Sore mulai merambat turun di kawasan Kemang. Cahaya matahari yang semula terik perlahan berubah menjadi semburat jingga keemasan, memantul lembut di dinding-dinding kaca gedung dan etalase pertokoan. Aroma kopi yang baru diseduh dari kafe di seberang jalan bercampur dengan semilir angin yang membawa harum bunga dari taman kota di sudut kawasan itu.
Grenia Virginia melambatkan laju sepeda motor matiknya sebelum memasuki area parkir salon nail art miliknya. Mesin dimatikannya perlahan, lalu ia melepaskan helm dan merapikan rambut yang dikuncir sederhana ke belakang. Sesaat, ia memanfaatkan pantulan kaca spion untuk membenarkan kerah seragam kerjanya.
Napas panjang diembuskannya pelan.
Percakapan bersama ibu dan Sevgi siang tadi masih membekas hangat di dalam hati. Untuk pertama kalinya sejak kedatangan kotak misterius itu, pikirannya terasa sedikit lebih ringan.
Setelah memastikan motornya terkunci dengan baik, Grenia melangkah menuju pintu utama salon.
Ting...
Bunyi bel kecil di atas pintu kaca menyambut kedatangannya dengan nada yang begitu akrab.
Suasana di dalam salon langsung terasa menenangkan.
Pendingin ruangan bekerja lembut, diiringi alunan musik instrumental yang mengalun pelan. Aroma essential oil lavender bercampur dengan wangi produk perawatan kuku memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang nyaman bagi setiap pelanggan.
Pandangan Grenia berkeliling sejenak.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada mobil sedan hitam berpelat khusus.
Tidak ada pria berjas hitam yang berdiri di luar salon.
Tidak ada pula sensasi dingin yang sempat membuat bulu kuduknya berdiri semalam.
Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya.
Di salah satu meja perawatan, Imah dan Ratna sedang menyelesaikan sentuhan akhir nail art bertabur glitter perak pada kuku seorang pelanggan tetap. Sesekali keduanya mengobrol pelan, diselingi tawa kecil sang pelanggan.
Di meja lain, Ami terlihat fokus memijat jemari seorang wanita paruh baya dengan gerakan yang lembut dan terukur. Wajah pelanggan itu tampak jauh lebih rileks dibanding saat pertama datang.
Melihat pemandangan itu, sudut bibir Grenia terangkat membentuk senyum tipis.
Meski ia datang lebih sore dari biasanya, salon tetap berjalan rapi.
Disiplin dan profesionalisme yang selama ini ia tanamkan rupanya telah tumbuh menjadi budaya kerja yang dipahami seluruh pegawainya.
Baru saja ia hendak melangkah menuju ruang kerjanya, sebuah suara berbisik penuh antusias memanggilnya.
"Mbak Gre..."
Grenia menoleh.
Mutia berdiri di dekat meja resepsionis sambil melambai kecil agar tidak mengganggu pelanggan.
Tatapan matanya berbinar-binar, seolah menyimpan kabar besar yang sudah tidak sabar ingin disampaikan.
Di sampingnya, Aini justru menundukkan kepala sambil memainkan ujung lengan seragamnya. Senyum malu-malu terus menghiasi wajahnya, membuat Grenia mengernyitkan dahi karena penasaran.
"Ada apa?" tanya Grenia pelan sambil mendekat. "Salon baik-baik saja, kan?"
Mutia mengangguk cepat.
"Aman, Mbak."
Lalu, tanpa mampu lagi menyembunyikan kegembiraannya, ia berbisik sambil terkekeh,
"Malah... ada kabar bahagia."
Grenia menghentikan langkahnya tepat di depan meja resepsionis. Tatapannya bergantian menyorot wajah Mutia yang nyaris tak bisa menyembunyikan senyum lebar, lalu beralih kepada Aini yang justru semakin menundukkan kepala.
"Kabar bahagia?" ulang Grenia pelan. "Jangan bikin saya ikut penasaran."
Mutia tertawa kecil sambil menyenggol lengan Aini.
"Ayo, cerita sendiri."
Aini menggeleng cepat.
"Mutia saja..."
"Lho, yang dilamar siapa? Masa saya yang cerita?" goda Mutia pelan hingga membuat Aini semakin salah tingkah.
Grenia mengangkat sebelah alisnya, lalu memperhatikan lebih saksama tangan kiri Aini yang sedang menggenggam tablet jadwal pelanggan.
Seketika pandangannya tertuju pada sebuah cincin emas putih bermata berlian kecil yang melingkar anggun di jari manis Aini.
Kilau batu mungil itu memantulkan cahaya lampu salon dengan indah.
Mata Grenia membesar.
"Ya Allah..."
Tanpa sadar ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Aini... jangan bilang kalau ini..."