Bagian Sepuluh:
Dunia Denganmu 1
Warna nadanya gelap, teramat tajam, terlalu dingin, juga sangat tipis. Apa-apa yang pianonya nyanyikan, bertolak belakang dengan harmoni yang ada di dunia. Ketika kucoba kembalikan kendali suara dengan akor mayor, gadis itu muncul. Seorang Gadis kecil tertunduk di bangku taman. Terisolasi dari dunia bayangan.
Berkelebat siluet di sekitarnya. Makan memakan bayangan masing-masing.
“Ayo kejar aku!”
“Tunggu, jangan tinggalkan Kaede.”
“Anak itu bagaimana?”
“Dia? Lupakan saja, katanya dia mau main piano.”
Siluet-siluet itu memasuki kabut kegelapan, meninggalkan Sang Gadis. Tidak ada yang menyadarinya, tidak ubahnya hantu. Mereka memperlakukannya. Sang Gadis menengadah, bergumam.
“Suara anginnya lucu.”
Nada-nada itu melambat. Tempo berjalan pelan dalam rumah nada F. Laun, tapi tangan-tangan ini bersimbah peluh. Siluet itu tidak mau memberi belas kasih.
Sang Gadis kembali muncul. Berdiri dalam barisan yang hanya ada dirinya seorang. Tidak menunduk, tidak bergerak, cuma memandang lurus titik imajiner pada foto seorang wanita dan pria tua.
“Lihat, si aneh masih bisa berekspresi seperti itu, padahal kakek neneknya baru saja meninggal.”
“Jangan, shhh! Dia punya pendengaran yang tajam, dia bisa mendengarmu!”
“Gadis aneh, mati saja.”
Aneh. Sang Gadis melakukan keanehan. Dia mengabaikan mereka. Malah memilih berjalan keluar barisan. Tanpa ekspresi, tanpa rasa. Tak ada bedanya dengan patung.
Bisik-bisik yang menyayat. Kata-kata yang menghunjam. Dan nada-nada yang murka. Berbaris naik…naik, tinggi…tinggi, cepat dan presisi. Meredam akor augmented 4th yang baru saja kumainkan.
Dalam kekosongan udara hampa, suara itu terdengar bergaung. PLETAK!!! Suara benda pecah. Sebuah violin.
“Apa-apaan? Kenapa kamu yang terpilih?”
“Okuda…Okuda…”
“Kau kan main piano, bukan violin tapi kenapa malah jadi violin pertama?”
“Aku…Bukan…”
“Kau menghinaku?”
Siluet itu pecah tangisnya. Air mata tak henti-hentinya keluar dari pelupuk matanya, membasahi pipinya.
“Enyahlah dari pandanganku! Pergilah saja!” Bayangan itu menghempaskan Sang Gadis jatuh. “Aku tak tahan lagi bersamamu dasar anak aneh! Anak idiot! Autis!”
Kemudian nada-nadanya terputus pada skala Dorian dan berdenting lagi. Lagi. Pada rumahnya yang baru.
Sang Gadis terduduk memeluk lutut. Memandang pianonya yang terkubur debu sembari mendengarkan headset keras-keras. Upaya yang sia-sia untuk menghalau suara dari bayangan-bayangan itu.
“Ini untuk Ruri! Pianonya harus dihancurkan!”
“Ucapanmu sungguh keterlaluan untuk seorang Ayah!”
“Orang-orang banyak membicarakannya karena kau terlalu bodoh memahaminya, pianonya yang jadi masalah!”
“Aku tidak akan membiarkan Ruri berhenti main piano!”
“Itu keinginanmu, bukan keinginannya!”
Napasku sedikit terengah. Kedua tangan ini mulai tidak teguh benar. Pergelangan tangan ini mulai terasa panas. Namun nada-nada itu tidak mau berhenti. Intensitasnya naik. Denting-dentingnya kembali bergema. Melakukan resonansi dengan suara yang ada pada sisi lain dunia.
Tangannya kerasukan. Meliuk, mengayun, naik turun, bergeser, kasar sekali.
“Aku harus menang, aku harus menang.”
Kabut kegelapan di sekitarnya beriak. Siluet-siluet yang menyaksikannya menari, pecah belah dalam ritme yang dimainkan Sang Gadis di pianonya.
Belum boleh berhenti…. Aku harus menyeimbangi kecepatannya.
Sisi baiknya, aku berhasil menyeimbagi suara pianonya. Kecepatannya sesuai. Buruknya, pergelangan tanganku mati rasa.
Kemudian, keajaiban terjadi. Kegilaan itu berhenti. Semua menjadi hening. Hening yang menyakitkan. Dalam keheningannya, suara-suara itu mulai menghentak-hentak. Suara sinusidal mendengung panjang namun lemah, hampir tidak terdengar.
Langit-langit menjadi bumi pijak, dan bumi pijak menjadi langit-langit. Gambarnya mulai terdistorsi. Palet warna tergabung dalam garis-garis yang tak lagi sejajar.
Sang Gadis berdiri di bawah lampu diskotik. Berdiri, di samping penyuara yang besarnya dua kali lipat darinya. Tidak ada gelombang akustik yang mampu menjangkau saluran pendengarannya selain suaranya sendiri yang merusak.
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus menang, aku harus menang…”
“Aku harus apa…aku harus apa…”
“Apa??? Aku harus apa?”
“Aku harus apa…. Aku harus apa?”
“Suaranya mati… suaranya menjauh…”
“Semuanya….semuanya…”
“Denging…denging…denging…denging…”
“Denging…denging…denging…denging…”
“Denging…denging…denging…denging…”
“Denging…denging…denging…denging…”
“Denging…denging…denging…denging…”
“Kenapa? Kenapa? Kenapa?”
“Kenapa? Kenapa? Kenapa?”
“Suaranya hilang, aku harus apa?”
“Denging lagi… denging lagi… kosong..”
“Sakit… sakit…sakit…sakit…sakit…”
“Sakit… sakit…sakit…sakit…sakit…”
“Sakit… sakit…sakit…sakit…sakit…”
“Sakit… sakit…sakit…sakit…sakit…”
“Sakit… sakit…sakit…sakit…sakit…”
“Sakit… sakit…sakit…sakit…sakit…”
“Hentikan ini! Tolong!”
Nada-nadanya mulai berhenti. Jeda cukup lama. Ketikanya, suara chaotic timbul. Sang Gadis yang terkapar ditindih pria itu menjerit. Histeris. Tangannya terangkat, jemari lentiknya punya kekuatan tak wajar. Mencengkram leher pria itu.
Kendali berbalik. Sang Gadis menang adu kekuatan, dia di atas sekarang. Mencekik orang itu sampai mata lawannya mau terlepas, dikendalikan ketakutan.
“Menjeritlah, berteriaklah, katakanlah sesuatu padaku!”
“Berikan aku suara supaya aku bisa menang!”
“Aku harus menang!”
Pecahan-pecahan gambarnya mulai membentuk satu. Pemandangannya berganti lagi.
Kerusuhan menjadi-jadi di dalam apartemen yang luasnya tidak melebihi 25 m2 itu. Dia menjerit-jerit, mengayunkan kapak pada piano sumber ritem janggal itu, Steinsway & Sons-nya. Suara menderak-derak, mendetak, dan jeritan itu mengabur dalam nada tajam, dingin, dan tipis.
“Ruri! Ruri! Hentikan ini Ruri!”
“Hentikan ini, Ruri, kumohon!”
Sang Gadis terlalu ganas. Nada-nada yang dikeluarkan pianonya berantakkan. Orang-orang yang ada di dekatnya tak mampu berbuat apa-apa. Siluet-siluet itu takut terbelah dua oleh kapak Sang Gadis. Maupun jeritan Sang Gadis.
“Ini salahmu! Salahmu! Kembalikan suaraku!”
Suara nyaring itu, suara power chord yang kumainkan memberikan keberanian pada seseorang yang ada dari dalam siluet itu. Dia melompat memeluk jatuh Sang Gadis.
“Hentikan, Ruri, sudah cukup!”
Berhenti. Musiknya meredam dengan sendirinya. Mengayun turun secara halus dalam fungsi eksponensial.
“Okuda?”
Sang Gadis pun menjatuhkan kapaknya ke lantai. Napasnya berhenti memburu. Matanya tidak lagi nanar mendelik. Dia tiba-tiba menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Pandangannya digeser kepada piano Steinsway & Sons yang luluh lantak di bawah kilas cahaya matahari.
Gadis itu menarik lututnya. Memeluknya erat.
“Kosong… tidak ada apa-apa…”
“Ruri? Ruri, apa yang terjadi padamu? Kau ingat aku? Ini aku Okuda, maafkan aku soal itu…”
“Tolong…” lirih Sang Gadis dengan mata sepi itu.
“Ruri, jawab aku Ruri…”
“Tolong bicaralah lebih keras, aku tuli,” ucap Sang Gadis yang mana disertai bulir-bulir tangisan keluar dari pelupuk matanya.
Kemudian, nada-nadanya benar-benar berhenti. Tidak ada maksud lain lagi. Nada-nada gelap itu berhenti sepenuhnya.
Lantas, keheningan pun datang menyelimuti tempat ini. Tanganku yang mengambang di udara, jatuh perlahan ke atas lutut. Dadaku masih kembang-kempis, keringat ini masih bercucuran di wajahku, tapi permainannya sudah berakhir. Tanpa sadar, kami saling berkontak mata.
Dia, seolah sedang menungguku mengatakan sesuatu. Tidak, dia sedang menungguku mengatakan sesuatu. Aku tahu dia menungguku, aku tahu apa yang ingin dia katakan padaku, aku sangat tahu. Karena, kami adalah satu.
“Aku tahu kau hanya ingin melindungiku dari rasa sakit, tapi dalam dunia ini rasa sakit adalah hal yang pasti. Karena itu, terima kasih banyak diriku-diriku yang lain, sudah mengajariku artinya rasa sakit. Aku sudah kuat sekarang berkat kalian.”
Sudut bibirnya pun naik beberapa derajat. Dia tersenyum. Tepat sebelum berubah menjadi debu bersama bayangan lain di cermin-cermin ini.
Dunia pasti selalu ada kesedihan dan kebahagiaan, itu sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Kesedihan ini akan membuatmu mengapresiasi sekecil apapun kebahagiaan datang, karena itulah aku harus kuat. Aku harus kuat. Sudah banyak sekali kebahagiaan yang Hyūga berikan padaku. Apapun yang terjadi berikutnya, aku harus terus melangkah. Sekalipun harus membuka perasaan-perasaan itu lagi.
Gambarnya terurai menjadi partikulat berukuran mikron. Hilang disapu angin, sehingga gambar lainlah yang tertampil. Yukiyanagi, permukaan air dangkal membentang, dan hokora. Dam piano Steinsway & Sons.
Sekarang waktunya membereskan lagu itu… bagaimana aku harus menyelesaikan bagian bridge dan refrain terakhir, ya? Apa yang sebetulnya Hyūga inginkan di sini?
Aku tahu bagaimana perasaannya ingin hidup normal seperti anak lain. Aku tahu bagaimana rasanya dalam kegelapan. Dan aku juga tahu perasaan indah itu, ketika ada seseorang mengulurkan tangan padaku, untukku lepas dari kegelapan. Jika dilihat dari lirik lagu “Dunia Tanpamu”, rasa-rasa semacam itu yang ingin Hyūga sampaikan. Sebuah lagu pertempuran karena dia masih percaya pada satu harapan. Kalau aku diminta melanjutkan bagian bridge dan refrain terakhir, aku akan menuliskan bagaimana rasanya benar-benar hidup dalam cahaya.
Tapi, kupikir itu masih belum cukup. Aku bisa membayangkan bagaimana Hyūga hidup dalam cahaya penuh tawa dan senyuman. Tapi rasanya bukan itu yang dia inginkan.
Apa yang sebenarnya gadis tanpa masa depan itu inginkan?
Aku pun menaikkan tanganku, menarik napas dalam, bersiap untuk menemukan harmoni yang hilang itu di dalam banyaknya mozaik translusenku. Ketika, tiba-tiba sebuah getaran kecil terasa dari pangkuanku. Perhatianku yang semula berada pada kedua tangan di atas tuts piano pun teralih pada pesan dari Hyūga.
Hyūga
[(Pesan suara terkirim)]
[Tadi suster memperbolehkanku bermain gitar. Bagaimana menurutmu permainan gitarku? Oh ya, kalau kau ingin, kau bisa menggunakannya.
P.S: Entah mengapa aku merasa Ruri memerlukan ini]
Sudut bibirku menekuk naik ketika membaca pesan itu. Sepertinya, aku merasa paham apa yang gadis itu inginkan. Dia tidak berbeda denganku selama ini. Lalu, balasan dariku terkirim.
Ruriko