Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #27

Bagian Tujuh: Dunia Tanpa Warna

Bagian Tujuh:

Dunia Tanpa Warna

 

“Boleh kah aku memohon padamu? Maukah kamu menyelesaikan laguku itu untukku?”

Kata-kata itu terus berputar dalam benak, menggerogoti hatiku dengan perasaan bersalah.

Langit bagian atas pandanganku pun menggelap. Sementara pemandangan sebagian bawahnya kian kosong. Ruang yang seharusnya diisi oleh biru permukaan air laut, diganti oleh jurang keputusasaan yang membelah diri. Perjalanan pulang menuju Minamigoto ini berlangsung lambat. Amat lambat daripada biasanya. Seolah feri ini memiliki medan gravitasi jauh lebih besar daripada bumi sehingga waktu mengalir lebih lambat bagi orang-orang di kapal. Sebuah dilatasi waktu.

Seseorang mencuil bahuku. Aku menoleh ke samping.

[Maaf, yang kukatakan tadi kelewatan. Aku seharusnya tidak berkata begitu]

Tertulis pada layar ponsel. Mungkin karena tidak bisa bahasa isyarat atau mungkin karena tidak sanggup menatap mataku, Yume menuliskan permohonan maafnya itu lewat layar ponsel.

Aku mengangguk kecil. Membuat pundak Yume turun. Wajahnya berubah cerah, meski tidak secerah biasanya.

Yume tidak salah, dia hanya ingin melindungi keinginan sahabatnya. Sangat wajar dia berlaku begitu, karena lagu “Dunia Tanpamu” adalah keinginan Hyūga. Semua orang pasti akan melakukan hal yang sama untuk melindungi sesuatu yang penting bagi mereka.

Sekarang aku harus apa?

Timbul pertanyaan itu dalam benakku.

Kami tiba di Minamigoto tepat pukul 19.00 waktu setempat. Kebetulan saat itu, Maehara dalam perjalanan pulang dari membeli bahan masakan di Supermarket Minamigoto, jadi aku diantarnya pulang menggunakan motornya.

Dilihat dari cara dia mengendarai, Maehara mengkhawatirkanku. Dia berkali-kali melirik ke balik bahu hanya untuk melihatku terus menunduk.

Jari telunjukku mengukir sebuah kalimat di punggungnya.

Baik-baik saja.

Motor melaju dengan kelajuan normal.

🌸🌸🌸🌸🌸

Besoknya, festival budaya SMA Minamigoto memasuki hari kedua. Klub Filmaker masih melakukan screening film pendek. Saat itu aku mendapat giliran jaga hingga pukul 14.00. Masih ada beberapa menit lagi sebelum waktu istirahatku tiba.

Telapak tangan menggupai di dalam pandanganku. Aku mengangkat pandangan.

Okuda mengulas senyum. Kami datang mampir. Di belakang Okuda, si kembar juga tersenyum. Melambai padaku. Katanya film pendeknya seru, jadi kami mau ikutan nonton.

Terima kasih.

Aku mengangsurkan kertas pengunjung, meminta mereka menuliskan nama dan asal kelas masing-masing. Namun, setelah beberapa jenak berlangsung, tidak ada yang menggoretkan pena di daftar pengunjung. Okuda dan si kembar diam membisu saja. Memandang ke arah lain lorong. Terutama Okuda, matanya membola.

Penasaran, aku pun menoleh ke arah titik yang ia tuju.

Di sana, dalam arus orang-orang lalu lalang, berdiri sosok pria paruh baya yang tidak mungkin pernah kulupakan. Wajah yang agak kaku, tatapan mata yang serius, dan senyum kecil yang mengembang di wajahnya. Kedua tangannya turun dari saku. Dia, Ayah tersenyum menatapku.

Masing-masing saling membisu.

Aku tidak tahu harus menggambarkan seperti apa reuni kami yang sekarang. Tidak ada kata-kata yang cocok. Sekuat apapun kucoba mencarinya di kamus bahkan di ensiklopedia, tidak ada kata-kata yang cocok.

Ayah berbicara sesuatu pada Okuda. Okuda di hadapannya mengangguk beberapa kali.

Lalu, pandangan Ayah tertuju padaku. Dia berkata sesuatu. Okuda di sampingnya berkata dalam isyarat. Lebih tepatnya Okuda menerjemahkan kata-kata Ayah ke dalam isyarat.

Bagaimana kabarmu, tenggorokanmu sudah baikan?

Ya.

Begitu? Syukurlah.

Aku mengangguk singkat.

Ayah pun melangkah maju, mengambil pulpen untuk menuliskan nama di daftar pengunjung. Sambil berkata-kata seorang diri.

Saya terkejut ketika melihatmu di Tokyo waktu itu sampai tidak bisa berkata-kata.

Aku hanya mengangguk. Lagi.

Saya tidak membencimu sehingga pergi. Tapi..

Pandanganku bergantian pada Okuda dan Ayah. Ayah masih berkata-kata tanpa suara kepadaku. Tersenyum kecil.

Dunia orang dewasa tidak sesederhana itu.

Aku masih diam.

Senyum Ayah mengembang lebih lebar.

Maka dari itu, Ayah bakalan datang menemui putriku yang hebat ketika ada waktu. Ayah kemari untuk melihatmu main piano dan sekaligus melihat film pendek ini. Ayah menantikan solo pianomu besok.

Lalu, dia pun berpaling. Melenggang masuk ke dalam ruangan Klub Filmaker.

Waktu berjalan lebih lambat. Orang-orang berdatangan masuk. Pergi datang tanpa disadari dalam dengung dalam air yang memuakkan. Sementara, muncul perasaan seperti ditarik ke dasar Palung Mariana. Sesak dan dingin.

Cahaya mengerjap datang menarik tanganku ke atas permukaan.

Lihat selengkapnya