi banyak orang tidak datang hari itu. Maka akan kukatakan secara singkat saja sekarang. Si cowok tercinta klub kita sudah menyelesaikan naskahnya. Jadi aku berencana mengadakan camp musim panas khusus Klub Filmaker dalam rangka mempersiapkan film pendek untuk bunkasai nanti. Oleh karena itu kalian semua, wajib lulus ujian. Supaya bisa mengikuti kegiatan dengan optimal.]
[@Hyūga Teruntuk Bakarin Tersayang: Jangan mentang-mentang merasa tidak punya masa depan jadi bisa bertingkah seenaknya! Belajarlah dengan benar! Jangan merepotkan orang lain!]
Hyūga
[Okeeeeeee…. Nenek lampir!]
Yume
[(Stiker menendang)]
[Satu lagi, Ruri tidak pernah membalas pesanku, jadi siapa saja tolong sampaikan padanya untuk melatih tenggorokkannya. Dia harus bersuara karena memiliki peran penting—]
Aku seketika menangkupkan ponselku di atas meja. Lalu menurunkan pundak, menyembunyikan setengah wajah di balik lipatan tanganku di atas meja. Memandangi cahaya mengerjap samar berasal dari layar ponselku yang menelungkup.
Wajahmu imut mirip emotikon
Lagi-lagi kertas bergaris itu menghalangi pandanganku. Aku menegakkan punggung, bangkit duduk. Melihat sosok Okuda duduk di bangku kosong depanku.
Kemarin-kemarin, wajahmu terasa dingin. Lalu beberapa hari berikutnya, sering tersenyum pada langit. Esok hari setelahnya, kau tertawa tanpa suara. Kemudian beberapa hari setelah hari itu, wajahmu lebih kelam dari masa depan dunia.
Masa depan dunia lebih seram dariku.
Okuda menarik kertas bergaris tadi, menuliskan sesuatu di sana lalu menunjukkannya padaku.
Ada apa Ruri?
Aku merebut kertas itu darinya, ikut menuliskan jawabanku di bawah pertanyaan Okuda. Tidak apa.
Begitu seterusnya, percakapan lewat kertas ini saling bertumpuk dalam baris vertikal.
Maaf soal ibumu. Tulis Okuda.
Tidak apa. Bukan salahmu.
Bagaimana kondisinya sekarang
Dokter bilang, Ibu bisa keluar rumah sakit satu minggu lagi.
Benarkah? Syukurlah…
Benar kan aku bilang, tidak apa-apa. Tidak perlu memikirkanku. Tulisku yang mana di akhir kalimatnya aku sisipkan emotikon tersenyum.
Masa? Padahal sebelumnya Ruri sudah bisa menjadi seperti gadis pada umumnya. Sekarang malah kembali membuat dinding. Aku tidak tahu apa yang orang jenius sepertimu pikirkan.
Kertas hampir habis. Aku pun membalikkan selembar kertas itu, supaya bisa menulis di ruang kosong di belakang.
Tidak, apa, apa…
Apakah karena ujian sudah dekat?
Tidak… Apa…apa… kok…
Kebanyakan orang yang bilang tidak apa, justru memiliki masalah.
Sungguh
Ruri bisa katakan padaku apa yang Ruri pikirkan. Aku mungkin bisa membantu Ruri.
Tidak ada apa-apa kok. SUNGGUH OKUDA.
Yakin? Kalau begitu senyumlah yang benar dan tunjukkan padaku.
Okuda menantikan reaksi wajahku. Dia tampaknya menantikan senyumku. Aku hendak memberikan senyumku yang seperti biasa, dengan menaikkan sudut bibir dengan telunjuk dan jari tengah, tapi sebuah pertanyaan kecil di benakku menghentikannya.
Apa Okuda sengaja berbaik hati padaku sebab dia kasihan juga padaku seperti yang lain?
Kelihatannya begitu, tapi terasa tidak seperti itu.
Aku jadi tidak tahu bagaimana merespon senyumannya lagi sekarang. Kebaikan-kebaikannya malah membuatku takut sekarang.
Jam pelajaran terakhir telah usai, aku tidak mau membuang waktuku di sekolah, aku lekas pulang untuk menghindari orang-orang. Ketikanya, sosok yang tidak disangka-sangka muncul di hadapan loker sepatuku. Berdiri menghadap ke arahku sambil menenteng gitar di punggungnya.
Hari ini warna tak lagi ada. Terlalu buram. Hingga garis bibirnya tidak bisa kupastikan, apakah dia sedang tersenyum atau tidak. Seperti hari itu.
“Ruri, lama tidak berjumpa, tampilanmu sedikit berbeda tanpa blazer,” sahut Hyūga.
Aku membuka loker, mengganti sepatu dalam ruangan dengan sepatu luar ruangan. “Be..um...u..ga... se...ming...gu... (belum juga seminggu).”
Gadis itu mencondongkan badan ke dalam pandanganku.
“Kelihatannya Ruri membaca pesan dari Yume. Ruri berbicara.”
Tak kutanggapi kata-katanya, hanya berlalu begitu saja menyebrang halaman sekolah.
“Kenapa Ruri menghindariku? Ano, Ruri?” ucapnya, sedikit terengah mencoba menyamai langkah kakiku menuruni tanjakan curam.
Dia masih belum menyerah. Kegigihannya patut diacungi jempol. Dia masih membuntutiku sekalipun ini sudah setengah berlari.
“Ruri?”
“Ti..dak...ada (tidak ada).”
“Ehh? Ruri tidak mau menatapku lagi sekarang? Kenapa, apa wajahku jelek sekarang?”
Hanya angin berkecamuk yang menanggapinya. Aku tidak mau berpaling ke arahnya. Namun, gadis itu mengatakan sesuatu yang membuatku terpaksa berhenti melangkah.
“Tidak ada yang salah dari perasaanmu, Ruri!!” Suaranya menjauh, kata-katanya menggaung dalam air. Hyūga terdengar parau, napasnya terputus-putus; Aku menoleh ke balik bahu. Gadis itu terlihat kesakitan, rona wajahnya berubah. Terang abu-abu sekali, dengan bulir-bulir keringat membasahi wajahnya.
Dia melanjutkan kata-katanya setelah menyeka keringat di keningnya, “Tidak ada yang salah dari perasaanmu, Ruri, kau berhak tidak menyukai mereka. Tidak ada yang salah dari perasaan tidak suka pada orang-orang yang sudah berbuat baik padamu. Sebuah perasaan tidak memiliki nilai moralitas. Tindakan merespon perasaanmulah yang menentukan moralitas.”
Gadis itu terbangkit dari posisinya yang setengah bertopang pada lutut. Dadanya tidak lagi kembang-kempis seperti sebelumnya. Tenang. Damai.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku cuman perlu mengambil banyak-banyak oksigen,” katanya sembari menarik napas panjang-panjang.
Kami pun kembali saling berhadapan. Seperti dulu-dulu. Jiwa ke jiwa. Hanya saja kali ini terasa berbeda. Tapi aku tidak tahu mana bedanya. Aku tidak bisa melihatnya, warna ekspresinya...kabur...
Dia mendekat. Melangkah mendekat, meraih tangan ini. Gadis itu kelihatan seolah sedang menyiapkan sesuatu, dadanya mencoba banyak-banyak menyerap udara. Lalu menghembuskannya dalam sebuah seruan, “Meskipun dia tidak bisa mendengar, dia masih lebih jago main piano daripada kalian loh!” Entah pada siapa gadis itu berteriak, yang jelas tingkahnya membuat orang-orang tidak nyaman.
“Kau suka naik kincir ria, Ruri?” Gadis itu kembali padaku, menggenggam erat tangan ini. “Mari, kita bicarakan di tempat yang tidak ada telinganya. Tenang saja, aku akan ceritakan semuanya padamu.”
🌸🌸🌸🌸🌸
Kabin merangkak naik. Cakrawala membentang di sebelah utara sana. Pantai dan lautnya jelas terlihat jelas dari kabin ini. Teredam denting-denting suara nyanyian piano mengiringi. Laun dan tenang.