PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #14

Cemburu yang Tak Mau Diakui

Malam perlahan turun menyelimuti Jakarta Selatan.

Lampu-lampu kota mulai mengambil alih tugas matahari, memantulkan cahaya keemasan di atas aspal yang masih ramai oleh kendaraan. Udara setelah hujan terasa lebih sejuk, membuat kawasan Kemang kembali dipenuhi orang-orang yang mencari tempat untuk bersantai selepas bekerja.

Di salah satu sudut kafe bergaya industrial yang cukup tersembunyi dari jalan utama, empat orang pria telah lebih dulu memenuhi sebuah meja panjang di area semi terbuka.

"Asli... telat lagi."

Bagong melirik jam tangannya sambil menggeleng.

"Gusti kita kalau urusan bisnis datang paling awal. Giliran urusan nongkrong malah paling akhir."

"Biasalah," sahut Mistian santai sambil menyeruput kopi hitamnya. "Kalau wajahnya lagi sumringah berarti habis ketemu Mbak Gre. Kalau wajahnya kusut... berarti juga gara-gara Mbak Gre."

Ucapan itu langsung disambut tawa Bongo.

"Berarti penyakitnya sudah kronis."

Sudirman yang duduk paling ujung hanya tersenyum tipis.

Ia mengenal Teguh lebih lama dibanding siapa pun di meja itu.

Selama bertahun-tahun bekerja bersama, hampir tidak pernah ia melihat atasannya kehilangan ketenangan hanya karena seorang wanita.

Justru itu yang membuat perubahan Teguh terasa menarik.

Tak lama kemudian...

Sebuah SUV hitam berhenti di depan kafe.

Pintu pengemudi terbuka.

Teguh turun seorang diri.

Langkahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi raut wajahnya memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Bukan marah.

Bukan pula kecewa.

Melainkan seseorang yang sedang memikirkan sesuatu terlalu dalam.

"Nah..."

Bagong langsung bersiul.

"Tersangka akhirnya datang."

Teguh menarik kursi tanpa banyak bicara.

"Apa?"

"Lihat tuh mukanya."

Mistian menunjuk wajah Teguh.

"Kayak habis kalah tender."

"Bukan."

Bongo menyeringai.

"Ini mah lebih parah."

"Ekspresi orang yang lagi jatuh cinta."

Seketika empat orang itu tertawa bersamaan.

Teguh hanya mendesah panjang.

"Kalian kalau nggak ngeledek, hidupnya kurang bahagia ya?"

"Banget."

Jawaban mereka kompak.

Pelayan datang membawakan secangkir kopi hitam favorit Teguh.

Pria itu mengucapkan terima kasih, lalu meminum seteguk tanpa komentar.

Suasana hening beberapa saat.

Bagong memperhatikan sahabatnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Lho..."

"Kok diem?"

"Nggak biasanya."

Teguh meletakkan cangkirnya.

"Lagi malas ngomong."

"Berarti benar."

Mistian mengangguk mantap.

"Fix."

"Kasusnya berat."

Bongo ikut menyahut.

"Biasanya kalau dia diam begini cuma ada dua kemungkinan."

"Apa?"

"Saham turun..."

"...atau hati yang turun."

Gelak tawa kembali pecah.

Bahkan Sudirman ikut tertawa kecil.

Teguh akhirnya menggeleng pasrah.

"Kalian ini memang nggak ada obat."

"Ya sudah."

Bagong menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Daripada kita nebak-nebak..."

"Cerita."

"Ada apa?"

Teguh memandangi permukaan kopinya beberapa detik.

Bayangan sore tadi kembali muncul di kepalanya.

Mobil dinas kepolisian.

Seragam lengkap.

Keranjang buah.

Dan...

tatapan seorang perwira kepada Grenia.

Entah mengapa...

Pemandangan itu terus mengganggunya sejak siang.

Ia bahkan beberapa kali kehilangan fokus ketika rapat sore berlangsung.

Melihat Teguh masih diam, Sudirman akhirnya angkat bicara.

"Masih kepikiran soal salon?"

Teguh mengembuskan napas pelan.

"Iya."

Empat sahabatnya saling bertukar pandang.

"Nah..."

Bagong menepuk meja.

"Akhirnya ngaku juga."

Teguh tersenyum tipis.

"Sebenarnya..."

"Saya sendiri bingung."

"Bingung kenapa?"

Teguh menatap jauh ke luar jendela.

"Saya bukan tipe orang yang gampang terusik."

"Selama ini siapa pun datang, siapa pun pergi... saya biasa saja."

"Tapi..."

Ia berhenti sejenak.

"Begitu melihat ada pria lain yang mulai mendekati Mbak Gre..."

"...rasanya aneh."

Suasana meja mendadak berubah lebih tenang.

Tak ada lagi tawa.

Keempat sahabatnya mendengarkan dengan serius.

"Kayak..."

Teguh menggeleng pelan.

"Saya nggak suka."

Kalimat sederhana itu justru membuat Sudirman tersenyum.

"Selamat."

Teguh mengernyit.

"Selamat apa?"

Sudirman mengangkat cangkir kopinya.

"Akhirnya Gusti kita benar-benar jatuh cinta."


Bagong langsung meletakkan gelasnya di atas meja.


"Eh... bentar."


"Lu tadi bilang apa?"


Teguh mengernyit.


"Apa?"


"Barusan."


"Saya nggak suka."


Bagong menunjuk wajah Teguh.


"Itu."


"Kalimat itu."


"Selama gue kenal sama lu belasan tahun, baru kali ini gue dengar."


Bongo ikut mengangguk.


"Biasanya kalau ada saingan bisnis, lu bilang, 'Bersaing saja.'"


"Kalau ada investor pindah, lu bilang, 'Silakan.'"


"Kalau ada proyek gagal, lu bilang, 'Cari yang lain.'"


Mistian menyeringai lebar.


"Giliran ada cowok ngedeketin Mbak Gre..."


"...langsung bilang nggak suka."


Teguh mengusap tengkuknya pelan.


"Ya... memang begitu."


"Buset..."


Bagong tertawa.


"Gusti kita ternyata manusia juga."


Gelak tawa kembali memenuhi meja mereka.


Bahkan Teguh akhirnya ikut tersenyum.


Sudirman yang sejak tadi hanya mengamati, menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Saya mau tanya."


Teguh menoleh.


"Apa?"


"Kalau misalnya..."


"...Pak Budi memang serius mendekati Mbak Gre..."


"...apa yang akan Mas lakukan?"


Pertanyaan itu membuat suasana kembali hening.


Teguh tidak langsung menjawab.


Ia memandang jalanan di luar kafe.


Mobil-mobil masih berlalu-lalang.


Lampu kota memantul di kaca-kaca gedung tinggi.


Beberapa detik kemudian...


"Aku nggak akan memakai jabatan."


Empat sahabatnya serempak memandangnya.


"Aku juga nggak akan memakai uang."


Bagong mengangguk pelan.


"Lalu?"


Teguh tersenyum tipis.


"Aku ingin Mbak Gre memilih."


"Memilih?"


"Iya."


"Kalau nanti dia memilihku..."


"...aku ingin itu karena memang dia percaya kepadaku."


"Bukan karena hartaku."


"Bukan karena pengaruh keluargaku."


"Apalagi karena kekuasaan."


Kalimat itu membuat Sudirman tersenyum bangga.


"Itu baru Gusti yang saya kenal."


Mistian mengangkat alis.


"Berarti perang ini fair dong?"


Teguh mengangguk mantap.


"Selama lawannya juga fair."


Bagong terkekeh.


"Nah..."


"Kalau ternyata si polisi itu mulai pakai cara-cara jabatan?"


Tatapan Teguh perlahan berubah.


Tidak marah.


Namun jauh lebih tajam.


"Kalau dia memakai kewenangannya untuk menekan..."


"...itu urusan yang berbeda."


Bongo langsung menunjuk Teguh.


"Nah!"


"Itu baru bos kita."


Lihat selengkapnya