Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #26

Bagian Enam: Dunia Dengan Impian 2

Bagian Enam:

Dunia Dengan Impian 2

 

Sejak aku lahir, teman baikku selalu rumah sakit. Benar kok, tidak ada salah pengejaan di sini, teman baikku sejak lahir adalah rumah sakit. Aku sudah berada di tempat ini lama sekali. Dari yang kuingat, aku sudah bersamanya sejak aku belum masuk sekolah, kurang lebih sekitar umur 3 tahunan. Aku ingat sering kali kemari diantar Mama dan Papa untuk menginap beberapa hari hingga beberapa minggu. Alasan inilah aku tidak pernah memiliki teman, karena waktuku terlalu banyak dihabiskan di dalam kamar ini.

Ketika anak-anak lain asik bermain di bawah sinar matahari, aku selalu bersembunyi dari sinar matahari di balik tirai warna cokelat kelabu, memandang keseruan itu dari jendela teman baikku. Saat anak-anak lain sedang berburu serangga musim panas, aku malah berbaring di ranjang seharian menghirup udara buatan AC.

“Mereka sangat senang, apa aku bisa bahagia seperti mereka, ya? Apakah hidup normal semenyenangkan itu?”

Namun, ketika tibanya waktu aku sembuh dan bisa bersekolah, orang-orang malah tidak pernah membiarkanku bersenang-senang.

“Akari mau main juga?” Anak itu menoleh ke ketua kelas. Ketua kelas mengangguk. “Maaf, ya, sepertinya tidak bisa, tubuhmu sangat lemah untuk bisa main di luar ruangan. Main kartu saja bagaimana?”

Mulanya aku iya, iya saja. Senang. Tapi itu dusta. Orang-orang sengaja mengalah demiku. Orang-orang sengaja berpura-pura senang bersamaku. Orang-orang sengaja tertawa untukku. Mereka sengaja berpura-pura, melakukan berbagai cara untukku senang. Justru sikap ini yang membuaku sedih.

“Ah, Akari tidak perlu ikut bersih-bersih, biar Ibu Guru saja yang gantikan.”

“Oh ada Akari, ya, apa boleh, ya?”

“Kata orang tuamu bagaimana? Mama, Papamu bagaimana?”

“Akari ikutan katanya, kalau begitu rintangannya dipermudah saja.”

Semua cumanlah dusta. Aku tahu, mereka semua inginnya berkata seperti ini, “Dasar bodoh, jangan terlalu kelelahan, aku bakalan repot!”

Aku hanya ingin seperti yang lain, tapi kalian tidak mengizinkanku. Apapun selalu seperti itu.

Kenapa soal ujiannya dibuat mudah khusus untukku saja? Kalian pikir aku ini bodoh? Ya, sepertinya kalian berpikir aku ini bodoh.

Aku paham satu hal. Orang-orang tidak suka sesuatu yang berbeda. Orang-orang menjauhi kita ketika mereka menganggapmu merepotkan.

Karena inilah, teman baikku adalah tempat bernama rumah sakit. Sesuatu yang selalu menemaniku, mengerti semua kesedihan ini.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku tidak dibolehkan melakukan apa-apa, lantas aku ini apa?

Perlahan, hidup ini makin suram, wajah dari bumi ini menjadi gulita. Warna perlahan pudar dari materi yang ada. Tanpa kusadari, aku menjadi orang yang sangat sensitif. Cepat sekali marah-marah. Mengeluh akan hal-hal sepele. Kenapa Mama datang terlambat ke rumah sakit? Kenapa Papa membelikan boneka ini, aku maunya yang pink! Kenapa minumannya pahit? Kenapa...? Kenapa...? Kenapa...?

Aku bakalan tantrum hebat kalau permintaanku tidak dikabulkan saat itu juga. Beruntungnya keluargaku berasal dari keluarga kaya, jadi tantrum ini tidak pernah bertahan lama. Mereka selalu bisa memenuhi keinginanku.

Ah, aku melakukannya lagi, menyakiti orang-orang lewat kata-kataku. Mungkin, atas alasan inilah Kami-sama sengaja menciptakanku lemah payah begini. Cacat tidak berguna. Soalnya, jika tidak, aku hanya bisa merusak dunia lebih parah. Bila memang begitu jadinya, sudah sewajarnya aku tidak menjadi apa-apa. Sudah sewajarnya aku tidak boleh bermimpi menjadi sesuatu. Karena Kami-sama tidak mengizinkan hal itu terjadi.

“Dunia memang tidak adil!” tangisku pada separuh badanku yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.

Sejak saat itu, dunia mulai ‘mati’. Bukan lagi suram, tapi mati. Hari demi hari berganti tanpa disadari. Tidak ada makanan yang memiliki rasa ketika masuk ke dalam mulutku. Suara yang kudengar menjauh sendirinya. Dan warna dunianya berubah kelam. Ini mirip seperti dunia bawah. Tidak ada yang menarik minatku untuk tetap bertahan pada dunia yang rapuh ini. Untuk apa mencoba bertahan pada dunia yang mati sementara aku sendiri mati sebentar lagi? Ulang tahunku yang ke-17 sudah dipastikan adalah kematianku.

Lalu, pada hari itulah keajaiban terjadi. Pada hari itulah aku mendengar suara itu. Ketika aku kelas 5 SD, suara itu muncul. Sebuah suara yang melepaskan warna terang lewat nada-nada itu. Sebuah musik yang membuat dunia tanpa warna ini menjadi perlahan memiliki warna. Langit yang kelam, menunjukkan spektrum warnanya padaku, warna biru. Rasa-rasa yang hilang, muncul lagi. Tapi, yang paling membuatku hidup adalah perasaan yang dibawakan dalam lagu itu. Sebuah perasaan yang membuatmu percaya kalau tangan lemah ini bisa menggapai bintang. Perasaan, yang mana membuat kaki patah arang ini memiliki energi tidak terbatas untukku bisa melompat setinggi-tingginya. Sebuah perasaan indah dan memukau yang membuatmu percaya akan hari esok yang cerah.

Tanpa sepengetahuanku, aku menari mengikuti irama musiknya. Benar-benar menari. Sungguhan menari dengan kedua kakiku sendiri.

Musik itu berhenti. Kaki dan tanganku berhenti bergerak. Aku kembali terjatuh ke kursi roda. Mata ini membola, menatap langit membentang.

Dunia yang indah, kira-kira siapa malaikat yang bisa membuat lagu semacam ini?

Sebuah titik kecil mencuat mengisikan lubang hitam dalam kekosongan dadaku. Sebuah kata-kata ajaib itu muncul mengisi ruang hampa dalam dadaku. Aku ingin bisa seperti dia, menciptakan suara yang menyenangkan, aku ingin jadi musisi.

Sejak hari itu, semuanya berubah. Meskipun aku yang sakit-sakitan ini tidak memiliki hidup, aku jadi tidak sabar untuk bangun pagi di hari esok. Ingin tahu apa lagi yang dunia akan tunjukkan.

Aku mengubah caraku hidup. Kalau aku bosan berada di dalam kamar, aku bakalan mencoba keliling rumah sakit, berbicara pada penghuni teman baikku ini. Seorang nenek yang kehilangan semua keluarganya, seorang kakek yang ‘gila’, seorang gadis bisu di kamar sebelah, suster, dokter, dan banyak lagi. Aku punya banyak teman sekarang. Ketika aku sudah bisa bersekolah lagi, meski hanya beberapa hari, kalau ada teman sekelas yang mencoba menghindariku seperti dulu, aku akan membuat gurauan alih-alih menekuk bibir ke bawah. Aku menjadikan penyakitku sebagai identitasku. Membuat orang-orang tertawa lewat tingkahku yang tidak biasa.

“Inilah aku, Hyūga Akari si penyakitan yang ceria!”

Memang tubuhku penyakitan, tapi setidaknya pikiranku tidak boleh sakit. Aku harus sembuh, meski dalam pikiranku saja. Aku percaya aku sembuh.

Lihat selengkapnya