Bagian Sepuluh:
Dunia Denganmu 2
Salah satunya yang nyata di dunia penuh ketidakpastian ini adalah kematian. Dia pasti akan datang kepada setiap makhluk yang pernah hidup di dunia. Seberapa kuat makhluk-makhluk ini lari darinya, mereka tidak akan pernah sanggup melawannya. Dia sesuatu yang sangat nyata bagi mereka sampai-sampai tercipta sendiri sebuah insting bertahan hidup dari makhluk-makhluk ini untuk kabur ketika kematian terasa dekat. Namun, saat kematian itu benar-benar datang, rasanya menjadi tidak nyata.
Gadis itu meninggal pada hari yang cerah. Satu hari cerah di bulan Maret. Beberapa hari setelah upacara kelulusan. Saat itu, banyak orang menghadiri pemakaman gadis itu. Berkebalikan dengan kehidupannya yang terang oleh senyuman, pemakamannya penuh dengan isak tangis. Berbondong-bondong orang-orang yang pernah kenal dengan gadis itu, atau keluarga gadis itu, memenuhi rumah dukanya di Shimabara. Setelahnya, adalah keheningan. Orang-orang mulai melupakan gadis itu. Orang-orang mulai sibuk pada arus hidup masing-masing. Bekerja, kembali kepada keluarga masing-masing, hingga bersekolah. Tidak ada yang berubah. Tempat-tempat itu, taman dekat ceruk yang selalu dihampiri truk toko Supermarket Minamgigoto dengan lagu ikoniknya “It’s a Small World”, The Enclat yang selalu sibuk oleh kedatangan anak-anak muda ‘nongkrong’, pun satu-satunya sekolah menengah atas di pulau. Sama sekali tidak ada yang berubah. Seakan-akan tidak pernah ada gadis bernama Hyūga Akari di sini. Dunia tetaplah dunia, hanya penghuninya saja berkurang satu. Tidak ada momen heroik, tidak ada momen dramatis, tidak ada apa-apa. Hanya penghuninya yang berkurang satu secara mendadak.
Mozaik memori tatkala gadis itu sering tersenyum di sampingku, berjalan melewati jembatan penghubung hingga berpisah pada pertigaan biasanya di bawah teduh pohon maple, semuanya perlahan menjadi ilusi. Tapi aku tetap menganggap semuanya adalah kenyataan. Bukan mimpi buruk semata. Sebab ada satu hal yang tersisa di antara kami sehingga ketidakhadirannya masih terasa nyata. Sebuah kenyataan yang kami tinggalkan masing-masing, urusan yang belum selesai. Kami berdua sama-sama belum menepati janji kami. Aku tidak tahu apakah laguku sudah sampai padanya, dan Hyūga belum mengembalikan indra pendengaranku.
Sekarang sudah musim semi. Upacara pembukaan semester baru. Aku sudah menjadi kelas dua SMA. Hidup kembali berjalan tanpamu. Kembali ‘normal’ dalam kekosongan.
Kepala sekola naik ke mimbar. Perhatian anak-anak tertuju padanya. Dia mulai berbicara tanpa suara pada murid-murid. Yang, aku yakin pasti kata-katanya tidak jauh dari penyemangat saja.
Aku merasa kali ini waktu yang tepat lagi. Untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai. Menundukkan kepala saat anak-anak lain menengadahkan pandangan. Meraih posel milik Hyūga.
Beberapa hari sebelum kematiannya, gadis itu pernah berkata kalau segala yang pernah dimilikinya akan dia berikan padaku. Mama dan Papa Hyūga yang datang tiba-tiba di depan pintu rumahku, membawakan barang-barang peninggalan Hyūga. Termasuk ponsel ini. Mereka bilang, Taksaki Ruriko adalah orang yang paling tahu kata sandi ponselnya sebab Takasaki Ruriko-lah yang mengerti tentang diri gadis itu termasuk keinginan terdalamnya. Jadi, gadis itu sengaja memberikan ponsel ini padaku.
Ponsel bergetar. Sebuah tajuk muncul di tengah layar. [Kata sandi salah].
Dia berkata kalau aku tahu kata sandi ponselnya, tapi kenyataannya hingga saat ini aku masih belum bisa membuka kunci ponsel ini.
Apa yang sesungguhnya gadis itu ingin tinggalkan di dunia ini? Warisan apa? Apa yang berusaha dia sampaikan di sini?
Mungkinkah, aku diminta melupakannya? Apakah mungkin aku harus melupakan kehadiran gadis itu dan kembali ke dalam harmoni ini? Tidak, bukan itu yang Hyūga Akari inginkan.
Apa yang gadis itu inginkan? Aku tidak mengerti.
Hyūga Akari. Dia, memang aneh. Tawanya, gerak tangannya, binar matanya, semua tentangnya sangat janggal. Tapi, entah mengapa terasa dekat. Gadis itu…