PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #11

Mahkota Awet Muda dan Tatapan Baru

Gre menghentikan langkahnya tepat di bawah kanopi lobi apartemen.

Tatapannya tertuju pada SUV hitam yang masih terparkir di tempat semula.

Beberapa detik ia hanya berdiri mematung.

"Masih... di sini?"

Bisikannya nyaris tak terdengar.

Ia sempat mengira Teguh hanya menurunkannya, lalu langsung berangkat menuju urusan bisnisnya. Logika itulah yang terus diyakininya selama berada di klinik. Tidak mungkin seorang pria yang baru dikenalnya rela membuang waktu berjam-jam hanya untuk menunggu.

Namun kenyataan yang terpampang di depan mata berkata sebaliknya.

Mobil itu belum berpindah sedikit pun.

Gre menarik napas pelan.

Rasa sungkan perlahan menyusup ke dalam dadanya.

"Jangan-jangan..."

Ia tidak meneruskan kalimat itu.

Dengan langkah yang lebih pelan, Gre mulai berjalan mendekati mobil tersebut.

Sementara itu, di dalam klinik beberapa jam sebelumnya...

Gre duduk nyaman di kursi perawatan sambil memejamkan mata.

Dr. Heny berdiri di sampingnya dengan lampu tindakan yang menyala terang.

"Sudah lama tidak kontrol ya, Gre."

Gre tersenyum kecil.

"Iya, Dok. Salon lagi ramai sekali."

Dr. Heny mengangguk sambil memperhatikan bentuk alis Gre melalui cermin pembesar.

"Padahal alismu masih bagus. Hanya bagian ekornya mulai sedikit berantakan."

"Itu memang yang mau saya rapikan."

"Keputusan yang tepat. Tidak perlu diubah bentuknya. Tinggal dirapikan saja supaya wajahmu tetap terlihat lembut."

Gre mengangguk setuju.

Ia memang tidak pernah menyukai perubahan yang berlebihan pada wajahnya.

Baginya, kecantikan bukan tentang mengubah siapa dirinya, melainkan merawat apa yang telah Tuhan titipkan.

Beberapa saat kemudian, Dr. Heny mulai bekerja dengan gerakan yang tenang dan presisi.

Pinset kecil bergerak perlahan mengikuti garis alis Gre.

Sesekali dokter itu berhenti untuk mengamati hasilnya dari berbagai sudut.

"Hampir selesai."

Gre tetap diam menikmati proses tersebut.

Suasana ruangan begitu tenang.

Hanya terdengar alunan musik instrumental pelan dan sesekali percakapan ringan antara dokter dan asistennya.

Setelah alis selesai dirapikan, Dr. Heny melepaskan sarung tangannya lalu tersenyum puas.

"Nah... sekarang jauh lebih rapi."

Gre membuka mata, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin.

Ia mengulas senyum tipis.

"Terima kasih, Dok."

"Sama-sama. Sekarang tinggal lanjut ke ruang sebelah."

Gre mengangguk.

"Yang eyelash extension, kan?"

"Betul. Terapis kami sudah menunggu. Prosesnya memang agak lama, jadi buat senyaman mungkin saja."

Gre bangkit dari kursi perawatan, merapikan tas tangannya, lalu mengikuti asisten klinik menuju ruangan berikutnya, tanpa sedikit pun mengetahui bahwa di luar sana... seseorang masih memilih menunggunya dengan sabar.


Gre mengikuti langkah asisten klinik menuju ruang perawatan berikutnya yang berada di sisi lain koridor. Berbeda dengan ruang praktik Dr. Heny yang bernuansa medis, ruangan ini terasa jauh lebih hangat. Cahaya lampu berwarna kekuningan dipadukan dengan aroma essential oil yang lembut menciptakan suasana rileks sejak pertama kali ia melangkah masuk.


"Silakan berbaring, Mbak Gre," ujar terapis itu ramah sambil mempersiapkan peralatan di atas meja steril.


Gre mengangguk pelan. Ia meletakkan tas tangannya di kursi, lalu merebahkan tubuh di atas beauty bed yang empuk. Selimut tipis segera disampirkan hingga sebatas dada agar tubuhnya tetap nyaman selama proses berlangsung.


"Seperti biasa, model natural ya, Mbak?" tanya sang terapis.


"Iya. Jangan terlalu tebal. Saya maunya tetap kelihatan alami."


Terapis itu tersenyum memahami.


"Itu memang paling cocok dengan bentuk mata Mbak Gre. Tatapan matanya sudah bagus, jadi tinggal dipertegas sedikit."


Gre membalas dengan senyum kecil.


Ia memang tidak pernah menyukai riasan yang berlebihan. Sebagai pemilik salon kecantikan, ia justru percaya bahwa kecantikan terbaik adalah ketika orang lain tidak menyadari seseorang sedang menjalani banyak perawatan.


Setelah memastikan posisi Gre benar-benar nyaman, sang terapis mulai membersihkan area kelopak mata dengan gerakan lembut. Sesaat kemudian, eye pad dipasang di bawah kedua matanya sebelum proses penyambungan bulu mata dimulai satu per satu.


Ruangan kembali hening.


Hanya terdengar suara pendingin udara dan alunan musik instrumental yang mengalun pelan.


Karena kedua matanya harus terus terpejam, Gre tidak memiliki pilihan selain menikmati keheningan itu.


Anehnya...


Di tengah suasana yang begitu tenang, pikirannya justru kembali melayang kepada seseorang.


Sosok pria yang baru dikenalnya kemarin malam.


Mas Teguh.


Gre mengembuskan napas pelan.


Entah mengapa, wajah pria itu begitu mudah muncul di benaknya.


Padahal mereka baru bertemu dua kali.


Lihat selengkapnya