Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #25

Bagian Enam: Dunia Dengan Impian 1

Bagian Enam:

Dunia Dengan Impian 1

 

Mimpi pianis misterius itu datang lagi. Si Pianis, kali ini berdiri di hadapan pohon yukiyanagi, menatap langit-langit yang berwarna cerah tak berawan. Kali ini tidak ada piano, tidak ada lantunan nada-nada, tidak ada harmoni, hanya suara ketenangan di atas permukaan air laut dan bayang-bayang si gadis piano yang terpantul dari permukaan air ini. Sosoknya terlihat anggun dari belakang, tapi juga entah mengapa punggungnya seperti menunjukkan kesedihan mendalam.

Dia menengadahkan wajahnya ke langit lalu berkata, “Kalau saja aku tahu Hyūga akan meninggalkanku lebih awal, aku pasti akan membuat lebih banyak kenangan bersamanya.”

Aku yang hanya terpaut jarak beberapa meter di belakangnya pun seketika langsung menajamkan telinga. Kata-katanya barusan membuat perhatian ini tertuju padanya. Jantung berdegup kencang, berdebar-debar ingin memastikan sesuatu.

Apakah aku tidak salah dengar? Dia tadi menyebut Hyūga. Maksudnya, Hyūga yang mana? Apakah Hyūga Akari yang kukenal?

Karena rasa penasaran, aku mencoba mendekatinya. Untuk memastikan. Namun hal itu tidaklah perlu. Si gadis piano akhirnya menolehkan pandangnya kemari, memutar tubuh hingga kami berdiri berhadap-hadapan. Saling bertaung pandang.

Jantungku seolah-olah berhenti. Napas ini tertahan beberapa jeda.

Aku tidak mau mempercayainya, tapi yang kulihat di hadapanku tidak lain tidak bukan adalah gadis berambut panjang sepunggung, mengenakan setelan jas kerja, porsi tubuh yang ideal, dan mata yang sebiru laut. Dia adalah diriku. Tepatnya, dia terlihat seperti diriku di masa mendatang.

Aku di masa mendatang ini hanya berlalu begitu saja melewatiku. Dia melangkah anggun. Begitu anggun untuk seorang wanita seusianya. Abai sekali dengan diriku seolah aku hanya hantu masa lalunya.

Di lain hal, aku hanya mampu membatu. Berdiri memunggungi pohon yukiyanagi sambil menyaksikan punggungku yang lain menjauh.

Apa maksudnya ini?

Ketika itu, pintu kamarku terbuka. Kilau kisi cahaya memasuki kamarku. Ibu membuka pintu kamarku lebar-lebar. Di tangannya, digenggam nampan yang di atasnya ditaruh susu hangat dan sarapan pagi hari itu. Roti panggang.

Aku terpaksa membangkitkan diri. Duduk memeluk lutut. Kembali kepada realita.

Ruri, Ibu bawakan sarapan. Katanya, setelah menaruh sarapan itu di atas meja belajarku.

Boleh tinggalkan aku sebentar?

Ibu diam saja memandangku. Dahinya sedikit mengerucut. Alisnya menekuk. Tampak kecemasan di wajahnya yang berusaha keras menyembunyikannya. Apa masih ada yang terasa sakit?

Aku hari ini masih belum bisa ke sekolah. Boleh tinggalkan aku sebentar?

Jeda denging beberapa saat. Ibu mengangguk singkat. Paham. Dia kemudian berlalu keluar kamarku. Pintu menutup rapat di belakangnya dan sosoknya pun hilang.

Hari itu aku tidak ke mana-mana lagi. Aku ‘meliburkan diri’ dari sekolah. Bukan karena aku ingin ‘meliburkan diri’ dengan alasan sakitku belum sembuh, penyakitku itu sudah sembuh. Aku hanya merasa harus ‘meliburkan diri’ karena ada yang tidak beres dari kejadian waktu itu dan aku harus segera mencari tahu jawabannya. Segera. Sebelum terlambat.

Sejak kejadian beberapa waktu yang lalu di Tokyo itu, aku bisa berbicara menggunakan mulutku. Suaraku telah kembali. Entah mengapa bisa begitu, aku sendiri tidak terlalu mengingatnya. Yang kuingat hanyalah ketika di restoran keluarga, tepat saat aku mengungkapkan kata-kata itu pada Ayah, tenggorokanku terasa seperti dialiri lava dan berikutnya aku muntah darah. Kemudiannya aku tidak sadarkan diri.

Lalu, aku tahu-tahu terbangun di rumah sakit. Rumah sakit besar di Tokyo. Ketika aku terbangun, Ayah langsung masuk ke dalam pandanganku. Begitu juga dengan Ibu. Mereka tampak ketakutan setengah mati melihatku yang baru sadarkan diri. Terutama Ibu, dia terlihat sangat khawatirkan aku. Segera memelukku seolah tidak akan melihatku lagi. Rupanya Ibu langsung terbang jauh-jauh ke Tokyo untuk mencariku.

Ruri, apa yang kamu pikirkan sampai-sampai berbuat nekat seperti itu. Ibu khawatir.

Hanya satu kata yang bisa kuucapkan, maaf

Aku mengharapkan sejenis hukuman atau ceramah. Tapi, Ibu memilih lantas langsung memelukku kian erat. Aku tidak tahu apa yang dia katakan, sesuatu bergema dalam pelukan ini. Getarannya lemah. Apa yang Ibu katakan mungkin adalah ini, “Tidak apa-apa, setidaknya Ruri selamat.”

Dilihat dari reaksi mereka berdua, kelihatannya mereka tidak terlalu mempermasalahkan perjalanan tujuh hari ke Tokyo ini yang aku dan Hyūga lakukan.

Sampai situ tidak ada masalah, yang menjadi masalah adalah mimpi pianis misterius barusan. Selama aku tidak sadarkan diri, mimpi itu datang lagi. Si Pianis misterius yang kerap mendatangi mimpiku adalah diriku sendiri. Versi lain dari diriku. Salah satunya diriku di masa mendatang.

Satu hal yang langsung muncul dalam benakku, saat kuingat kembali mimpi itu, Hyūga, apa yang terjadi padanya?

Apa yang terjadi pada gadis yang bersamaku?

Ayah berkata, lewat isyarat yang diterjemahkan oleh Ibu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Hyūga. Dia tidak banyak mengatakannya, hanya berkata kalau Hyūga sampai saat ini masih tidak sadarkan diri.

Ceritanya panjang, pokoknya sekarang yang terpenting Ruri kembali ke pulau.

Dia menghindari pertanyaanku. Namun aku tidak bisa mengelak, aku sendiri berbohong pada Ibu soal kegiatan Klub Filmaker selama tujuh hari itu untuk pergi ke Tokyo. Bahkan sampai menggunakan cap namanya tanpa sepengetahuannya. Aku tidak memiliki pilihan.

Setelahnya, ketika aku sudah baikan, aku segera diterbangkan kembali ke Nagasaki. Lusanya ujian tengah semester. Jadi prioritasku adalah kembali bersekolah.

🌸🌸🌸🌸🌸

Ujian tengah semester berlalu begitu saja. Semua aman. Tapi hatiku tidak merasa aman. Rasa aneh menggerogoti hati ini waktu ke waktu. 

Hyūga semenjak saat hari itu tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi di sekolah. Tidak pernah. Aku ingin menanyakan kabarnya lewat Line, tapi dia tidak kunjung membalasnya. Membiarkan gelembung chat dariku berjajar sampai menutupi layar.

Perasaan tidak mengenakan itu terus menggerogoti hatiku.

Memasuki bulan November, aku masih ‘meliburkan diri’. Aku baru masuk sekolah lagi ketika festival budaya tiba.

Saat itu baru hari pertama festival budaya, namun keseruan datang menghampiri satu-satunya sekolah menengah atas di pulau ini yang tersisa. Sekolahku tampak lebih padat dari biasanya. Dipenuhi pengunjung. Ragam stan makanan dan berbagai pameran klub menghiasi lorong hingga halaman sekolah. Beberapa kelas menjual yakisoba, beberapa lain menyediakan maid cafe, ada pula yang membuat pameran yang diisi gambar-gambar menarik dari salah satu anggota kelas mereka yang jago melukis. Yang paling ramai adalah kelas sebelah, mereka mengadakan rumah hantu.

Dalam lautan manusia itu, aku jalan cepat-cepat menuju ruang klub filmaker. Berharap, orang yang kucari selama ini secara ajaib berada di salah satu bangku, menoleh kemari dan menyebut namaku.

Lihat selengkapnya