PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #7

WAJAH DI BALIK TIRAI MALAM

Sepeda motor matik milik Grenia akhirnya berhenti sempurna di halaman rumah kontrakannya yang asri di sudut kawasan Kemang. Mesin kendaraan itu perlahan mati, menyisakan keheningan yang terasa begitu menenangkan setelah hiruk-pikuk jalanan Jakarta Selatan sepanjang perjalanan pulang. Cahaya lampu teras memantulkan bayangan cermin kaca berukuran 50×80 sentimeter yang masih terikat kokoh di sisi motor, persis seperti saat pria asing itu memasangnya beberapa puluh menit yang lalu.

Gre mematikan kontak, lalu melepaskan helmnya perlahan. Pandangannya tanpa sadar kembali jatuh pada ikatan tali karet yang melilit bingkai kayu cermin itu. Simpulnya rapi, kuat, dan sama sekali tidak bergeser sedikit pun selama perjalanan.

"Rapih sekali..." gumamnya pelan.

Ia tersenyum tipis. Kalau saja pria itu tidak muncul tadi, mungkin sampai sekarang dirinya masih berdiri di trotoar Kemang sambil kebingungan memikirkan cara membawa cermin sebesar itu.

Dengan hati-hati Grenia melepaskan tali pengikat, kemudian mengangkat cermin menggunakan kedua tangannya. Bingkai kayu itu ternyata cukup berat sehingga ia harus melangkah perlahan menuju ruang tamu agar tidak membentur kusen pintu.

Setelah memastikan posisinya aman bersandar di dinding dekat rak buku, Gre mengembuskan napas lega.

"Syukurlah... selamat sampai rumah."

Rumah kontrakan mungil itu kembali dipenuhi suasana sunyi. Hanya terdengar dengung lembut pendingin ruangan dan sesekali suara kendaraan yang melintas dari jalan utama di kejauhan. Suasana seperti inilah yang selalu dirindukan Gre setiap kali selesai bekerja. Tidak ada pelanggan yang harus dilayani, tidak ada laporan keuangan yang harus diperiksa, dan tidak ada pegawai yang menunggu arahan.

Untuk sesaat, hidup terasa kembali sederhana.

Namun rasa lelah yang sejak tadi ditahan mulai menyerbu seluruh tubuhnya.

Seharian mengurus salon, ikut makan malam bersama seluruh karyawan demi merayakan pertunangan Aini, lalu mengalami peristiwa tak biasa bersama penjual cermin tua, benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.

Gre merenggangkan bahunya perlahan.

"Oke... mandi dulu."

Ia mengambil handuk bersih dari lemari, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Tak lama kemudian, suara gemericik air hangat memenuhi ruangan kecil itu. Air yang mengalir perlahan membasuh rambut, wajah, dan tubuhnya, seakan ikut meluruhkan sisa-sisa penat yang menempel sejak pagi. Uap tipis memenuhi kaca kamar mandi, membuat pantulan dirinya tampak samar.

Di balik guyuran air hangat itu, pikirannya akhirnya mulai tenang.

Tidak ada lagi suara tawa para pegawainya.

Tidak ada lagi wajah haru bapak penjual cermin.

Tidak ada lagi kemacetan jalan Kemang.

Hanya dirinya... dan kesunyian malam.

Beberapa menit kemudian Gre keluar dengan pakaian tidur berbahan satin berwarna krem yang longgar dan nyaman. Rambut panjangnya masih sedikit basah, dibiarkan terurai di atas bahu sambil sesekali dikeringkan menggunakan handuk kecil.

Ia berjalan ke dapur, mengambil teko listrik, lalu menyeduh secangkir teh melati hangat.

Aroma khas bunga melati segera memenuhi ruangan.

Gre memejamkan mata sejenak.

Wangi itu selalu berhasil membawanya pulang... bukan ke rumah kontrakan ini, melainkan ke rumah sederhana milik ibunya di Kediri. Ke halaman yang dipenuhi bunga melati. Ke masa ketika ayahnya masih hidup dan semuanya terasa begitu lengkap.

Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.

Membawa cangkir teh di tangan kanan, ia masuk ke kamar, lalu duduk bersandar di atas ranjang. Di samping tempat tidurnya sudah tergeletak laptop yang hampir setiap malam menemaninya menyusun berbagai rencana.

Baginya, malam bukan sekadar waktu untuk beristirahat.

Malam adalah waktu terbaik untuk membangun masa depan.

Laptop itu pun dinyalakan. Layar mulai memancarkan cahaya lembut yang menerangi wajah bulatnya. Jemari Grenia bergerak lincah di atas papan ketik, membuka laporan omzet salon, mengecek jadwal pelanggan minggu depan, hingga menuliskan beberapa ide promosi baru yang sejak tadi berputar di kepalanya.

Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta terus berkelip tanpa henti.


Sementara di dalam kamar kecil itu, jemari Grenia terus menari di atas papan ketik laptopnya. Satu demi satu rencana bisnis yang sejak lama memenuhi kepalanya mulai tersusun rapi dalam bentuk catatan. Target omzet bulanan, strategi promosi media sosial, hingga daftar perlengkapan yang harus dibeli untuk mendukung pembukaan cabang salon berikutnya, semuanya ia tuliskan dengan teliti.

Sesekali wanita itu berhenti mengetik hanya untuk menyeruput teh melati yang masih mengepulkan uap hangat. Aroma bunga melati yang lembut berpadu dengan keheningan malam membuat pikirannya terasa jauh lebih jernih dibandingkan siang tadi.

Baginya, setiap keberhasilan tidak pernah datang karena keberuntungan semata.

Semua dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang dengan disiplin.

Gre tersenyum tipis sambil menyimpan file pekerjaannya.

"Sedikit demi sedikit..."

"Suatu hari nanti pasti bisa membuka cabang kedua."

Matanya kemudian beralih ke arah jendela kamar.

Lampu-lampu gedung tinggi di kawasan Kemang masih berkelap-kelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Kota Jakarta belum benar-benar terlelap. Sesekali suara kendaraan masih terdengar melintas di kejauhan, menjadi irama khas ibu kota yang tak pernah benar-benar sunyi.

Gre menutup laptopnya perlahan.

Ia berniat segera beristirahat.

Namun baru saja laptop itu dipindahkan ke meja nakas, sebuah bayangan mendadak melintas di benaknya.

Bayangan seorang pria.

Gerakan tangannya langsung terhenti.

Sorot mata teduh.

Rahang yang tegas.

Cara bicaranya yang tenang.

Dan... senyumnya yang sopan.

Entah mengapa, sosok pria yang beberapa jam lalu membantunya mengikat cermin itu kembali muncul begitu saja di dalam pikirannya.

Gre menghela napas pelan.

Lihat selengkapnya