PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #2

Pria Misterius di Dalam Mimpi

Deru mesin sedan hitam itu perlahan menghilang di balik tikungan jalan, menyisakan keheningan yang terasa ganjil di depan salon. Grenia Virginia masih berdiri di ambang pintu, menatap ke arah mobil yang semakin menjauh hingga akhirnya lenyap dari pandangan.

Kotak kayu jati kuno di tangannya terasa jauh lebih berat daripada ukuran sebenarnya.

Bukan karena bobotnya, melainkan karena misteri yang seolah berdenyut dari balik ukiran naga dan bunga Wijaya Kusuma yang menghiasi permukaannya. Segel lilin merah di atas tutup kotak masih utuh, memancarkan kesan bahwa benda itu telah lama menunggu seseorang untuk membukanya.

Tanpa sadar, jemari Grenia menggenggam kotak itu sedikit lebih erat.

Kepekaan batin yang diwariskan ibunya sejak kecil kembali bergetar pelan.

Ada sesuatu yang hidup...

Bukan makhluk.

Bukan pula energi jahat.

Melainkan sebuah panggilan yang begitu asing, tetapi terasa sangat akrab di dalam relung jiwanya.

Grenia menarik napas panjang.

Ia memaksa dirinya tetap tenang.

Apa pun isi kotak itu, malam ini bukan waktu yang tepat untuk mengambil keputusan tergesa-gesa.

Saat hendak melangkah masuk kembali ke salon...

"Mbak Gre! Belum pulang?"

Suara ceria itu langsung memecahkan lamunannya.

Grenia menoleh.

Mutia dan Aini berjalan menghampiri dari arah kedai minuman di seberang jalan. Keduanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangan, sama sekali tidak menyadari gejolak yang baru saja terjadi beberapa menit sebelumnya.

Dengan gerakan senatural mungkin, Grenia segera memasukkan kotak kayu itu ke dalam tas kain besar yang terletak di balik meja kasir.

Ia tidak ingin rasa penasaran pegawainya berubah menjadi kekhawatiran yang tak perlu.

"Belum," jawabnya sambil tersenyum hangat. "Baru saja mau menutup salon."

"Kami sengaja menunggu Mbak Gre," ujar Aini penuh semangat. "Perutku sudah protes dari tadi. Bagaimana kalau kita makan malam dulu?"

Mutia langsung mengangguk.

"Di dekat perempatan ada warung sate yang baru buka. Kata orang-orang, rasanya enak sekali."

Grenia tertawa pelan.

Setelah hari yang panjang, ajakan sederhana seperti itu terasa begitu menyenangkan.

"Boleh. Kebetulan aku juga lapar."

Tak butuh waktu lama, mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya keemasan di atas aspal yang masih menyimpan sisa hangat matahari.

Warung sate yang dimaksud ternyata sederhana, tetapi ramai oleh pengunjung.

Aroma daging yang dibakar di atas bara langsung menggoda indera penciuman.

Mereka memilih duduk di meja kayu yang berada di sudut warung.


"Selamat malam, Mbak. Baru pertama kali ya? Mau coba sate ayam?" tanya penjual sate dengan ramah.


"Iya, Pak. Tiga porsi sate ayam."


"Siap."


Selama menunggu pesanan datang, obrolan mereka mengalir ringan.

Aini sibuk bercerita tentang pelanggan yang terus memuji hasil nail art buatan Ratna.

Mutia sesekali menimpali dengan candaan yang membuat mereka bertiga tertawa.

Grenia ikut larut dalam suasana hangat itu.

Di luar salon, ia memang tidak pernah membatasi dirinya untuk berbincang santai dengan para pegawainya.

Namun, ada satu batas yang selalu dijaganya.

Mereka boleh merasa dekat.

Tetapi rasa hormat tidak boleh hilang.

Begitu pula dirinya.

Ia ingin menjadi pemimpin yang mampu merangkul tanpa kehilangan wibawa.

Tak lama kemudian, tiga porsi sate ayam tersaji di atas meja.

Asap hangat mengepul bersama aroma bumbu kacang yang menggugah selera.

"Makan, Mbak," ujar Mutia.

"Kalau terus begini, nanti yang demo bukan cuma perut Aini."

Mereka kembali tertawa.

Malam itu terasa begitu sederhana.

Tak ada pembicaraan tentang pekerjaan.

Tak ada keluhan mengenai pelanggan.

Tak ada gosip murahan.

Yang ada hanyalah tiga perempuan yang menikmati makan malam setelah menjalani hari yang melelahkan.

Sesekali Grenia memandangi langit malam.

Entah mengapa...

Lihat selengkapnya