Bagian Sembilan:
Dunia Tanpamu
Suhu udara merangkak turun lebih cepat dari dugaanku. Hari demi harinya atmosfer udara di kota Minamigoto makin meradang dingin terasa pada kulit. Pertanda bulan November sudah bertransformasi menjadi bulan Desember.
Negative harmony terdengar melantun di latar belakang. Menggetarkan nada-nada tidak biasa pada hari-hari itu. Pelan, lembut, dan janggal.
Langkah ini terhenti di depan tugu sekolah menengah atas Minamigoto. Pemandangan yang tidak pernah berubah sejak dahulu.
Seseorang menggabruk bahuku dari belakang. Aku menoleh ke samping. Wajah periang dengan tahi lalat kecil pada kerutan mata itu menyembul di bahu kananku. Si kembar kelihatan bersemangat hari itu.
“Ruriii, ohayou!”
“Ohayou, Yuzuki,” ucapku, membalas salam mereka. “Dan Natsuki.”
“Ruri dengar tidak, berita terkini?”
“LDP turun?”
“Bukan itu Ruri! Okuda Manami, ditembak oleh Taniguchi-kun!”
“Benar!” desis Yuzuki.
Mataku melebar begitu saja. Terkejut. Melihat responku, si kembar mengangguk-angguk cepat. Menyakinkan dugaanku.
“Mereka jadian!” seru si kembar serempak.
Sejujurnya aku sudah tahu berita itu separonya. Okuda berkata padaku langsung kalau dia ditembak Taniguchi-kun. Tapi dia tidak bilang kalau dia menerima pernyataan cinta dari cowok itu. Fakta inilah yang membuatku terkejut. Taniguchi-kun bukan tipe Okuda. Habisnya, waktu aku bertanya soal Taniguchi-kun, Okuda kelihatan sama sekali tidak tertarik menjawabnya. Seolah Taniguchi-kun cuman figur sampingan yang tak layak dibicarakan dalam sebuah cerita. Berbeda sekali dengan saat Okuda menceritakan Maehara.
Okuda dan Taniguchi jadian, ya? Apa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka yang tidak Okuda katakan padaku?
Bicara soal waktu, orang yang sedang kubicarakan ini muncul juga di kelas. Dia tampak lebih cantik dengan model baru rambutnya. Lalu, di sampingnya seorang cowok berdiri melambai pada Okuda dan berlalu pergi.
Si kembar yang sedang sibuk mencontek pekerjaan rumahku terkesiap. Mereka langsung menarik gadis yang wajahnya bersinar lebih dari pada biasanya itu kemari.
Dia tersenyum kecil. “Kelihatannya, aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.”
Si kembar mulai menghujani Okuda dengan ribuan pertanyaan. Okuda tampak agak kewalahan menelaah semua pertanyaan-pertanyaan itu. Aku sebagai sahabat baiknya mencoba membantu sedikit.
“Selamat,” ucapku laun.
Telingamu sedang bisa mendengar?
Aku mengangguk singkat.
Okuda pun menjelaskan kisah romansanya. Asal muasal dari kejutan ini semua. Agak membuat hatiku janggal, karena kisah mereka bermula dari diriku. Taniguchi-kun beberapa waktu mendekatinya dalam rangka ingin mengenalku. Okuda tidak masalah, dia merasa kalau cowok ini orang baik oleh karenanya dia tidak keberatan menjadi cupid antara aku dan Taniguchi. Tapi tentu saja penolakan itu terjadi. Dan ini titik balik hubungan mereka.
Patah hati yang dialami Taniguchi, tersembuhkan perlahan oleh keberadaan Okuda. Percikan itu muncul. Sampai-sampai, membuat Okuda yang sekarang kehilangan ‘kerennya’. Banyak ucap, agak melebih-lebihkan dengan banyak berkata ‘keren’, ‘imut’, ‘baik’, dan ‘hebat’.
Aku seharusnya menyadari hal ini. Tanpa membuka kamus pun, aku seharusnya tahu kalau orang-orang akan berubah. Suka tidak suka, mau tidak mau, suatu saat pasti ada kejadian yang memaksa seseorang berubah. Taniguchi-kun, Okuda, Yume, dan Hyūga.
Bagaimana denganku?
Jam pulang sekolah pun tiba. Aku kembali melewati jalanan-jalanan ini. Tanjakan curam selepas gerbang sekolah, Supermarket Minamigoto, jembatan penghubung, kafe The Enclat, lalu tiba di pertigaan tempat truk toko Supermarket Minamigoto selalu singgah, taman dekat ceruk.
Tempatnya berubah...
Pemandangannya berubah. Sejak kapan berubahnya, ya? Musim panas lalu kurasa. Tapi, apa yang membuatnya berubah? Kurasa tidak ada yang membuatnya berubah. Semua detail kota ini tetap sama. Yang berubah adalah aku.
Di dunia ini, persepsi itu penting. Ia memainkan peran utama bagaimana suatu objek di dimensi ruang akan tampil di otak kita. Misalnya saja, jaket yang tersampir pada bahu kursi dalam ruangan yang kebetulan gelap gulita. Dari kejauhan di belakang ruangan, seseorang mungkin mengira ada orang lain masuk ke rumahnya, menyelinap, duduk di kursi ruang keluarga itu lalu tertidur. Tapi, seseorang lain mungkin mengira yang dilihat itu adalah jaket biasa yang tersampir pada kursi. Hal ini bisa terjadi sebab kondisi pikiran dua orang itu yang berbeda. Satu mungkin sedang dalam kondisi kekalutan luar biasa karena kesialan berturut-turut selama seharian itu. Satu lagi mungkin sedang dalam kondisi prima.
Semua, berkat pikiran manusia. Dan kota ini, berubah karena sesuatu dalam pikiranku. Gadis bernama Hyūga Akari itu yang mengubah bagaimana tempat-tempat ini muncul di kepalaku.
Meskipun sejak hari itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, tidak lagi kami pulang bersama menuruni tanjakan curam, tidak lagi pernah berboncengan naik sepeda melewati jembatan penghubung, tak ada ucapan ‘sampai jumpa lagi besok’ ketika berpisah di bawah pohon maple pertigaan taman dekat ceruk. Tak ada lagi, ‘Ruri!’, ‘Ruri!’, ‘Ruri!’, dan ‘Ruri!’ ketika dia memanggilku. Namun, di tempat ini gadis itu seolah selalu ada. Bersamaku, dalam wujud yang lain melampaui dimensi ruang dan waktu.
Seolah, tidak ada lagi ‘Dunia Tanpamu’, semuanya adalah ‘Dunia Denganmu’...
Nada-nadanya mulai berantakkan. Tercerai berai tak beraturan.
🌸🌸🌸🌸🌸
Pertengahan Desember, tepat pada hari terakhir sekolah setelah upacara penutupan trisemester kedua, baru pada hari itulah aku bertemu dengan Hyūga lagi. Ini kunjunganku setelah sekian lama absen.
Di dalam kamar itu, cuman keheningan yang menyambut kedatanganku. Keheningan, dan gadis itu yang sedang tertidur ditemani seorang wanita paruh baya sedang merajut sesuatu yang kuyakin wanita itu adalah ibu dari Hyūga Akari.
Merasa urung melihat kedamaian ini, aku hendak berpaling. Namun wanita itu lebih dahulu menoleh ke arah pintu. Kehadiranku diketahui olehnya.
“Mata biru. Takasaki Ruriko, ya, kamu?”
Tidak tahu sebanyak apa cerita tentangku yang sudah Hyūga ceritakan, Kuasumsikan saja wanita ini tahu mengenai keajaiban pijakan Hyūga. Aku membungkuk kecil. Mengangguk.
Wanita itu menaruh rajutannya di atas pangkuan. “Tidak apa-apa, kemari duduklah, saya yakin Akari senang dengan kedatangan Takasaki-san.”
Aku mengangguk lagi. “Ya.”
Kali terakhir aku berjumpa dengan Hyūga adalah tempo hari ‘kencan’ kami ke akuarium. Gadis ini semakin berubah sekarang. Semakin kurus, dan semakin tandas pula rambutnya mirip cepak tentara. Hampir hilang.
Imaji bagaimana wajah gadis itu ketika melihatku ada di jendela pintu kamarnya pasti seperti itu, terang oleh senyuman dan godaan-godaan anehnya yang selalu dia layangkan padaku. Tidak ada sedikitpun kesedihan singgah di matanya. Namun, kenyataannya gadis itu terkulai lemah di atas ranjang, terpejam tak berwarna dikelilingi segala macam yang membawa kesedihan. Rumah sakit memang bukan tempat yang baik untuk gadis semacam dia. Apalagi ketika sesuatu berkabut itu menyerap warnanya.
Sebelum sempat suasana makin terlarut muram, ibu Hyūga berbicara sesuatu padaku.
“Mohon maaf bila Akari banyak melakukan kesalahan padamu. Dia memang keras kepala dan bertindak sesuka hatinya.”
“Justru sikapnya yang begitu menjadi ciri khasnya seorang Hyūga Akari.”
Wanita itu tertawa tertahan. “Iya, benar.”
Lalu, selama beberapa momen, aku menghabiskan waktu bersama wanita ini. Mendengarkan ceritanya tentang gadis cerewet, susah diatur, nakal, dan pemalas. Cerita yang kurang lebih sama yang pernah kudengar, hanya saja dari sudut pandang lain. Kesan Hyūga yang satu ini lebih gila dari yang kudengar sebelum-sebelumnya.
“Saya tidak pernah menyangka pernah melahirkan anak seperti dia. Sangat heboh, tidak mau diam, dan ‘sedikit kurang ajar’. Maaf, mungkin yang lebih cocok kata-katanya adalah sedikit tidak sopan. Ah, orangnya sudah bangun.”
“Mama? Eh, Ruri juga?” Gadis itu bangkit tiba-tiba dengan cepat. “Apa mamaku menceritakan aneh-aneh padamu Ruri? Dia bilang aku seperti apa saja?”
“Mengapa malah mengkhawatirkan hal semacam itu?”
“Tentu saja harus, image itu penting loh! Apa jadinya harga diriku sebagai senpaimu kalau aibku tersebar?”
“Sejak awal image itu sudah tidak ada artinya karena tingkahmu sehari-hari di sekolah.”
“Heee~ Jahatnya.”
Bayangan gadis tak berdaya sebelumnya telah hilang. Yang sekarang tidak cocok untuk disebut ‘tidak berdaya’. Gadis tidak berdaya macam apa yang bisa berisik begini. Tapi tetap saja, jantungku sedikit was-was. Ada sesuatu yang aneh dari suaranya. Lebih terdengar lemah dan serak agak patah-patah. Jika dimetaforakan, suaranya mirip penyanyi yang sedang radang tenggorokkan.
Suasana larut dalam keheningan beberapa jenak, sebelum akhirnya dipecahkan oleh ibu Hyūga yang tiba-tiba bangkit berkata, “Saya beri waktu kalian berdua, ya.”. Kemudian itu hening lagi setelah suara pintu menderak menutup.
Walau aku tidak tahu apa yang wajah gadis itu tampilkan di balik kabut abu ini, aku memutuskan untuk mengutarakannya.
"Bagaimana kondisimu?” tanyaku.
“Operasinya berhasil. Katanya, sekarang sudah ada perkembangan kecil meski harus merelakan organ lain. Tapi setidaknya tidak ada yang membuat nyawaku terancam, hanya beberapa waktu lagi tenggorokkan ini bakalan kehilangan suara. Aku akan bisa bisu. Begitulah kata dokter.”
Sel kanker sudah menjalar sangat cepat.
“Aku rasa, itu sedikit berat.”
Mungkin karena alasan itulah suaranya menjadi aneh. Tenggorokkannya sudah kena. Sesuai dugaanku. Ketika indraku kembali, ada sesuatu yang hilang dari Hyūga. Kini yang diambil adalah suara Hyūga. Bayaran yang berat.
Tangannya mengibas di depan wajah. “Tenang saja, aku baik-baik saja. Ini belum seberapa dengan masa terberatku di SD lalu.”
Kata-katanya terdengar begitu lugas. Seakan gadis ini sudah berlatih berkali-kali mengucapkannya dalam satu tarikan napas sehingga tidak terdengar nada ganjil di kalimatnya. Atau bisa saja seperti itulah isi hati gadis ini, hanya saja aku tidak bisa menyadarinya. Kabut itu masih dalam menyembunyikan warna ekspresinya.
“Aku lega mendengarnya, sedikit,” ucapku lirih.
“’Kan?”
Responku hanya berupa anggukan singkat saja.
Tekadnya untuk bertahan hidup sangatlah tinggi, aku rasa ini yang membuatnya tetap bertahan hidup. Sesuatu yang langka untuk dunia sekarang.
Aku sedikit bercanda padanya. Tentang aku yang tidak seharusnya mencemaskannya karena tekad bertahan hidup gadis itu yang tinggi. Tentu saja perasaan gadis itu berubah cepat seketika seperti biasa. Kalimatnya mendadak naik waktu aku berkata seperti itu. Muncullah kalimat merajuk dengan paras gadis itu dibuat-buat cemberut—setidaknya seperti itu yang bisa kubayangkan melewati kabut hambar yang menutup wajahnya.
Gadis itu melepas napas panjang. “Indramu? Sudah kembali semua?”
“Tinggal pendengaran. Beberapa waktu pendengaranku kembali, telinga kananku bisa mendengar meski cuman sampai sepuluh menit saja. Frekuensi datangnya tidak menentu, dua sampai tiga hari sekali.”
“Sepertinya gagal ya, usahaku.” Napasnya yang lemah terdengar jelas. Pandangannya kembali padaku. “Yah, tidak apa-apa. Aku punya rencana cadangan. Tutup matamu Ruri. Jangan buka sebelum aku bilang boleh. Tenang, bukan yang aneh-anehku. Aku tidak bakalan mencium atau merabamu tiba-tiba kok.”
Wajahnya yang agak terlalu dekat di depan mataku dan bagaimana warna hambar menutupi warna asli dari seringai usil itu, membuat kata-katanya barusan cukup meragukan. Kuputuskan untuk tetap percaya pada kalimatnya.
“Janji jangan aneh-aneh.”
Lalu panorama hitam menghalau pandanganku. Tepat saat itulah terdengar keributan kecil sesuatu—kemungkinan barang—yang berderak dan bergesekan. Diliputi pula dengan suara menggeresek dari ranjang. Kemudian, sesuatu menyentuh telinga dan pangkal hidungku. Pergerakan kecil itu selesai setelah gadis itu berkata kalau aku sudah boleh membuka mata.
Aku pun membuka mata ini perlahan. Sosok gadis tanpa warna yang duduk di ranjang dan ruang sepi kamar itu muncul di pandanganku. Namun, kali ini ada yang berbeda. Terdapat takarir dan panel-panel aneh di tepi bawah dan sudut pandanganku.
Apa ini? Sebuah UI? Apa yang gadis ini lakukan pada mataku?
“Itu kacamata yang dipasangkan komputer di sana. Seperti ponsel fungsinya. Kau bisa memotret, merekam, bermain SNS, sampai mendengar. Semua dalam augmented reality. Bedanya, di sini terdapat AI canggih. AI ini bisa membuat caption secara realtime, Ia bisa mengubah ucapan orang-orang di hadapanmu ke dalam caption. Dengan begini, di masa depan nanti Ruri tetap bisa ‘mendengar’ ucapan orang-orang tanpa perlu menggunakan telinga menggunakan teknologi masa depan.”
Kata-katanya itu berjajar bermunculan seiring dengan Hyūga berucap. Di atas kepalanya. Kelihatan semacam label namun bukan, itu adalah caption tentang apa-apa yang gadis itu ucapkan.
[Bagaimana, bagus tidak Kacamata Untuk Mendengar ini?]
Sekali lagi kata-kata tersebut muncul. Sedikit tumpang tindih dengan imaji kamar ini tapi tetap bisa dibaca dengan jelas. Pun, gambar-gambar yang tertimpa kata-kata itu. Augmented reality? Ini lebih seperti keajaiban teknologi masa depan.
Padahal gadis itu sedang dalam kondisi kritis, tetap saja dia masih bisa membuatku terpukau oleh tingkahnya.
Tidak, bukan ini yang harusnya terjadi, semua terasa salah...
Di sisi lain, Hyūga terkekeh hebat sampai perlu kedua tangan itu memeluk perut supaya tidak meledak.
“Apa yang kau rencanakan?” ucapku waswas. Bersiaga akan apa yang bakalan dilakukan gadis itu selanjutnya.
“Tidak, tidak. Tidak ada apa-apa.” Dia menggeleng tergesa-gesa. Lalu, mencondongkan tubuhnya kepadaku. “Tidak ada apa-apa, cuman lucu saja wajah Ruri kalau mengenakan kacamata. Sangat tidak cocok. Aneh. Tapi lucu.”
“Baiklah, Terima kasih. Kacamatanya kukembalikan.”
“Eeeehhhh?!”
Suasana hatinya berfluktuasi lagi. Aku yakin ekspresi yang gadis itu tampilkan kali ini di balik kabut warna itu adalah cemberut merengut dengan alis tertaut. Aku bisa menebak ekspresi yang ini, habisnya ekspresi barusan adalah salah satu ekspresi favoritnya sewaktu aku mengucapkan sesuatu tidak sesuai ekspektasinya.
“Jangan melayangkan marahmu padaku, marahnya pada Mark Zuckerberg dong. Itu bukan ideku membuat model kacamatanya bentuk begitu—“
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, darah menciprat keluar dari mulutnya. Menodai tangan kurus sang gadis. Hyūga terbatuk-batuk. Batuk agak keras dan kelihatan menyakitkan.
Menyadari hal ini, aku langsung bangkit. Memanggil perawat.
Mungkin ini sudah saatnya aku mengakhiri kunjunganku. Tapi begitu, tanganku ditahan oleh Hyūga.
“Tidak apa. Aku masih baik-baik saja, aku cukup tinggal tidak banyak bicara. Tetaplah di sini, temani aku. Tolong...”
Aku kembali terduduk. “Apa yang harus kulakukan?”
“Be..bas... Ruri...ang ten..u...kan. Akh...ku bo...an se...kali (Bebas, Ruri yang tentukan. Aku bosan di sini).”
Suaranya kini kebalikan dari suaraku dahulu.
Tidak banyak yang bisa kulakukan. Aku tidak pandai membuat lelucon, dan di sini tidak ada apa-apa juga. Jadi kuputuskan untuk bercerita saja. Tentang Minamigoto. Sekolah. Dan semua yang ada di pulau ketika Hyūga tidak ada. Mujurnya, pilihanku bercerita sudah benar. Hyūga terlihat sedikit terhibur dari ceritaku.
Lalu, pada jenak hening berikutnya, Hyūga bertanya tentang itu.
“Bagaimana ... lag..u..nya? (bagaimana dengan lagunya?)”
Tanganku mengepal di pangkuan.
“Soal itu… masih kukerjakan. Ada sedikit kendala. Kunci yang digunakan belum pas. Harus ada perubahan, dan, nada-nadanya harus sedikit diubah. Dan, dan, aku berencana menambahkan instrumen gesek sebagai latar belakangnya.”
Mengapa tidak bisa? Apa yang tidak bisa? Kenapa kata-kata yang keluar seperti itu? Apa yang salah dariku? Apa yang harus aku ubah lagi hingga bisa mengatakan yang sejujurnya?