PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #12

Nyanyian Fals dan Filosofi Sepiring Nasi

Tak sampai sepuluh menit meninggalkan kawasan apartemen, SUV hitam milik Teguh berbelok memasuki area parkir sebuah rumah makan keluarga yang cukup terkenal di Alam Sutera.

Bangunannya mengusung perpaduan arsitektur tradisional dan modern. Deretan pohon peneduh membuat suasana terasa teduh meski matahari siang masih bersinar terik. Di sudut halaman, sebuah kolam ikan koi dengan air yang jernih memantulkan riak cahaya, sementara gemericik air dari pancuran kecil menambah kesan tenang.

"Tempatnya nyaman juga," gumam Grenia sambil menatap sekeliling.

"Masakan Sundanya lumayan enak," jawab Teguh sembari mematikan mesin mobil. "Saya beberapa kali makan di sini kalau ada urusan di Alam Sutera."

Mereka turun dari mobil dan berjalan berdampingan menuju pintu masuk.

Seorang pelayan menyambut dengan senyum ramah.

"Selamat siang, Pak, Bu. Untuk dua orang?"

"Iya," jawab Teguh.

Pelayan kemudian mengantar mereka ke sebuah meja di dekat jendela yang menghadap taman kecil. Angin dari pendingin ruangan berpadu dengan pemandangan hijau di luar kaca membuat suasana makan siang terasa begitu nyaman.

Begitu buku menu dibuka, Grenia justru terdiam beberapa saat.

"Ada apa?" tanya Teguh.

Grenia tersenyum kecil.

"Bingung."

"Karena menunya banyak?"

"Iya."

Teguh terkekeh pelan.

"Kalau begitu saya kasih rekomendasi."

"Boleh."

"Nasi hangat, gurami bakar, tumis kangkung, tahu goreng, sama es teh tawar."

Grenia mengangguk.

"Pas."

"Nggak terlalu berat, tapi cukup buat mengusir demo perut."

Mendengar kalimat itu, Grenia spontan menahan tawa.

"Mas masih saja mengingat kejadian tadi."

"Soalnya demonstrasinya cukup jelas."

"Mas..."

"Ampun, ampun."

Pelayan yang berdiri di samping mereka ikut tersenyum kecil melihat percakapan ringan tersebut sebelum mencatat pesanan mereka.

Tak lama kemudian, hidangan mulai tersaji satu per satu.

Aroma gurami bakar yang masih mengepulkan asap bercampur wangi sambal dan lalapan segar langsung menggoda selera.

"Silakan," ujar Teguh.

Grenia menganggukkan kepala.

"Terima kasih."

Sebelum mulai makan, keduanya sama-sama mengangkat tangan, memanjatkan doa singkat.

Barulah sendok pertama menyentuh nasi hangat.

Beberapa saat, tak ada percakapan.

Mereka menikmati makanan dalam keheningan yang justru terasa nyaman.

"Hmm..."

Grenia menutup mata sesaat.

"Enak."

"Kan?"

"Sambalnya juga pas."

"Saya hafal selera pedas orang Jawa Timur."

Grenia mengangkat sebelah alis.

"Mas memang hafal?"

"Sedikit."

"Atau sebenarnya Mas sering keliling cari alasan buat wisata kuliner?"

Teguh tersenyum lebar.

"Itu juga termasuk."

Keduanya kembali tertawa kecil.

Obrolan mereka kemudian mengalir ringan, mulai dari kesibukan salon, pelanggan yang kadang datang dengan permintaan unik, hingga pengalaman-pengalaman lucu Teguh ketika harus menemani rekan bisnis memilih hadiah untuk keluarga mereka.

Tanpa disadari, waktu berjalan begitu cepat.

Piring-piring di atas meja perlahan kosong.

Saat pelayan datang mengangkat peralatan makan, pandangan Grenia tanpa sengaja tertuju pada jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.

Ia terdiam sejenak.

"Mas..."

"Iya?"

"Masih ada waktu Zuhur."

Teguh mengangguk pelan.

"Tadi saya juga lihat."

Pria itu kemudian menoleh ke arah pelayan yang kebetulan melintas.

"Maaf, Mas. Musalanya di sebelah mana, ya?"

"Oh, ada, Pak," jawab pelayan dengan ramah sambil menunjuk ke arah bangunan kecil di sisi belakang rumah makan. "Lurus saja melewati taman, nanti ada petunjuknya. Musala pria dan wanita dipisah."

"Baik, terima kasih."

Teguh kembali memandang Grenia.

"Kalau begitu... kita salat dulu."

Grenia menganggukkan kepala pelan.

"Iya, Mas."

Keduanya bangkit dari kursi.

Mereka melangkah berdampingan melewati taman kecil di belakang rumah makan.

Di ujung jalan setapak yang dinaungi pepohonan rindang, sebuah musala sederhana berdiri dengan suasana yang bersih dan teduh, seolah menjadi tempat yang tepat untuk menenangkan hati sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta Selatan.

Suasana di sekitar musala terasa begitu tenang.


Semilir angin yang berembus melewati pepohonan membuat udara siang terasa jauh lebih sejuk dibandingkan halaman depan rumah makan. Suara gemericik air dari kolam kecil di samping bangunan berpadu dengan kicauan burung yang sesekali hinggap di dahan, menghadirkan keteduhan yang menenangkan hati.


Di depan pintu musala, langkah Grenia perlahan terhenti.


Ia menoleh kepada Teguh.


"Mas dulu saja."


Teguh menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Ladies first."


Grenia balas tersenyum tipis.


"Kalau begitu... terima kasih."


Tanpa ada perdebatan lebih jauh, keduanya saling memahami.


Grenia melangkah menuju tempat wudu khusus wanita, sementara Teguh berjalan ke arah sisi musala pria.


Air yang mengalir membasuh telapak tangan Grenia terasa begitu sejuk.


Satu demi satu rukun wudu ia sempurnakan dengan gerakan yang tenang. Percikan air yang membasahi wajahnya seolah menghapus sisa kepenatan setelah seharian beraktivitas.


Usai mengenakan mukena yang telah disediakan pengelola musala, Grenia berdiri menghadap kiblat.


Perlahan ia mengangkat kedua tangan.


Allahu Akbar.


Di balik kesunyian musala sederhana itu, seluruh hiruk-pikuk kehidupan seakan tertinggal di luar.


Tak ada lagi suara kendaraan.


Tak ada lagi urusan salon.


Tak ada lagi berbagai pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya.


Yang ada hanyalah seorang hamba yang sedang menghadap Rabb-nya.


Usai salam terakhir, Grenia menengadahkan kedua telapak tangannya.


Dalam doa yang lirih, ia memohon kesehatan untuk ibunya di Kediri.


Ia juga memohon agar Sevgi selalu berada dalam lindungan-Nya, tumbuh menjadi anak yang saleh, berakhlak baik, dan kelak mampu menggapai cita-citanya.


Sebelum mengusap wajah, satu doa terakhir terlintas di dalam hatinya.


Semoga setiap langkah yang sedang ia jalani di Jakarta selalu dijaga dan diarahkan menuju kebaikan.


Perlahan ia melipat mukena dengan rapi, lalu keluar dari musala.


Di bangku kayu yang berada tidak jauh dari pintu, Teguh sudah lebih dahulu duduk menunggu.


Begitu melihat Grenia keluar, pria itu segera berdiri.


"Sudah selesai?"


"Iya, Mas."


"Saya juga baru selesai."


Mereka berjalan berdampingan meninggalkan musala.


Tak satu pun dari keduanya berbicara.


Namun, keheningan kali ini terasa berbeda.


Tidak canggung.


Tidak pula membebani.


Justru menghadirkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan.


Saat melewati taman kecil, Teguh tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Mas?"


Teguh menunjuk sebuah keran minum yang berada di sudut taman.


"Mau minum dulu?"


Grenia menggeleng pelan.


"Nggak. Tadi sudah cukup."


"Syukurlah."


"Kenapa?"


"Soalnya kalau nanti haus di jalan, saya takut disuruh muter balik lagi."


Grenia menatap Teguh selama beberapa detik.


Lalu geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil.


"Mas ini... ada saja."


"Alhamdulillah."


"Lho?"


"Berarti senyumnya sudah balik."


Ucapan sederhana itu membuat langkah Grenia sejenak melambat.


Ia baru menyadari...


Sejak meninggalkan rumah makan hingga selesai menunaikan salat, Teguh tidak pernah sekalipun berusaha mengambil hati dengan pujian berlebihan.


Pria itu hanya bersikap sewajarnya.


Menghormati batas.


Menghargai keyakinannya.


Dan tanpa disadari, justru dari sikap sederhana itulah rasa nyaman mulai tumbuh perlahan di dalam hati Grenia.

Lihat selengkapnya