PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #13

Hadirnya Sang Perwira

Hari berganti hari, lalu minggu demi minggu berlalu tanpa terasa.

Kehidupan di Salon Nail Art milik Grenia Virginia kembali berjalan dengan ritmenya yang hangat. Sejak pertemuan mereka di Alam Sutera beberapa waktu lalu, hubungan Grenia dan Teguh berkembang dengan perlahan. Bukan sebagai sepasang kekasih, melainkan dua orang dewasa yang mulai saling mengenal, saling menghargai, dan menikmati setiap percakapan sederhana yang hadir di sela-sela kesibukan masing-masing.

Kesibukan salon pun semakin meningkat.

Hampir setiap hari kursi-kursi perawatan terisi pelanggan yang datang silih berganti. Aroma lotion, kuteks, dan kopi hangat berpadu menjadi ciri khas yang selalu menyambut siapa pun yang memasuki ruangan.

Mutia dan Ratna sibuk melayani pelanggan di area manicure.

Ami menangani perawatan pedicure.

Sementara Aini bersama Imah bergantian melayani pelanggan yang telah melakukan reservasi sejak pagi.

Di tengah kesibukan itu, pintu kaca salon terbuka perlahan.

Seorang kurir masuk sambil membawa dua kantong besar berlogo sebuah kedai kopi ternama.

"Permisi... kiriman untuk Salon Nail Art Bu Grenia."

Aini segera menghampiri.

"Atas nama siapa, Mas?"

Kurir itu melihat layar ponselnya sejenak.

"Pak Teguh."

Belum sempat Aini menjawab, Mutia yang mendengar nama itu langsung menoleh sambil menyeringai.

"Wah... kiriman lagi."

Ratna ikut tertawa kecil.

"Kayaknya minggu ini sudah yang ketiga."

Ami meletakkan handuk kecil di atas meja.

"Bos... ada yang perhatian, nih."

Grenia yang sedang merapikan stok kuteks baru hanya menggeleng pelan.

"Sudah, jangan macam-macam."

"Kan kami cuma bilang perhatian."

"Iya."

"Nggak bilang apa-apa lagi."

"Iya juga."

Seluruh pegawai saling berpandangan, lalu terkekeh pelan.

Aini mulai membagikan gelas kopi satu per satu.

"Masyaallah... lengkap sama rotinya."

"Pak Teguh memang baik ya, Mbak," gumam Imah.

Grenia hanya tersenyum tipis.

"Beliau memang perhatian sama banyak orang."

Mutia langsung mengangkat sebelah alis.

"Oh..."

"Sama banyak orang?"

"Iya."

"Bukan sama satu orang?"

Sontak tawa kecil kembali memenuhi ruangan.

Grenia menghela napas sambil tersenyum geli.

"Kalian ini..."

"Kalau sudah selesai menggoda saya, pelanggan di sana masih menunggu."

"Ih... Bos mengalihkan pembicaraan."

"Karena memang harus kerja."

"Siap, Bos!"

Suasana salon kembali dipenuhi aktivitas.

Candaan-candaan ringan seperti itu sudah menjadi bumbu keseharian mereka. Grenia tidak pernah marah selama pekerjaan tetap berjalan dengan baik. Baginya, suasana kerja yang hangat adalah salah satu alasan mengapa para pegawainya mampu bertahan dan tumbuh bersama sejak salon itu masih kecil.

Menjelang sore, jumlah pelanggan mulai berkurang.

Sinar matahari yang masuk melalui dinding kaca perlahan berubah menjadi semburat keemasan.

Grenia sedang membantu Aini menyusun jadwal reservasi akhir pekan ketika sebuah suara mesin kendaraan berhenti tepat di depan salon.

Braakk...

Pintu mobil tertutup dengan mantap.

Tak lama kemudian, dari balik kaca depan salon tampak sebuah kendaraan dinas kepolisian berwarna gelap terparkir di area depan.

Mutia yang tanpa sengaja melihat ke luar jendela sontak menghentikan pekerjaannya.

"Mbak..."

Aini ikut menoleh.

"Lho..."

"Itu mobil polisi, ya?"

Ratna yang sedang menyapu lantai mendekat ke arah pintu kaca.

"Iya..."

"Beneran."

Beberapa pelanggan pun ikut melirik ke luar dengan wajah penuh tanda tanya.

Suasana salon yang semula santai mendadak berubah hening.

Tak lama berselang, pintu kendaraan dinas itu perlahan terbuka.

Sepasang sepatu dinas menginjak aspal dengan mantap.

Sesosok pria bertubuh tegap turun dari mobil, mengenakan seragam Kepolisian Republik Indonesia yang rapi dengan tanda kepangkatan perwira di pundaknya.

Ia berdiri sejenak, mengamati bangunan salon di hadapannya.

Sorot matanya tenang.

Namun wibawanya mampu membuat siapa pun yang melihatnya spontan menahan napas.

Tanpa tergesa, pria itu mulai melangkah menuju pintu utama salon.

Di dalam ruangan, Grenia yang belum mengetahui siapa tamu tersebut perlahan mengangkat pandangannya.

Tatapan mereka... tinggal menunggu satu langkah lagi untuk bertemu.

Pintu kaca salon terbuka perlahan, disusul bunyi lonceng kecil yang menggantung di atas kusennya.


"Ting..."


Seluruh pandangan di dalam ruangan seketika tertuju ke arah pintu masuk.


Pria berseragam dinas itu melangkah masuk dengan tenang. Posturnya tegap, seragamnya tersetrika rapi tanpa sedikit pun kusut. Sepatu dinasnya mengilap, sementara topi pet yang dikenakannya semakin menegaskan wibawa seorang perwira kepolisian.


Di belakangnya, dua anggota polisi tetap berada di luar salon. Mereka tidak ikut masuk, hanya berdiri tenang di dekat kendaraan dinas.


Melihat pemandangan itu, Aini spontan menghampiri meja resepsionis dengan senyum yang sedikit gugup.


"Selamat sore, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"


Perwira itu membalas dengan anggukan sopan.


"Sore."


Suara baritonnya terdengar tenang, namun memiliki ketegasan yang lahir dari kebiasaan memimpin.


"Saya ingin bertemu dengan Ibu Grenia Virginia."


Mendengar namanya disebut, Grenia yang sejak tadi berdiri di dekat meja kasir melangkah mendekat.


"Saya sendiri, Pak."


Tatapan pria itu seketika beralih kepada Grenia.


Untuk sesaat...


Ia hanya diam.


Sorot matanya yang semula tegas perlahan berubah lebih lembut, seolah memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya benar-benar orang yang selama ini dikenalnya dari kejauhan.


Perlahan ia membuka topi petnya sebagai bentuk penghormatan.


"Perkenalkan."


"Saya Komisaris Polisi Budi Gunawan."


"Saat ini bertugas di wilayah Jakarta Selatan."


Grenia membalas dengan senyum profesional.


"Senang bertemu dengan Bapak."


"Mohon maaf kalau saya baru bisa menyambut sekarang."


"Tidak apa-apa."


Budi menggeleng pelan.


"Justru saya yang datang tanpa membuat janji terlebih dahulu."


Kalimat itu membuat suasana sedikit mencair.


Mutia, Aini, Ratna, Ami, dan Imah saling bertukar pandang dari kejauhan.


Rasa tegang yang semula memenuhi ruangan perlahan mulai berkurang.


Grenia kemudian mempersilakan tamunya duduk.


"Silakan, Pak."


"Terima kasih."


Budi duduk di sofa ruang tunggu pelanggan.


Duduknya tegak, rapi, khas seorang aparat yang terbiasa menjaga sikap.


Tak lama kemudian Aini datang membawa segelas teh hangat.


"Silakan diminum, Pak."


"Terima kasih."


Budi menganggukkan kepala dengan sopan.


Sikap santunnya membuat para pegawai sedikit terkejut.


Bayangan tentang seorang perwira yang keras dan kaku perlahan berubah.


Pria itu justru berbicara dengan nada yang terukur dan penuh penghormatan.


Setelah suasana terasa cukup nyaman, Budi kembali memandang Grenia.


"Sebenarnya kedatangan saya hari ini tidak ada hubungannya dengan perkara hukum."


Kalimat itu membuat seluruh isi salon mengembuskan napas lega secara bersamaan.


Budi sampai tersenyum tipis melihat reaksi mereka.


"Saya tahu tadi kalian pasti mengira ada razia atau semacamnya."


Lihat selengkapnya