PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #1

Mahkota di Balik Jemari

Lampu gantung kristal di tengah ruangan memancarkan cahaya lembut, memantulkan kilau elegan pada deretan botol gel polish yang tersusun rapi di rak dinding. Aroma bunga melati berpadu dengan wangi aromaterapi memenuhi udara, menciptakan suasana hangat sekaligus menenangkan.

Grenia Virginia berdiri di depan cermin besar salon miliknya. Dengan gerakan tenang, ia merapikan sanggul rambutnya hingga tak ada sehelai pun yang terlepas. Garis wajah ovalnya tampak anggun dalam pantulan cermin, sementara sorot matanya memancarkan keteduhan yang berpadu dengan wibawa. Senyumnya lembut, tetapi menyimpan ketegasan seorang perempuan yang telah ditempa oleh berbagai ujian hidup.

Di atas meja kerja, ia menuangkan setetes minyak aromaterapi tradisional ke telapak tangan. Kedua tangannya digosok perlahan hingga terasa hangat, lalu diangkat mendekati wajah untuk menghirup aroma rempah yang menenangkan.

Ritual sederhana itu telah menemaninya sejak kecil.

Ibunya di Kediri mengajarkan bahwa setiap pekerjaan yang dimulai dengan hati yang tenang akan menghasilkan keberkahan. Karena itu, bagi Grenia, minyak tersebut bukan sekadar wewangian. Ia adalah pengingat akan akar, doa, dan nilai-nilai luhur yang tetap dijaganya meski kini hidup di tengah hiruk-pikuk kota besar.

Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah foto kecil yang terselip di sudut cermin.

Sevgi.

Putra semata wayangnya.

Senyum polos anak itu selalu berhasil menghangatkan sekaligus meremas hatinya. Demi keamanan dan pendidikan yang lebih baik, Sevgi untuk sementara tinggal bersama neneknya di Kediri. Keputusan itu memang berat, tetapi Grenia tahu itulah pilihan terbaik untuk saat ini.

Statusnya sebagai seorang ibu tunggal kerap menjadi bahan bisik-bisik orang. Tidak sedikit yang memandangnya sebelah mata, seolah seorang perempuan tak mungkin mampu berdiri tegak tanpa pendamping hidup.

Namun Grenia tak pernah sibuk membuktikan apa pun kepada mereka.

Ia memilih membuktikannya melalui kerja keras.

Salon nail art yang berdiri megah di hadapannya bukan hadiah dari siapa pun. Setiap kursi, setiap meja, setiap botol kuteks, bahkan lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruangan, semuanya dibangun dari hasil perjuangannya sendiri.

Di tempat inilah ia belajar bahwa mahkota seorang perempuan bukan selalu terbuat dari emas, melainkan dari keteguhan hati dan kemandirian yang ditempa setiap hari.

"Aku merindukanmu, Sevgi," bisiknya lirih sambil mengusap bingkai foto itu dengan ujung jemari. "Ibu akan segera menjemputmu."

Jarum jam dinding tepat menunjuk angka sembilan pagi.

Saatnya memulai hari.

Bel berbunyi pelan ketika pintu kaca salon terbuka.

Lima perempuan muda melangkah masuk mengenakan apron merah muda yang tersetrika rapi. Mutia, Aini, Imah, Ami, dan Ratna langsung menuju posisi masing-masing tanpa perlu diperintah dua kali.

Di luar jam kerja, Grenia memperlakukan mereka layaknya adik sendiri.

Namun begitu pintu salon dibuka, hubungan itu berubah menjadi hubungan profesional.

Tidak ada yang keberatan dengan aturan tersebut.

Justru ketegasan Grenia membuat mereka merasa dihargai sebagai pekerja profesional.

"Aini, tolong bacakan jadwal hari ini."

Aini segera membuka tablet di meja resepsionis.

"Hari ini penuh, Mbak Gre. Jam sepuluh ada Bu Retno untuk manicure. Jam satu siang Ibu Sandra, pelanggan VVIP. Setelah itu masih ada tiga pelanggan reguler yang sudah melakukan reservasi sejak kemarin."

Grenia mengangguk kecil.

"Bagus. Pastikan seluruh peralatan sudah melalui proses sterilisasi."

"Sudah kami cek ulang, Mbak," jawab Imah.

"Mutia dan Imah pegang jadwal pagi. Ami dan Ratna bersiap untuk sesi siang. Kalau ada perubahan jadwal, segera beri tahu saya."

"Baik, Mbak Gre."

Jawaban mereka terdengar hampir bersamaan.

Tak ada suara gaduh.

Tak ada tawa berlebihan.

Yang terdengar hanyalah kesibukan kecil sebuah salon yang dikelola dengan disiplin, kepercayaan, dan rasa saling menghormati.


Menjelang pukul satu siang, suasana salon tetap tenang meski seluruh kursi pelayanan hampir terisi. Musik instrumental mengalun lembut di setiap sudut ruangan, berpadu dengan aroma khas produk perawatan yang menenangkan. Aktivitas para terapis berlangsung rapi dan teratur, menciptakan kesan eksklusif bagi setiap pelanggan yang datang.

Pintu kaca kembali berdenting pelan.

Seorang wanita berpenampilan elegan melangkah masuk. Tas kulit bermerek menggantung di lengannya, sementara penampilannya yang berkelas memancarkan aura seorang pebisnis mapan.

"Ibu Sandra sudah datang," ucap Aini sambil menyambut dengan senyum ramah.

Grenia menghampiri sendiri pelanggan VVIP tersebut.

"Selamat siang, Bu Sandra. Silakan."

Wanita itu membalas senyum tipis sebelum duduk di kursi khusus yang memang disediakan bagi pelanggan prioritas.

"Saya ingin warna yang memberi kesan kuat," katanya sembari meletakkan kedua tangannya di atas bantalan manicure. "Entah kenapa akhir-akhir ini saya merasa kehilangan semangat. Bisnis sedang banyak masalah."

Grenia memperhatikan jemari pelanggan itu sejenak.

Lihat selengkapnya