PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #8

Perjalanan Bersama Pria Ngeselin

Sabtu pagi menyapa kawasan Kemang dengan udara yang masih sejuk. Jalanan belum sepenuhnya dipadati kendaraan, sementara deretan pepohonan di sepanjang trotoar bergerak pelan tertiup angin. Suasana yang lebih tenang dibanding hari kerja membuat kawasan elite Jakarta Selatan itu terasa sedikit lebih ramah.

Di rumah kontrakannya yang asri, Grenia Virginia baru saja selesai bersiap.

Hari itu ia sengaja mengambil libur dari salon.

Selama beberapa pekan terakhir, waktunya hampir habis untuk mengurus operasional usaha, melayani pelanggan, mengecek persediaan bahan, hingga memastikan setiap pegawainya bekerja dengan nyaman. Kesibukan itu memang membahagiakan, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan jeda.

Sebagai perempuan yang bergerak di dunia kecantikan, Gre selalu percaya bahwa merawat diri bukanlah kemewahan, melainkan bagian dari profesionalitas.

Bagaimana mungkin seorang pemilik salon mampu meyakinkan orang lain untuk tampil lebih percaya diri jika dirinya sendiri tampak lelah dan tak terurus?

Karena itulah, pagi ini ia sudah membuat janji dengan dokter estetika langganannya di kawasan Alam Sutera. Selain melakukan perawatan eyelash extension, ia juga ingin berkonsultasi mengenai rutinitas perawatan kulit yang selama ini dijalaninya.

Gre mengenakan blus berwarna pastel yang dipadukan dengan celana kulot berpotongan sederhana. Rambutnya dikuncir rapi, sementara riasan tipis di wajah bulatnya justru semakin menonjolkan kesan anggun dan segar. Penampilannya tidak berlebihan, tetapi cukup membuat siapa pun yang melihatnya menyadari bahwa wanita itu memahami cara menghargai dirinya sendiri.

Setelah memastikan seluruh lampu rumah padam dan pintu terkunci rapat, Gre melangkah keluar sambil memasukkan anak kunci ke dalam tas kulit berwarna cokelat.

Motor matik kesayangannya telah menunggu di halaman kecil.

Ia meraih helm yang menggantung di spion, lalu mengenakannya perlahan.

Baru saja tangannya hendak memutar kunci kontak, suara mesin mobil terdengar mendekat dari arah jalan depan rumah.

Sebuah SUV berwarna hitam mengilap melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di samping pagar.

Gre spontan menoleh.

Mobil itu...

terasa sangat familier.

Ingatannya langsung melayang pada malam sebelumnya, ketika seorang pria asing membantu mengikat cermin kaca yang dibelinya dari seorang penjual tua di tepi jalan.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Kaca jendela pengemudi perlahan turun.

Sesosok pria berwajah teduh muncul dari balik kemudi dengan senyum tipis yang tampak santai.

"Selamat pagi..." sapanya ringan.

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya di bawah cahaya matahari.

Lalu, tanpa peringatan sedikit pun, pria itu berkata,

"Selamat pagi, Mbak Cermin Kaca."


Dahi Gre langsung berkerut.

Tangannya yang masih memegang helm menggantung di udara. Bibirnya sedikit mengerucut, sementara sorot matanya menatap pria itu dengan campuran heran dan sebal.

"Maaf," ucapnya datar. "Nama saya Gre. Bukan Mbak Cermin Kaca."

Pria itu justru tertawa pelan. Tawanya ringan, tidak berlebihan, dan sama sekali tidak terdengar mengejek.

"Baik, salah saya." Ia membuka pintu mobil lalu turun dengan tenang. "Tapi saya rasa julukan itu cukup berkesan."

Gre menghela napas pendek.

"Berkesan buat Mas, mungkin."

Pria itu tersenyum semakin lebar.

"Kalau begitu saya perbaiki."

Ia berdiri beberapa langkah dari Gre, menjaga jarak dengan sopan sebelum mengulurkan tangan kanannya.

"Kenalkan. Nama saya Teguh."

Gre sempat terdiam.

Teguh.

Nama itu kembali membuat dadanya berdesir.

Pikirannya seketika melompat pada kotak kayu jati yang kini tersimpan rapi di dalam lemari kamarnya. Nama Gusti Teguh Wijaya Kusuma masih terukir jelas di dalam ingatannya.

Namun, Gre segera mengendalikan ekspresinya.

Bisa saja hanya kebetulan.

Nama Teguh bukanlah nama yang langka.

Ia pun menyambut uluran tangan itu sekadarnya.

"Gre."

Jabat tangan mereka berlangsung singkat.

Tidak lebih dari beberapa detik.

"Cocok," ujar Teguh santai.

Gre mengangkat sebelah alis.

"Maksudnya?"

"Namanya sederhana."

"Lalu?"

"Orangnya juga kelihatannya sederhana."

Gre langsung memutar bola matanya.

"Mas baru kenal saya sekitar... tiga puluh detik."

"Makanya saya bilang kelihatannya."

Jawaban itu membuat Gre tidak bisa langsung membalas. Pria di depannya pandai bercanda tanpa terdengar berlebihan.

Ia akhirnya memilih mengakhiri percakapan.

"Kalau begitu saya pamit dulu."

Gre melangkah menuju motornya.

Namun sebelum sempat mengenakan helm, suara Teguh kembali terdengar.

"Mau ke salon?"

Gre menoleh.

"Bukan."

"Ke mana?"

"Alam Sutera."

Mata Teguh langsung berbinar.

"Wah... kebetulan sekali."

Gre memasang wajah datar.

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya