Kemang tak pernah benar-benar tidur.
Sejak matahari mulai meninggi, kawasan elite di Jakarta Selatan itu kembali dipenuhi denyut kehidupan. Deretan kafe bergaya modern mulai menerima pelanggan pertama, butik-butik mewah membuka pintunya, sementara kendaraan silih berganti memenuhi ruas jalan yang semakin padat menjelang siang.
Di balik hiruk-pikuk itu, Grenia Virginia melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang teduh. Pepohonan rindang di halaman membuat suasana tempat tinggalnya terasa jauh lebih tenang dibandingkan keramaian yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana.
Sebelum mengunci pintu, pandangannya sempat beralih ke arah lemari pakaian di dalam kamar.
Kotak jati kuno itu tetap ia simpan di tempat paling aman, tersembunyi di balik tumpukan selimut tebal dan pakaian musim hujan yang jarang digunakan. Ia sengaja tidak membawanya ke salon. Apa pun isi dan rahasia di balik benda itu, Grenia tidak ingin kehidupan profesionalnya bercampur dengan urusan pribadi yang sama sekali belum ia pahami.
Baginya, salon adalah tempat bekerja.
Di sanalah ia membangun mimpi, membayar gaji lima pegawainya, dan mengumpulkan setiap rupiah demi masa depan putra semata wayangnya.
Tak ada ruang bagi misteri untuk mengganggu semua itu.
Grenia meraih tas tangan kulit berwarna cokelat, lalu mengenakan jaket tipis sebelum melangkah menuju teras. Di samping motor matik miliknya, sebuah bangku kayu sederhana berdiri di bawah rindangnya pohon mangga yang telah tumbuh jauh sebelum ia menyewa rumah tersebut.
Ia belum segera menyalakan mesin.
Sebaliknya, Grenia duduk lebih dulu.
Ada satu kebiasaan yang hampir tak pernah ia lewatkan ketika memiliki waktu senggang sebelum bekerja.
Mendengar suara dua orang yang selalu menjadi alasan terbesar dirinya bertahan di tengah kerasnya kehidupan Jakarta.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, lalu menekan nama kontak yang paling sering ia hubungi.
Ibu.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Tak lama kemudian, layar ponselnya menampilkan wajah teduh sang ibu. Latar belakang rumah joglo di Kediri terlihat jelas, lengkap dengan halaman yang dipenuhi tanaman bunga dan sinar matahari pagi yang hangat.
"Assalamu'alaikum, Ibu."
"Wa'alaikumsalam, Nduk Gre."
Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat hati Grenia terasa lebih ringan.
"Bagaimana kabarmu di Jakarta? Sehat, kan? Jangan terlalu sering begadang. Ibu khawatir kamu terlalu memaksakan diri bekerja."
Grenia tersenyum lembut.
"Alhamdulillah sehat, Bu. Salon juga ramai seperti biasa."
Ia sengaja tidak menceritakan alasan dirinya baru akan datang ke salon menjelang sore. Kotak misterius itu masih terlalu sulit dijelaskan, bahkan kepada orang yang paling ia percaya.
Tatapannya kemudian bergerak ke balik layar.
"Sevgi mana, Bu? Sudah pulang sekolah?"
Belum sempat ibunya menjawab, layar ponsel bergoyang pelan.
"Ibuuu!"
Suara riang itu langsung memenuhi telinga Grenia.
Wajah mungil Sevgi muncul memenuhi layar dengan senyum lebar yang selalu berhasil menghangatkan hati ibunya.
"Ibu kapan pulang? Sevgi kangen!"
Seketika, semua beban yang sejak semalam memenuhi kepala Grenia seolah luruh begitu saja.
Di hadapan banyak orang, ia dikenal sebagai perempuan tangguh yang membangun usaha dari nol.
Namun, di hadapan anaknya...
Ia hanyalah seorang ibu yang setiap hari berjuang menahan rindu.
Grenia tersenyum lebar melihat putra semata wayangnya yang tampak semakin ceria.
"Anak Ibu lagi ngapain?"
"Aku baru selesai makan siang, Bu! Tadi Nenek masak sayur lodeh. Enak banget!" jawab Sevgi antusias.
"Wah, hebat. Sayurnya dihabiskan?"
"Iya! Sampai nambah."
Grenia terkekeh pelan. "Pantes anak Ibu makin pintar."
Sevgi segera menganggukkan kepala dengan bangga.
"Ibu... kemarin aku dapat nilai seratus."
"Masa? Nilai apa?"
"Tugas menggambar!"
Bocah itu berlari sebentar meninggalkan layar, lalu kembali sambil membawa selembar kertas gambar. Dengan penuh semangat ia mengangkat hasil gambarnya ke depan kamera.
"Lihat, Bu!"
Meski kualitas video tidak terlalu jernih, Grenia masih bisa melihat hamparan sawah hijau, gunung, langit biru, dan sebuah rumah sederhana yang digambar menggunakan pensil warna.
Cantik.
Sederhana.
Namun penuh kehidupan.
"Wah... bagus sekali." Senyum Grenia semakin lebar. "Anak Ibu memang hebat."
Sevgi tersipu malu.
"Nanti kalau Ibu pulang, boleh dibelikan pensil warna yang besar?"
"Boleh."