Potongan Harmoni yang Membeku

Ripley
Chapter #32

Epilog: Hyūga Akari

Epilog:

Hyūga Akari

 

“Aku tidak menginginkan ini semua, aku hanya ingin hidup seperti anak yang lain...”

Kalimatnya jelas sekali telinga ini tangkap. Walau segalanya hampa tanpa rasa, kata-kata tadi bagaikan frekuensi jiwa yang tersalurkan lewat nada-nada. Yang mana frekuensinya begitu unik sehingga hanya diriku seorang yang mampu merasakannya meski di sini gelap sekali.

Lalu, tanpa perlu Ba Bi Bu, segala-galanya yang gulita disekitarku mulai pudar. Tergantikan oleh ruang spasial baru. Sebuah ruang putih tempat hati manusia menjadi tenang. Di sana, aku yakin mendengar suara itu. Denting piano.

Aku yang tak sanggup menolak panggilan resonansi itu pun, mulai bangkit dari kursi roda. Kaki menjejak tanah. Kemudian berputar anggun mengikuti irama frekuensi barusan. Begitu lihai pun anggun, seakan-akan aku adalah seorang idola di Tokyo.

Kemudian, tarian itu berhenti. Aku menyadari seseorang lain di tempat ini. Seorang. Seorang gadis yang sedang bermain piano. Aku yakin sumber keajaiban barusan berasal dari permainan piano seorang gadis bermatau layaknya lautan itu. Sebab nada-nada yang berhambur di udara, melingkari gadis itu bagaikan cincin saturnus.

Tubuh ini tetiba ditarik menuju pusat dada. Milidetik berikutnya, diri ini tersentak bangun.

“Aku di mana?” gumamku pada langit-langit yang tidak asing. Berbeda dari tempat barusan yang kukunjungi.

Dada ini masih terasa berat. Naik turun tak teratur. Begitu pun dengan napas tak beraturan yang diembuskannya. Aku pun mengerjapkan mata, beberapa kali dalam kebingungan. Kemudian, menggerakkan tangan di depan mata.

Apa yang terjadi? Kenapa aku berada di sini? Bukannya ini kamarku di rumah sakit?

Wlau terasa nyeri sekujur tubuh, aku mengusahakan untuk membangkitkan setengah badan duduk. Terduduk menhadap jendela. Di luar sana, teronggok sebuah kota pelabuhan yang dikelilingi gunung tiap sisinya. Nagasaki.

Ini kota Nagasaki, kenapa aku bisa di sini?

Aku coba mencubit pipiku berulang kali. Memang, ada rasa-rasa sakit di sana. Di paha dan lengan juga. Terasa sakit ketika dicubit. Ini artinya aku masih di dunia.

Tetap pada detik itu, terdengar suara denting piring yang pecah. Kualihkan pandang ke sumber suara. Itu Mama. Dia diam saja membeliak.

“Mama, kenapa aku di sini?”

“Akari,” ucapnya.

Yang lalu, wanita itu memelesatkan diri ke arahku. Memberikan pelukan beruang padaku. Begitu erat hingga dada ini sesak lagi.

Mama melepas pelukan itu. Matanya berkaca-kaca ketika aku tanya alasan aku berada di kamar ini lagi. Mama menjawab dengan satu kata saja. Satu kata saja tapi mampu membuatku berpikir. Aku jatuh koma selama satu tahun penuh. Mama berkata kalau tepat pada kelulusan SMP, di perjalanan menuju sekolah aku jatuh tidak sadarkan diri. Mereka membawaku ke rumah sakit. Merawat tubuh tanpa jiwa ini untuk bertahan satu tahun lagi. Dan dokter-dokter ini berhasil. Aku terbangun ke dunia nyata lagi.

Banyak alasan yang dokter katakan padaku perihal mengapa aku jatuh koma. Semuanya masuk akal sekaligus tidak masuk akal. Jelas-jelas tubuhku dalam kondisi kritis. Kering kerontang, rambut hilang, dan jantung yang berhenti berdegup beberapa saat dalam satu tahun itu. Tapi aku tetap kembali.

“Kenapa?”

Hanya kata itu yang muncul dalam benakku. Usiaku tidaklah lama lagi. Dokter-dokter ini tahu itu.

“Saya rasa, dewa belum mengizinkan Akari berpulang. Ini keajaiban,” kata dokter itu.

Mendengar kalimat barusan, Mama dan Papa yang ada di sampingku sontak menangis tersedu sedan. Mendekapku erat. Tidak mau lepas. Seolah aku baru saja bangkit dari kematian. Ya, fakta ini tidak salah juga. Aku baru bangkit dari mati suri.

“Mama, Papa, Akari baik-baik saja sekarang,” ucapku dengan nada ditahan agar terdengar meyakinkan.

Satu bulan berlalu semenjak kejadian itu. Aku memang baik-baik saja. Tubuhku mulai terisi lagi. Rambutku tumbuh lagi dengan cepat. Dan aku sudah bisa berjalan berkat terapi rutin yang disarankan dokter. Semua berjalan lancar.

“Iya, tidak salah, aku memang hidup lagi.”

Aku memang hidup lagi. Dilihat dari cerita Mama dan Papa, jelas sekali aku ini sempat mati lalu hidup lagi. Setelah koma satu tahun penuh, akhirnya jantung ini memang berhenti berdetak. Dokter dan keluarga sudah hampir menyerah. Mereka sudah siap untuk kepergianku, Mama bahkan ingin melihatku untuk yang keterakhir kalinya. Tapi saat itulah aku tiba-tiba terbangun.

Anggap saja keajaiban barusan nyata. Aku memang bisa bernapas di bumi ini lagi. Tidak ada yang aneh. Hanya saja, yang menjadi masalah besar adalah tubuhku ini.

Aku memalingkan wajahku ke samping kiri. Kemudian, beberapa detik berikutnya memalingkannya ke samping kanan. Mengamati pipi sebelah kanan diriku pada banyanganku di cermin.

“Hmmm. Aku memang hidup, cuman rasanya seperti hidup menggunakan tubuh orang lain,” gumamku pada bayanganku.

Tangan meremas payudara. Memainkan kedua payudara itu. Bulat dan kencang. Kemudian tangan ini bergerak ke kaki. Kulit pada kakiku halus nan lembut. Jenjang, mirip porselen.

Apa karena seseorang mengalami koma, tubuh mereka tiba-tiba tumbuh tidak wajar? Tidak, tidak mungkin. Apa karena aku anak SMA sekarang, jadi tubuhku berubah drastis? Kalau aku melakukan olahraga, atau gimnastik, mungkin saja. Tapi setahun dalam kematian itu aku tidak melakukan apa-apa. Jelas-jelas ini bukan tubuhku. Aku seperti sedang menggunakan tubuh seseorang.

Aku pun mendesah. Memutuskan kembali ke kelas. Duduk malas merebahkan setengah tubuh di atas meja.

Terdengar derap langkah kaki tergesa-gesa kemari. Seseorang memanggilku.

“Yo, Bakarin.”

Kepalaku terangkat. “Apa, Yume-senpai?”

Dia menghajar lengan kiriku. “Jangan tambahkan -senpai di belakang dong, kita ini seumuran!”

“Sepertinya mulai sekarang tidak,” kataku diiringi tawa riang.

Yume menampilkan wajah cemberutnya yang khas. Berkacak pinggang. Sebab inilah dia jadi pusat perhatian teman-teman sekelasku. Tidak suka diperhatikan, gadis itu melemparkan tatapan garang kepada semua orang. Orang-orang berhenti menatapnya.

“Ya, jadi apa gerangan datang kemari, Senpai? Mau melihat kouhai-mu yang imut ini?”

“Berhentilah berpura-pura, aku tahu Bakarin sedang berdusta sekarang.”

Tanpa aku sadari mulut ini manyun sempurna. Kepala kembali merebah di lipatan tangan.

“Ini, cerialah. Aku membawakan kabar bagus untukmu.”

“Hm...? kabar baik?”

Yume mengeluarkan ponselnya dari saku, menunjukkan padaku layar ponselnya yang sedang pada laman artikel tertentu. “Musisi yang kau cari-cari, aku menemukannya.”

Tanpa ragu, tanpa embel-embel, tangan ini merebut ponsel dari tangan Yume.

“Bohong deh.”

Mataku tak henti-hentinya menekuri tajuk artikel itu.

Pianis jenius dari prefektur Nagasaki memenangkan solo piano di Festival Musik Internasional Yokohama, mengalahkan puluhan kontestan dari tanah air dan luar negeri. Takasaki Ruriko si Gadis Piano.

Lalu, pada bagian bawah artikel itu dimuat sebuah gambar seorang gadis mengenakan seragam sekolah model pelaut sedang bermain piano di atas panggung. Mata gadis itu begitu khas. Indah berwarna biru laut.

Masih tidak bisa berkata-kata, hening yang agak lama, Yume pun menarik kursi kosong di depan. Duduk di sana.

“Dia sedang berada di Tokyo. Bersekolah di sekolah kejuruan musik ternama di Tokyo. Wajar tidak menemukannya di Nagasaki. Toh dia sudah tidak di sini.”

Alis ini tertaut. “Kau yakin dia orangnya?”

“Tentu saja, dia SD di kota selatan Minamigoto. Dia jadi perwakilan sekolah dalam acara peresmian terminal feri baru di pelabuhan. Waktu yang pas sekali ketika Akari masih pakai kursi roda berkunjung ke pulau ini. Besoknya Akari berubah drastis.”

“Tidak mungkin tidak sih?” Aku membalikkan ponsel Yume dengan kasar di atas meja; Mata sobatku ini membola sekali. “Habisnya gadis piano ini, aneh. Matanya.”

“Anah matanya? Benar kok biru laut warna matanya, dan tolong jangan perlakukan Iphone-chanku dengan kasar!”

Kurebahkan kepalaku lagi. Cemberut luar biasa.

“Habisnya mata Takasaki Ruriko yang ini seperti ikan mati, padahal dia lagi main piano. Beda sekali dengan tatapan pianis itu.”

“Tidak terpikirkan oleh otak sedengmu itu kalau bisa saja warna matanya berbeda karena efek pencahaayaan?”

“Sama sekali tidak.”

Gadis itu mendengus sebal. Dia pun bangkit. Tepat sekali ketika bel berdering.

“Pokoknya, aku sudah melakukan tugasku. Sisanya terserah padamu saja. Mau langsung terbang ke Tokyo menemuinya karena uangmu kebanyakan, atau datang menemui Ibu Takasaki di kota selatan. Mau melupakan pianis itu dan fokus pada sisa waktumu pun tidak masalah. Aku cuman ingin Akari bahagia. Dua tahun bukanlah waktu yang lama.”

“Hm. Ya, benar juga.”

Gadis itu pun berpaling. Melangkah pergi meninggalkan kelasku.

“Ano, Yume, hari ini kau kosong?”

Lihat selengkapnya