Detak jarum jam dinding di ruang tamu terdengar semakin nyaring, seolah mengikuti irama jantung Grenia yang masih belum sepenuhnya tenang. Perlahan, ia menoleh ke arah jam tua yang tergantung di dinding. Seketika matanya membelalak.
Pukul 06.25.
"Astaghfirullah..."
Napasnya tercekat. Baginya, mimpi semalam terasa hanya berlangsung beberapa saat. Namun, kenyataannya waktu telah melesat begitu jauh hingga matahari mulai menghangatkan pagi.
Rasa bersalah segera menyergap. Sejak kecil, ibunya selalu mengajarkan bahwa salat adalah tiang kehidupan, seberat apa pun masalah yang dihadapi. Tanpa berpikir panjang, Grenia meletakkan kembali kotak jati kuno itu di atas meja, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Air wudu yang dingin membasuh wajahnya, perlahan mengusir sisa kegelisahan akibat mimpi aneh semalam. Setelah itu, ia membentangkan sajadah dan menunaikan salat Subuh secara qadha dengan khusyuk.
Dalam sujudnya yang panjang, hanya satu doa yang terus berulang.
"Ya Allah... jika semua ini adalah jalan-Mu, berikanlah aku kekuatan untuk menjalaninya. Namun jika ini adalah ujian, jangan biarkan keluargaku ikut menanggungnya."
Usai berdoa, Grenia duduk beberapa saat di tepi ranjang. Pandangannya kosong menatap lantai.
Kotak itu.
Mimpi itu.
Nama Gusti Teguh Wijaya Kusuma.
Semuanya terus berputar di dalam kepalanya tanpa henti.
Ia sadar, hari ini pikirannya mustahil bisa fokus bekerja seperti biasa. Jika memaksakan diri melayani pelanggan dalam keadaan seperti ini, justru profesionalitas yang selama bertahun-tahun ia bangun bisa runtuh hanya karena satu kesalahan kecil.
Grenia meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi pesan.
Mutia, Aini. Maaf menghubungi sepagi ini. Hari ini saya ada urusan keluarga yang mendesak sehingga baru bisa datang ke salon menjelang sore. Tolong pegang operasional salon seperti biasa. Jika ada kendala, langsung hubungi saya. Terima kasih.
Tak sampai semenit, tanda centang berubah menjadi biru.
Balasan pertama datang dari Mutia.
Baik, Mbak Gre. Jangan khawatir. Salon kami tangani. Semoga urusannya lancar.
Disusul pesan dari Aini.
Siap, Mbak. Semua jadwal pelanggan tetap berjalan seperti biasa. Mbak fokus saja menyelesaikan urusannya.
Senyum tipis terukir di wajah Grenia.
Selama ini ia tidak pernah salah memilih orang. Mutia dan Aini memang layak menjadi tangan kanan yang ia percaya.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Kini...
Tidak ada lagi alasan untuk menunda.
Perlahan, Grenia kembali duduk di depan meja ruang tamu.
Kotak kayu jati itu masih berada di tempat semula.
Ukiran naga dan garuda pada permukaannya tampak semakin hidup ketika diterpa cahaya matahari pagi yang menyelinap melalui jendela. Di bagian tengahnya, segel lilin merah berlambang Wijaya Kusuma masih menempel utuh, seolah menunggu keberanian seseorang untuk mematahkannya.
Jemari Grenia terangkat perlahan.
Sesaat ia ragu.
Namun rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya.
Dengan tarikan napas panjang, ia menekan ujung segel itu.
Krek...
Suara patahan lilin menggema pelan di dalam ruangan yang sunyi.
Tak ada jalan untuk kembali.
Dengan hati-hati, Grenia mengangkat tutup kotak tersebut sedikit demi sedikit.
Perlahan, tutup kotak jati itu terbuka sepenuhnya.
Seberkas aroma kayu cendana yang lembut langsung menguar, memenuhi ruang tamu dengan wangi yang begitu khas. Harum itu terasa asing, namun di saat yang sama membangkitkan keakraban yang sulit dijelaskan, seolah Grenia pernah menciumnya pada masa yang telah lama terlupakan.
Ia menahan napas.
Bukan emas.
Bukan tumpukan uang.