Interior SUV berwarna hitam itu terasa begitu sejuk. Pendingin udara bekerja senyap, mengusir hawa panas Jakarta yang sejak pagi mulai menyengat. Alunan musik piano instrumental mengisi kabin dengan lembut, cukup pelan untuk menemani perjalanan tanpa mengganggu keheningan di antara dua orang yang baru saling mengenal.
Gre duduk tegak di kursi penumpang. Kedua tangannya bertumpu rapi di atas tas kulit yang dipangkunya. Pandangannya mengarah ke depan, menyaksikan gedung-gedung tinggi Jakarta Selatan perlahan berganti dengan jalur bebas hambatan menuju Tangerang.
Di balik kemudi, Teguh mengemudi dengan santai.
Tangannya menggenggam setir tanpa terlihat tegang. Setiap perpindahan lajur dilakukan halus, nyaris tanpa hentakan. Sesekali jemarinya mengikuti irama musik dengan ketukan pelan, seolah perjalanan pagi itu hanyalah rutinitas biasa.
Gre diam-diam memperhatikan.
Cara menyetirnya tenang...
Tidak terburu-buru.
Tidak ugal-ugalan.
Juga tidak berlebihan menunjukkan kemampuan.
Entah mengapa, hal sederhana itu membuat rasa waspada Gre sedikit berkurang.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Suasana yang semula canggung perlahan berubah menjadi nyaman.
Justru Teguh yang lebih dulu memecahkan keheningan.
"Kalau boleh jujur..."
Gre menoleh.
"Hm?"
"Saya baru tahu ternyata Mbak Gre kalau sedang diam wajahnya kelihatan galak."
Gre spontan mengernyit.
"Galak?"
"Iya."
"Saya?"
"Iya."
Gre memajukan sedikit bibirnya.
"Mas Teguh ini memang hobinya bikin orang kesel, ya?"
Teguh tertawa pelan.
"Bukan bikin kesel."
"Lalu?"
"Menguji."
"Menguji apa?"
"Apakah Mbak Gre gampang terpancing."
Gre menggeleng pelan sambil mengembuskan napas.
"Kalau semua pelanggan saya seperti Mas Teguh, mungkin salon saya sudah tutup."
"Berarti saya pelanggan paling sulit."
"Bukan."
"Lalu?"
Gre menoleh sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Belum jadi pelanggan saja sudah banyak komentar."
Teguh kembali tertawa.
"Oke... saya kalah."
Ucapan itu membuat suasana kabin berubah lebih ringan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat dari Kemang, Gre ikut tersenyum tanpa dipaksa.
Ia sendiri heran.
Biasanya ia bukan tipe wanita yang mudah akrab dengan laki-laki asing.
Apalagi menerima godaan receh seperti ini.
Namun, cara Teguh bercanda tidak pernah terasa melecehkan ataupun berlebihan.
Semuanya disampaikan dengan sopan.
Ringan.
Dan tahu batas.
Mobil terus melaju membelah jalan tol.
Sinar matahari pagi memantul di permukaan aspal, sementara kendaraan lain melintas silih berganti di kanan dan kiri.
Beberapa saat kemudian Teguh kembali membuka percakapan.
"Salon Mbak Gre sudah berdiri berapa lama?"
"Hampir lima tahun."
"Wah... lumayan juga."
Gre mengangguk pelan.
"Awalnya kecil."
"Sekarang?"
"Masih kecil."
Teguh melirik sekilas sambil tersenyum.
"Kalau punya beberapa karyawan dan pelanggan tetap di Kemang, menurut saya itu bukan kecil."
Gre terkekeh pelan.
"Mas Teguh pintar menyenangkan orang, ya."
"Bukan."
"Lalu?"
"Saya cuma mengatakan apa yang saya lihat."
Gre terdiam sesaat.
Kalimat sederhana itu terasa berbeda.
Tidak terdengar seperti pujian kosong.
Lebih menyerupai penghargaan terhadap perjuangan yang selama ini jarang diucapkan orang lain.
Tanpa sadar, jemarinya yang semula menggenggam tas mulai mengendur.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa perjalanan menuju Alam Sutera tidak lagi terasa canggung.
Keheningan kembali mengisi kabin. Kali ini bukan karena canggung, melainkan karena masing-masing menikmati perjalanan dengan pikirannya sendiri.
Gre memandangi deretan kendaraan yang melaju di depan. Jalan tol mulai dipadati mobil-mobil yang menuju Tangerang. Sesekali terdengar suara notifikasi navigasi dari layar di dashboard, mengarahkan Teguh memilih lajur yang lebih lancar.
"Mas Teguh sering ke Alam Sutera?" tanya Gre memecah keheningan.
"Cukup sering."
"Kerja?"
"Iya."
"Bidangnya apa?"
Teguh tersenyum tipis.
"Macam-macam."
Jawaban itu membuat Gre mengangkat sebelah alis.
"Macam-macam itu pekerjaan apa?"
"Saya mengurus beberapa usaha."
"Beberapa?"
"Iya."