Desember 2001
Mentari senja memerah keemasan, menimpa hamparan sawah hijau kekuningan yang membentang di sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Butiran padi berkilauan diterpa cahaya sore, sementara sisa air hujan siang tadi masih menempel di ujung-ujung daunnya.
Aku duduk di samping jendela kereta yang sejak beberapa jam lalu melaju meninggalkan stasiun Kota Bandung. Tak kusangka, perjalanan ini menyuguhkan pemandangan seindah ini. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di wajahku—rasa syukur sederhana dengan desain-Nya yang maha sempurna.
Keningku bersandar pada kaca jendela yang dingin. Aku mencoba memejamkan mata, memangkas waktu dengan tidur yang tak benar-benar datang.
Perlahan, pemandangan di luar berubah. Hamparan sawah berganti menjadi deretan genting—atap-atap rumah yang dari kejauhan tampak seperti lautan berwarna oranye. Orang-orang dan kendaraan terlihat berlalu-lalang di samping perlintasan kereta.
Aku menghela napas panjang, memikirkan langkah-langkah yang harus kujalani setelah turun nanti. Perjalanan ini—dari Bandung menuju Jakarta—bukan sekadar perpindahan tempat. Aku datang untuk menjalani mata kuliah praktikum, sebuah tahap yang menuntut lebih dari sekadar memahami teori: mengaplikasikan apa yang telah dipelajari menjadi sebuah karya ilmiah.
Praktikum bukan sekadar latihan, tapi jembatan—pengantar menuju tahap akhir sebagai mahasiswa. Praktikum ini dirancang agar kami tidak kebingungan saat mulai menulis skripsi. Kegiatan ini bisa dianggap sebagai latihan membuat karya ilmiah, dengan pendekatan yang lebih aplikatif.
“Secara garis besar, mata kuliah praktikum melibatkan aktivitas di luar ruang kelas. Bisa berupa simulasi diplomasi, negosiasi antarnegara, analisis krisis internasional, bahkan observasi lapangan bila memungkinkan. Tujuannya adalah memberi kalian pengalaman nyata—membiasakan kalian menghadapi dinamika hubungan internasional secara langsung, bukan hanya lewat buku.”
Potongan kilas balik perkuliahan Pak Rama—dosen mata kuliah praktikum—yang justru menimbulkan sensasi mual di perutku.
Aku menelan ludah, mencoba mengusir perasaan itu, tapi bayangan suara beliau tetap terngiang. Kalimat-kalimat yang dulu terdengar penuh semangat, kini berubah menjadi beban yang menekan.
Menjadi mahasiswa Hubungan Internasional, praktikum seharusnya menjadi kesempatan berharga—pengalaman langsung sebagai pelaku dalam dinamika global. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya berbeda.
Bukan antusiasme yang muncul.
Melainkan kegelisahan yang perlahan merayap.
Seolah perjalanan ini bukan sekadar menuju Jakarta, melainkan menuju sesuatu yang belum siap kuhadapi.
Dalam praktiknya, kegiatan ini dilaksanakan dalam tim. Setiap mahasiswa diberikan kemudahan agar proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan cepat dan efisien—satu tim terdiri dari empat orang.
Aku, Aristian, di samping, temanku, Ali menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, matanya terpejam. Aku tahu ia belum benar-benar tertidur—hanya mencoba, sama sepertiku.
“Sudah sampai mana ris?” Ali bertanya padaku, dengan mata yang masih terpejam.
“Entahlah” seruku singkat.
Di kursi depanku, Fahmi dan Surya tampaknya sudah lebih dulu berhasil masuk ke alam bawah sadar mereka. Napas mereka terdengar teratur, sesekali tubuh mereka bergoyang mengikuti laju kereta.
Aku memalingkan pandangan kembali ke jendela. Kembali menatap luar jendela. Perjalanan ini masih panjang?.
Dan entah kenapa, semakin dekat ke tujuan, perasaan itu justru semakin kuat—sebuah firasat yang sulit dijelaskan, namun cukup untuk membuat dadaku terasa berat.
Apakah aku bisa melaksanakan tugas ini? Apakah aku bisa menjadi pelaku hubungan internasional? Apakah aku bisa memuaskan para dosen ketika karya ilmiah kami di uji mereka?
Kereta melaju stabil, suara roda yang bergesekan dengan rel terdengar semakin nyaring di telingaku—berulang, ritmis, seperti metronome yang menghipnotis. Lampu di dalam gerbong menyala redup, sesekali berkedip halus, hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan.
Di seberang tempat duduk kami, teman seperjungan— Yuli, Dias, Siti, dan Dina mengobrol santai. Tawa mereka pecah sesekali, ringan dan tanpa beban—seolah perjalanan ini hanyalah bagian kecil dari petualangan menyenangkan yang akan mereka kenang nanti.
Sebenarnya kami tidak satu kelompok dengan para wanita itu. Kebetulan saja tujuan kami sama—menuju Jakarta—dan kami mendapat mandat dari orang tua mereka untuk mengawal selama di sana.
Membawa mereka ikut serta memberi kami, para laki-laki, sedikit memberi keuntungan. Kami tidak perlu repot memikirkan mencari tempat menginap—mereka lebih tahu mana tempat yang nyaman untuk ditinggali selama di Jakarta.
Aku sempat mencoba ikut tersenyum, mendengarkan obrolan mereka dari kejauhan. Namun entah kenapa, fokusku selalu kembali pada jendela di sampingku.
Pukul tiga sore, kereta perlahan melambat. Getaran di lantai berubah—tidak lagi konstan, melainkan tersendat pelan, seolah napas panjang yang ditahan. Dari jendela, gedung-gedung tinggi terlihat berdiri di kejauhan, menjulang seperti raksasa yang diam mengawasi.
Suasana dalam gerbong seketika berubah. Orang-orang mulai berkemas—resleting tas dibuka dan ditutup, barang-barang diambil dari rak atas, suara langkah kecil saling bersahutan. Beberapa penumpang mulai menelepon, memberi kabar bahwa mereka hampir tiba.
“Ris, nyampe?,” kata Ali sambil menepuk pahaku.
Aku mengangguk pelan.
Kusenggol ujung sepatu Fahmi dengan kakiku. “Mi, nyampe,” ucapku, mencoba menarik perhatiannya.