Malam kembali menyelimuti kawasan Kemang dengan gemerlap lampu-lampu kota yang memantul di permukaan jalan yang mulai lengang. Udara terasa lebih sejuk dibanding siang tadi, sementara deretan kafe dan restoran masih dipenuhi pengunjung yang menikmati akhir hari bersama keluarga maupun sahabat.
Di sebuah restoran bergaya kasual yang tak jauh dari salon, tawa kecil beberapa perempuan terdengar bersahut-sahutan.
"Pokoknya hari ini aku yang traktir," ujar Aini sambil tersenyum lebar.
"Serius?"
Mutia langsung membulatkan mata.
"Jangan-jangan nanti pas bayar pura-pura ke toilet."
"Ih, apaan sih!" Aini terkekeh sambil mencubit pelan lengan sahabatnya itu.
Suasana meja kembali dipenuhi gelak tawa.
Di hadapan mereka, Grenia hanya menggeleng sambil tersenyum geli melihat tingkah kelima pegawainya yang sesekali kembali bertingkah seperti anak-anak ketika jam kerja telah usai.
Di luar salon, batas antara atasan dan bawahan memang menjadi lebih cair. Namun Grenia tetap menjaga sikapnya. Ia ikut tertawa, ikut mendengarkan cerita mereka, tetapi tidak pernah kehilangan wibawa yang selama ini membuat seluruh pegawainya menghormatinya dengan tulus.
Tak lama kemudian, seorang pemuda datang menghampiri meja mereka.
Kemeja biru mudanya tampak sederhana namun rapi. Rambutnya dipotong pendek, sementara senyumnya memancarkan keramahan yang tidak dibuat-buat.
Aini segera berdiri.
"Mas... sini."
Pemuda itu menyalami seluruh orang yang ada di meja dengan sopan.
"Selamat malam."
"Selamat malam," balas Grenia sambil membalas jabatan tangannya.
"Perkenalkan, Mbak Gre," ujar Aini dengan wajah yang masih dipenuhi rona bahagia. "Ini tunangan saya."
"Perkenalkan, Mbak. Nama saya Arga."
"Senang bertemu denganmu, Arga."
"Begitu juga dengan saya."
Arga kemudian duduk di samping Aini tanpa menunjukkan sikap yang berlebihan. Sepanjang makan malam, ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Sesekali ia membantu menuangkan minuman untuk Aini.
Sesekali pula ia memastikan piring Aini tidak pernah kosong.
Hal-hal kecil itu tidak luput dari perhatian Grenia.
Bukan karena ingin mencampuri urusan pribadi bawahannya.
Melainkan karena naluri seorang perempuan sering kali mampu membaca ketulusan seseorang melalui tindakan sederhana.
Dan malam itu...
Grenia tidak menemukan sesuatu yang membuatnya merasa waswas.
Tatapan Arga kepada Aini dipenuhi rasa hormat.
Cara bicaranya santun.
Ia tidak memotong pembicaraan orang lain.
Bahkan beberapa kali ia lebih memilih mengalah agar orang lain lebih dulu berbicara.
Melihat itu, hati Grenia terasa lega. Dalam diam, ia memanjatkan doa agar Aini benar-benar dipertemukan dengan lelaki yang mampu menjaganya seumur hidup.
Makan malam sederhana itu pun berakhir dengan tawa, doa, dan ucapan selamat yang hangat. Setelah saling berpamitan, mereka pulang ke rumah masing-masing, membawa kebahagiaan yang masih tersisa hingga perjalanan pulang.
Motor matik Grenia melaju stabil membelah jalanan Kemang yang mulai lengang. Angin malam berembus lembut menerpa jaket tipis yang dikenakannya, sementara cahaya lampu jalan memantul di atas aspal yang masih menyisakan sisa-sisa kehangatan siang.
Sesekali kendaraan melintas dari arah berlawanan. Deretan kafe yang tadi ramai perlahan mulai mengurangi keramaian, berganti dengan para pekerja malam yang baru memulai aktivitasnya.
Di balik helmnya, Grenia menikmati perjalanan pulang dengan tenang.
Sudah lama ia tidak merasakan malam yang begitu damai.
Kebahagiaan Aini seolah ikut menghangatkan hatinya. Sebagai seorang perempuan yang pernah kehilangan, melihat orang lain menemukan kebahagiaan selalu menghadirkan rasa syukur yang sulit dijelaskan.
Bibirnya tersenyum tipis.
"Semoga rumah tangga mereka kelak dipenuhi keberkahan," batinnya.
Beberapa ratus meter kemudian, Grenia mengurangi kecepatan motornya ketika lampu lalu lintas berubah merah.
Ia berhenti di barisan paling depan.
Sambil menunggu lampu berganti hijau, pandangannya mengembara tanpa tujuan, memperhatikan hiruk-pikuk kota yang perlahan berubah semakin sunyi.
Namun, matanya tiba-tiba berhenti pada sebuah sudut trotoar.
Di bawah cahaya lampu merkuri yang mulai redup, seorang lelaki tua duduk bersandar pada tembok sebuah ruko yang telah tutup. Di sampingnya berjajar beberapa cermin dengan berbagai ukuran, disusun rapi menempel pada dinding.
Tak satu pun tampak berkurang.
Pria itu hanya menundukkan kepala.
Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara sorot matanya menatap kosong ke arah jalan yang terus dilalui kendaraan.
Ada kelelahan yang begitu jelas tergambar di wajahnya.
Bukan hanya lelah karena bekerja.
Melainkan lelah karena berharap.
Lampu lalu lintas berganti hijau.
Klakson kendaraan dari belakang mulai terdengar pelan, membuat Grenia kembali menarik gas motornya.
Namun, bayangan wajah lelaki tua itu tak juga hilang dari pikirannya.
Beberapa meter berlalu.
Tangannya justru refleks mengurangi kecepatan.
"Kenapa ya..." gumamnya lirih.
Ia melirik spion.
Sosok penjual cermin itu kini semakin jauh tertinggal.
Entah dorongan apa yang muncul di dalam hatinya, Grenia perlahan membelokkan motor ke sisi jalan, lalu memutar arah dengan hati-hati.
Tak lama kemudian, ia kembali berhenti tepat beberapa meter dari tempat lelaki tua itu berjualan.
Mesin motor dimatikannya.
Suasana malam mendadak terasa begitu hening.
Grenia melepas helm, kemudian menatap deretan cermin yang masih berdiri tegak tanpa seorang pun pembeli yang menghampiri.
Dadanya terasa sesak.
Ia mengenal tatapan itu.
Tatapan seseorang yang telah bekerja seharian penuh, tetapi belum mampu membawa pulang hasil yang cukup untuk keluarganya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Grenia melangkah menghampiri pria tua tersebut.
"Permisi, Pak..." sapanya lembut.
Lelaki tua itu mendongak perlahan. Wajahnya tampak terkejut, seolah tidak menyangka masih ada orang yang berhenti di jam selarut itu hanya untuk menyapanya.
"Jual cermin, ya, Pak?"
Seketika, mata pria tua itu kembali memancarkan secercah harapan.
Pria tua itu mendongak perlahan. Sorot matanya yang semula redup seakan kembali menemukan setitik cahaya.
"Iya, Neng," jawabnya lirih sambil berusaha tersenyum. "Silakan dilihat-lihat. Bahannya bagus, kacanya juga tebal. Saya buat sendiri bingkainya."
Grenia membalas senyum itu dengan hangat, lalu berjongkok agar posisi mereka sejajar.
Tatapannya menyusuri deretan cermin yang tersusun rapi. Berbagai ukuran berjajar di sepanjang trotoar, masing-masing dibingkai kayu dengan pengerjaan yang teliti. Tak terlihat asal-asalan.
"Sudah lama jualan di sini, Pak?"
"Sudah beberapa tahun."
"Bapak buat sendiri semua?"
"Iya."
Jawaban itu singkat, tetapi penuh kebanggaan.
Jemari lelaki tua itu mengusap perlahan salah satu bingkai kayu, seolah sedang membelai hasil kerja kerasnya sendiri.
"Saya beli kacanya, lalu bingkainya saya kerjakan sendiri di rumah."
Grenia mengangguk pelan.
Ia bisa melihat bekas-bekas pahatan halus di setiap sudut kayu. Tidak sempurna seperti hasil mesin pabrik, tetapi justru itulah yang membuat setiap cermin memiliki karakter tersendiri.
"Bapak belum pulang?"
Pria tua itu tersenyum hambar.
"Belum, Neng."
"Masih berharap ada yang beli satu dua."
Kalimat itu diucapkan dengan begitu tenang.
Namun, justru ketenangan itulah yang membuat hati Grenia terasa semakin berat.
"Bapak dari tadi belum makan?"
Lelaki tua itu sempat terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menggeleng pelan.
"Belum sempat."
"Biar dagangan dulu saja."
Jawaban sederhana itu membuat dada Grenia sesak.
Ia mengenal pengorbanan seperti itu.
Dulu, ketika baru merintis salon kecilnya di Jakarta, ia juga pernah menghemat setiap rupiah demi mempertahankan usaha. Menunda makan bukan karena tidak lapar, melainkan karena uang yang dimiliki harus cukup untuk bertahan hingga esok hari.
Kini, kenangan itu kembali mengetuk pelan pintu ingatannya.
"Bapak tinggal sendiri?" tanyanya lembut.
"Di rumah ada istri... sama cucu."
"Cucu?"
"Iya."
Wajah lelaki tua itu mendadak berubah lebih hangat.
"Anaknya masih SD."
"Orang tuanya sudah tidak ada."
Kalimat terakhir itu diucapkan lirih.
Tak ada air mata.
Tak ada keluhan.
Namun justru itulah yang membuat beban hidupnya terasa begitu nyata.
Grenia menunduk sejenak.
Di dalam hatinya, ia berdoa semoga Tuhan selalu menjaga keluarga kecil itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia melangkah mendekati deretan cermin.
Matanya berhenti pada sebuah cermin persegi berukuran sedang dengan bingkai kayu minimalis yang dipoles sangat rapi.
Ia mengangkatnya perlahan.
"Kalau yang ini berapa, Pak?"
Pria tua itu tampak sedikit gugup sebelum menyebutkan harganya.
"Yang ini harganya dua ratus delapan puluh ribu, Neng," jawab pria tua itu hati-hati, seolah khawatir harga yang disebutkannya justru membuat calon pembelinya mengurungkan niat.
Grenia terdiam sesaat.
Jemarinya kembali mengusap halus bingkai kayu cermin itu. Serat-serat kayunya tersusun rapi, sudut-sudutnya dipahat dengan telaten, sementara permukaan kacanya bening tanpa cacat sedikit pun.
Menurutnya, harga itu terlalu murah untuk hasil kerja yang dibuat dengan ketekunan dan kejujuran seperti ini.
Grenia mengangkat pandangannya. Di hadapannya, lelaki tua itu masih berdiri dengan senyum tipis yang menyimpan secercah harapan, meski sorot matanya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan rasa cemas.
Senyum lembut pun merekah di wajah Grenia.
"Baik, Pak," ucapnya mantap. "Saya ambil yang ini."
Untuk beberapa detik, lelaki tua itu hanya terdiam. Bola matanya membesar, seolah sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Bibirnya bergetar pelan sebelum akhirnya senyum penuh syukur perlahan menghiasi wajahnya.
"Alhamdulillah... terima kasih banyak, Neng," ucapnya lirih, dengan suara yang nyaris tenggelam oleh haru.
Grenia membuka dompet kulit berwarna cokelat yang selalu dibawanya ke mana pun. Jemarinya mengambil beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya kepada lelaki tua itu.
Pria itu menerimanya dengan kedua tangan, sebagaimana seseorang menerima sesuatu yang sangat berharga.
Namun, baru beberapa saat kemudian dahinya berkerut.
"Neng..." katanya pelan sambil menghitung kembali uang di tangannya. "Ini kelebihan."
Grenia hanya tersenyum tipis.
"Tidak, Pak."