SUV hitam itu meluncur perlahan meninggalkan pelataran apartemen, menyusuri jalan utama kawasan Alam Sutera yang mulai dipenuhi kendaraan akhir pekan. Teguh memegang kemudi dengan tenang, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di balik lalu lintas yang membentang di hadapannya.
Sesekali bayangan wajah Gre kembali melintas di benaknya. Senyum sopan wanita itu, cara bicaranya yang santun, hingga ekspresi kecut-manja saat menolak tawarannya tadi pagi terus berputar tanpa diminta.
"Hm..."
Teguh mengembuskan napas pelan.
Entah sejak kapan, perjalanan bisnis yang biasanya terasa penting mendadak kehilangan daya tariknya.
Ponsel di dashboard bergetar.
Nama Sudirman muncul di layar.
Teguh menekan tombol penerima sambil tetap mengawasi jalan.
"Gusti, investor dari Singapura sudah tiba di kantor. Semua direksi juga sudah berkumpul."
"Aku tahu."
"Apakah Gusti langsung menuju kantor?"
Teguh terdiam beberapa saat.
Pandangannya bergeser ke kaca spion.
Bayangan gedung apartemen yang baru saja ditinggalkannya kini tinggal tampak samar di kejauhan.
"Lanjutkan rapat tanpa saya."
Sudirman terdiam.
"...Tanpa Gusti?"
"Iya."
"Tapi nilai proyek ini—"
"Dirman."
Suara Teguh tetap tenang, namun cukup untuk menghentikan kalimat asistennya.
"Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan."
Beberapa detik kemudian terdengar helaan napas pasrah dari seberang.
"Baik, Gusti. Saya akan menangani semuanya."
"Sampaikan permintaan maaf saya kepada para investor."
"Siap."
Sambungan telepon pun berakhir.
Mobil tetap melaju beberapa ratus meter lagi.
Namun bukannya menuju jalan keluar kawasan, Teguh justru memperlambat laju kendaraannya.
Jemarinya mengetuk ringan lingkar kemudi.
Tatapannya kosong menembus kaca depan.
Logikanya mengatakan ia harus segera pergi.
Tetapi... ada sesuatu yang membuatnya enggan meninggalkan kawasan ini.
Akhirnya, tanpa banyak berpikir, ia memutar setir di persimpangan berikutnya.
SUV hitam itu berbalik arah.
Beberapa menit kemudian kendaraan tersebut kembali memasuki area apartemen yang sama.
Teguh memarkir mobilnya di sudut pelataran yang tidak terlalu mencolok.
Ia mematikan mesin, menyandarkan tubuh ke jok, lalu menatap pintu lobi tempat Gre menghilang beberapa menit sebelumnya.
"Entahlah..."
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Aku tunggu saja sampai dia selesai."
Lima belas menit pertama masih terasa biasa.
Teguh membuka tablet yang selalu dibawanya ke mana pun. Beberapa laporan keuangan perusahaan mulai dibacanya sambil sesekali membalas surat elektronik yang masuk. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, menandatangani beberapa dokumen digital, lalu mengirimkan sejumlah instruksi singkat kepada para direktur divisi.
Kesibukan itu biasanya mampu menyita seluruh perhatiannya.
Namun entah mengapa, pagi itu konsentrasinya mudah sekali buyar.
Baru beberapa menit membaca laporan, pandangannya kembali terangkat ke arah pintu utama apartemen.
Masih belum ada tanda-tanda Gre keluar.
Teguh mengembuskan napas pelan.
"Ya jelas belum selesai..." gumamnya lirih.
Ia baru teringat bahwa perawatan kecantikan bukan pekerjaan lima atau sepuluh menit. Terlebih jika ditangani langsung oleh dokter estetika langganan.
Tablet itu akhirnya diletakkan kembali di kursi sebelah.
Ia menyandarkan kepala ke sandaran jok, memejamkan mata sejenak, lalu kembali membukanya beberapa detik kemudian.
Bosan.
Perasaan yang sangat jarang menghampiri hidupnya.