Bagian Delapan:
Dunia Tanpa Rasa
Jarum jam menunjukkan pukul 11.54 malam. Tinggal enam menit lagi menuju hari ketiga festival budaya. Hari terakhir.
Aku menarik lututku, berbaring memeluk lutut sambil memandang piano Steinsway & Sons yang menyendiri di sudut lain kamar. Dia kesepian. Disirami cahaya rembulan. Dikitari oleh partikel debu berukuran nano hingga mikron.
Pikirkan baik-baik bila kau ingin melakukannya.
Muncul kata-kata dari Reiko-sensei itu lagi. Bergema dalam relung jiwaku, tidak mau pergi. Kata-kata, yang secara tidak langsung memintaku untuk memilih. Jika indraku kembali, artinya akan ada sesuatu yang hilang dari Hyūga. Yang mana hal ini sangat gawat, kondisi Hyūga sudah sangat kritis, aku tidak tahu apa lagi yang akan diambil Kurogami-sama darinya. Namun, jika indraku tidak kembali, aku tidak bisa menyelesaikan janjiku padanya. Aku tidak bisa membuat lagu dengan kondisiku yang seperti ini.
Dilema. Kedua-keduanya pilihan yang membawaku melompat ke dasar Palung Mariana. Ditekan, hancur remuk oleh tekanan air di dasar samudra terdalam atau mati tenggelam tanpa oksigen.
Katakan padaku, aku harus bagaimana Hyūga? Tidak, jangan katakan apapun padaku, aku tidak ingin mendengarnya. Jangan, tolong bantu aku. Berhenti, aku tidak bisa berpikir jernih sekarang, besok saja. Besok? Apakah masih sempat? Besok bagiku dan bagi Hyūga adalah dua hal yang berbeda.
Lalu, hari kedua festival budaya selesai. Sudah pukul 06.00. Hari itu selesai tanpa aku melakukan sesuatu. Seharian itu, aku hanya menekuri pikiran aneh itu. Padahal aku harusnya menyiapkan pertunjukan solo pianoku. Semua orang menantikannya, bahkan Ayah menantikannya. Dia sendiri datang dan bilang padaku kalau dia menantikan pertunjukan pianoku, namun aku malah tidak bisa melakukan apapun. Pianonya hanya teronggok bisu sepanjang hari, mengeluarkan tangis pilu.
Tanpamu di sisiku, hari yang sebelumnya aku tunggu-tunggu, menjadi hari yang ingin aku hindari. Waktu yang seharusnya berjalan lambat ketika kita tidak melakukan apa-apa, malah berlalu lebih cepat ketika aku tidak melakukan apa-apa.
Kunjunganku yang berikutnya dilakukan satu hari setelah hari ketiga festival budaya. Hari itu sekolah pulang lebih cepat dan cuaca tidak seekstrim hari-hari yang lalu, waktu yang sangat tepat untuk bertolak ke Nagasaki.
Pada pukul 14.30 aku sudah sampai di kamar bernomor 303 itu lagi. Setiba aku di sana, mata gadis itu langsung berbinar. Dia kelihatannya menanti kedatanganku, ditilik bagaimana kelakuannya. Dia menangkap tanganku dan menyeretku keluar kamar inap.
“Sini, ikut aku!”
“Apa yang kau rencanakan?”
“Kita akan kencan!”
Sebetulnya, hatiku menolak ajakan gilanya. Aku coba menolak, tapi pada akhirnya tunduk pada keegoisan gadis itu. Tatkala, aku melihat wajahnya yang seolah berkata padaku bahwa pertemuan kali ini akan menjadi pertemuan menggembirakan terakhir kami. Maka dari itulah, aku menuruti keegoisannya lagi.
Kami pun tiba di depan pintu lift. Hyūga menekan tombol. Dan pintu lift pun membukakan diri. Aku memalingkan pandanganku darinya, lalu melangkah memasuki lift. “Mau ke mana? Ada tempat yang ingin kau kunjungi?”
Senyumannya yang gadis ini tebar sangat manis. “Terima kasih, Ruri.”
“Aku tidak punya banyak uang, jadi pilihan kita tidak banyak.”
“Tidak masalah, aku sudah senang jika berada jauh dari tempat ini.”
Lift merangkak turun perlahan, menuju pemberhentian terakhir kami. Jika aku boleh mengatakannya begitu.
🌸🌸🌸🌸🌸
Bus menggerung ramah.
Sepanjang perjalanan, Hyūga tidak banyak bicara. Memang, dia mengeluh satu dua kali. Tapi kebanyakan waktu dia gunakan untuk merebah ke pundakku. Terlelap seperti putri tidur.
Dari sini, aku bisa memperhatikan mukanya lebih jelas.
Hyūga-san, sampai saat ini aku tidak mengerti tentangmu.... kamu itu sebenarnya apa...
Bulu matanya yang lentik itu menggeletar sesekali ketika terdapat pergerakan tiba-tiba dari bus. Jepit rambut kupu-kupu biru meliuk menaik. Dada gadis itu naik turun tidak terasa, seirama dengan tarikan napas yang sangat lemah. Lalu kehangatan tubuh gadis ini memudar. Tubuhnya, terasa dingin. Sangat bertolak dengan sikap gadis itu selama ini. Ceria, penuh rasa, dan penuh impian. Juga, selalu menebarkan harapan. Dia seorang dewi yang sekarat. Yang, perlahan mulai kehilangan cahaya.
Kenapa duniamu menyilaukan? ... Kenapa kata-katamu selalu memberikan kehangatan?...
Sebuah percikan-percikan aneh tumbuh di hatiku. Sesuatu, yang membuatku seolah harus melakukan sesuatu agar dewi malaikat ini tidak mati. Agar, cahayanya tidak pudar. Dan aku, memang melakukannya. Tanganku merangkul bahunya, aku mendekatkan wajahku kepadanya. Berbisik halus ke telinga gadis itu.
“Kita sudah sampai.”
Hyūga mengangkat kepalanya. Menggosok matanya beberapa kali. Terbangung. “Sudah sampai? Di mana? Kita?”
Aku menjawabnya lewat layar ponsel. Kutunjukkan padanya tempat di itu. Akuarium Nagasaki.
“Eh? Akuarium? Nostalgianya... Dulu aku sering kemari bersama Yume atau keluargaku. Seberapa banyak tempat ini berubah tanpa kehadiranku, ya? Aku penasaran, apakah mereka menambahkan spesies pinguin lagi di sini. Ayo Ruri.”
Gadis sebelumnya sudah hilang. Yang di hadapanku kali ini dewi yang biasa memberikan warna pada palet dunia.
Kembali seperti semula, hilang sudah dewi yang sekarat tadi. Gadis itu begitu eksentrik. Berisik nan heboh. Tertawa dengan mudahnya, dan merengut dengan cepatnya. Dia memandangi tiap tangki akuarium dengan takjub. Seolah, kehidupan-kehidupan yang ada di dalam tangki di hadapannya adalah alien. Atau keajaiban. Karena, hal apa lagi yang bisa membuat mata seseorang menjadi berbinar-binar dalam satu lirikan? Hanya ada jawaban itu.
...Mengapa semua yang ada dekatmu seolah bercahaya? ...
Dia terus menarikku ke arah kuasanya ingin membawaku. Aku cuman mengalir mengikuti irama lagunya yang bersenandung tanpa suara. Soalnya, aku tidak bisa mendengar bila tidak dekat dengan gadis ini.
“Ruri! Lihat, bonekanya lucu!” telunjuknya mengarah pada plushie pinguin.
“Ya.”
“Tumben Ruri punya sisi imut begini. Jarang-jarang.”
“Aku juga gadis SMA sepertimu.”
“Benar juga. Kita melakukan kencan para gadis. Wajar Ruri begini. Oke, baiklah, paman, aku beli satu boneka ini tolong!”
Dan dia pun memberikan boneka itu yang dia beli dari uangku kepada diriku. Memang aneh, namun aku serta merta mengikuti iramanya tanpa kusadari.
Kami tiba di hadapan sebuah tangki besar. Di dalamnya, terdapat makhluk berkaki dua yang berdiri agung menghadap ke arah kami. Beberapa saudaranya mengayunkan paruh panjangnya kemari. Makhluk-makhluk itu berjalan dekat-dekat ke kaca pembatas sebelum akhirnya melompat meluncur ke dalam air.
Hyūga menyatukan tangan di depan dada, terkesima melihat bagaimana makhluk itu berenang di dalam air. Senyumnya, terbit begitu lebar.
...Walau, cahayamu yang sekarang terasa aneh...
...Aku ingin melindungi cahayamu...
Aku mengangkat tanganku, mencoba meraih tangannya. Gadis itu menoleh padaku, matanya membelalak.
“Lewat sini,” kataku, menarik tangan gadis itu sekarang.
Kami berpegangan tangan. Bergandengan tangan. Berjalan melewati kabut nebula yang menutupi galaksi bimasakti. Kali ini aku yang memimpin, menghalau asteroid dan reruntuhan kapal. Menuju tempat itu. Stasiun pengamatan antariksa di dekat pusat galaksi bima sakti.
...Karena tanganmu yang sekarang tidak lagi sehangat dulu. Bahkan sekarang peluhmu yang membasahi tanganku....
Semua yang ada dalam kabut translusen itu, orang lalu-lalang, gema mereka, palet warna dunia di kiri kanan kami berjalan, mereka indah meski terkabur di pandanganku. Putih tumpang tindih, tapi pemandangan di luar kabut itu sangat cantik.
...Hyūga-san, kau bisa mengatakan apa yang kamu inginkan dengan baik. Tapi, kau tidak bisa mengatakan apa yang kau rasakan....
....Kalau kau juga takut akan hari esok...
Kami berhenti di depan pintu masuk akuarium. Di mana, lokasi atraksi pinguin itu di mulai. Parade makhluk imut berkaki dua itu, dimulai dengan petugas yang masuk dari baris pertama. Diikuti oleh pinguin-pinguin yang melangkah imut menyapa pengunjung.
Tepuk tangan, pun sorak penonton terdengar menjauh dan mendekat. Hyūga ikut mengeluarkan suara kagumnya.
...Aku tak mau berbohong. Aku juga takut sepertimu. Aku juga takut akan hari esok. ‘Besok aku mau menjadi apa?’. ‘Besok hujan atau cerah?’. ‘Pada papan pengumuman besok, nilai ujianku berapa?’. ‘Besok apakah harga makanan akan naik?’. ‘Besok apakah akan terjadi perang dunia tiga?’. ‘Apa besok dunia akan berakhir?’. ‘Apakah besok aku akan mati?’ ....
Kupegang lebih erat tangan gadis itu.
...Lupakan semuanya. Tidak perlu takut. Hari ini, adalah hari ini. Dan hari ini, kita sedang mengukir sejarah kita masing-masing.
Kabut translusen itu melingkupi dunia sekeliling. Bukan melingkupi lagi, tapi menelan dunia. Hingga, hanya bersisa aku dan gadis itu. Semua yang di luar sana, seolah tidak pernah ada.
Hyūga menoleh padaku. Senyumannya begitu jelas sekarang.
“Ruri...”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Ya.”
Dia membalas genggaman erat tanganku.
🌸🌸🌸🌸🌸
Langit menjelang gelap. Saat itu akuarium sudah ditutup. Parade pinguin tadi adalah acara terakhir di akuarium. Aku berencana pulang setelah parade itu selesai, namun Hyūga masih ingin berjalan-jalan menghirup udara malam. Karena itu, kami tetirah sedikit di bibir pantai dekat Akuarium Nagasaki.
Gadis itu berjalan-jalan di pasir putih. Menyenandungkan nada-nada sambil menikmati udara malam penghujung musim gugur khas Kyūshū Utara. Aku mengikutinya dari belakang. Jejak kaki kami mengular hingga tetiba berhenti pada satu titik. Suara ombak berdebur halus di sana.
Hyūga berhenti melangkah, dia memutar tubuhnya menghadap laut. Karenanya, aku ikut berhenti juga. Lalu, tepat ketika hembusan angin mengibas rok gaun terusannya dan rambutnya yang pendek sebahu itu, dia berkata pada matahari terbenam.
“Aku selalu bertanya-tanya, di mana seharusnya aku berpijak? Hidupku ini sebetulnya apa? Apa arti sebuah kehidupan itu sendiri? Aku pun bertanya pada ibuku. Ibuku menjawab, ‘kehidupan adalah saat-saat kita masih bisa merasakan aroma rumput musim panas’.” Rambutnya berkibar lemah, lalu berhenti. “Apa itu kehidupan? Ayahku menjawab, ‘Ketika kita menjadi bagian dari ingatan orang-orang’.” Gadis itu memutar tubuhnya lagi, kali ini menghadap ke arahku. “Bila kamu adalah orang yang aku tanya, maka apa yang akan menjadi jawabanmu, Ruri?”
“Itu, adalah kalimat tokoh utama dari film pendek kita.”
“Ya, itu salah satu kalimat favoritku.”
Hembusan angin yang lenyap barusan, kembali berdatangan, mengalir dari arah berlawanan untuk mengibas rambut gadis itu sekali lagi. Gadis itu pun mencondongkan tubuh kepadaku.
“Ruri, menurutmu apa itu kehidupan?”
Kualihkan pandanganku sesaat ke arah cakrawala itu, lalu kembali kepada gadis itu, “Kehidupan adalah saat kita masih bisa berpikir dan bernapas.”
Terdengar suara tawa gadis itu. Gadis itu terkekeh lumayan lama. “Jawaban yang sangat Ruri sekali.” Dia menahan tawanya, melanjutkan kata-katanya. “Memang benar, bagi manusia hal itu mungkin bisa dikatakan masuk akal. Ketika masih bisa berpikir dan bernapas. Tapi, kalau kehidupan adalah hal yang semacam itu, apakah bakteri dan mikroorganisme lain bisa disebut sebagai kehidupan? Bagaimana dengan pohon sakura atau bunga matahari? Kalau bernapas, mungkin mereka melakukannya, tapi berpikir? Apakah mereka berpikir seperti kita juga?”
“Kau sendiri, Hyūga-san, menurutmu apa itu kehidupan?”
“Apa itu kehidupan? Kau bertanya itu padaku?”
“Ya.”
Hyūga masih diam saja, dia malah berpaling lagi ke arah laut, melompat kecil ke dalam genangan air tenang. Bermain-main air. Mencelupkan tangan ke dalam lalu meraup air itu menggunakan tangannya. Dengan senyuman barunya yang terbit ketika memandangi air di tangannya itu mengucur keluar dari sela jari, dia baru menjawab pertanyaanku barusan.
“Menurutku, kehidupan adalah sebuah keajaiban. Keajaiban yang diberikan dewa kepada kita. Bentuk kasih sayang mendalam yang diberikan kepada kita.” Air di tangannya tandas. Gadis itu menyembunyikan tangannya yang basah di balik punggung. “Air laut, aroma musim panas, butiran salju, daun maple merah, sekolah, saling membantu sesama, jatuh cinta, keluarga, rumah, dan musik. Dengan kita hidup, kita bisa merasakan keindahan-keindahan itu semua. Indah sekali bukan, bintang-bintang di langit sana? Aku ingin bisa meraihnya”
Aku pun menengadah, memandang sesuatu yang gadis itu pandang. “Mereka bersinar.”
“Ya, kan? Lihat, bintang pemalu yang sana, dia sinarnya redup, tapi dia yang menghubungkan semua bintang yang lain. Dan yang sana, bintang yang paling terang, tapi dia berada jauh daripada bintang yang lain. Lalu yang di sebelah atasnya lagi, ada bintang paling besar dan egois. Dia ingin mencuri posisi teman-temannya.”
“Hm. Ya. Kurasa begitu.”
Gadis itu menarik tangannya dari langit, mendekapnya di depan dada sambil memejam. Dari sudut pandangku sekarang, gadis itu seolah disinari cahaya rembulan malam. Bayangannya, terlihat agung. Seperti dewi. Sosoknya, ketika matanya terbuka, memancarkan cahaya binar yang indah.
“Dunia yang kita tinggali adalah kasih sayang dewa. Terlalu banyak kebaikan di dunia ini yang teramat luas hingga membuatmu ingin bangun cepat-cepat esok hari, menantikan keajaiban apa yang selanjutnya terjadi. Besok, apa yang akan terjadi, ya?”
Kata-katanya, terdengar terlalu naif. Kata-kata katanya, seolah dirangkai sedemikian hingga seperti kalimat dari novel. Impian belaka yang jauh dari realita. Karena, kebaikan-kebaikan yang dia katakan barusan itu tidaklah ada. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Negara-negara mulai mempersenjatai diri. Amerika tengah krisis politik. Peperangan di timur tengah. Inflasi global yang terus meningkat. Krisis imigran. AI dan robot yang mengambil alih. Tidak ada harapan. Sama sekali tidak ada harapan. Bagaimana seseorang mampu tetap tenang melihat kondisi bahwa gaji sebagai pegawai tetap saja tidak lebih baik daripada pekerja paruh waktu? Bagaimana bisa hidup dalam sosial di mana orang-orang jahat dibiarkan berkeliaran di kereta dengan topeng sok alim itu? Dunia ini tidak lagi memiliki harapan. Tapi gadis di hadapanku hanya tersenyum dan berkata dengan optimis dengan sorot matanya yang berkilau seakan tidak ada apa-apa yang terjadi.
“Semua akan baik-baik saja, karena hari esok akan tetap datang,” ucapnya, padahal dia sendiri tahu besok dia mungkin saja tidak lagi bisa bernapas.
“Dunia ini tidak ada baik-baiknya, semua penuh keputusasaan.”
Gadis itu tampaknya tidak setuju denganku. Dia menggeleng. “Tidak. Banyak kok, hal baiknya. Sama banyaknya dengan hal buruknya.”
“Kalau begitu, katakan padaku apakah kita punya masa depan? Kita sedang berada di dalam kapal Titanic yang tenggelam perlahan. Penduduk kita perlahan berkurang, kota-kota menjadi tidak sama lagi. Apakah ada masa depan untuk negeri ini? Belum lagi bicara mengenai robot dan AI.”
“Ruri, dunia itu bukanlah neraka, tapi juga bukanlah surga. Penderitaan yang kamu katakan itu memanglah nyata. Mereka pasti ada. Tapi kebaikan juga akan selalu ada sehingga tercipta sebuah ekuibrilium. Akan hadir masa depan untuk negeri ini, hanya saja bukan utopia maupun distopia, melainkan ‘masa depan’.”
“Ya, tapi itu tidak akan mengubah arah kapal ini.”
Dia tetap tidak setuju denganku. Dia lanjut berkata, dengan matanya yang berkilau, “Dahulu penyakit cacar banyak merenggut nyawa. Tapi sekarang? Mereka masih ada, tapi tidak semematikan dulu. Kita punya vaksin. Ilmu kedokteran terus berkembang. Karenanya, penduduk bumi meledak sampai-sampai pemerintahan dunia kebingungan. Tapi sekarang, di era modern, kompleksitas sosial di dalam manusia modern berubah. Secara pasti, diprediksikan penduduk bumi akan terus menurun, orang-orang jadi enggan memiliki keluarga. Kau lihat polanya, Ruri? Semua akan baik-baik saja, bila kita terus berusaha melangkah.
“’Apakah ada masa depan untuk negeri ini?’” dia mengulang pertanyaanku, sambil kemudian menjawab. “Tentu saja ada masa depan untuk negeri ini. Kau pikir hanya pada era sekarang negeri ini hampir tamat? Apa kau melupakan fakta jika negeri ini pernah kalah perang? Tapi lihatlah sekarang, negeri ini menjadi salah satu deretan negara maju dunia. Bila kakek nenek kita bisa melakukannya, mengapa kita tidak bisa melakukannya?”