PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #15

Sebuah Panggilan di Pagi Har

Mentari pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai rumah kontrakan Grenia di kawasan Kemang. Cahaya keemasan yang lembut menerpa lantai ruang keluarga, berpadu dengan aroma kopi hitam yang baru saja diseduh dari dapur kecil.

Seperti biasanya, Grenia mengawali hari dengan rutinitas yang sama.

Salat Subuh.

Membaca beberapa lembar Al-Qur'an.

Lalu menyiapkan secangkir kopi sebelum bersiap membuka salon.

Baginya, pagi yang tenang selalu menjadi cara terbaik untuk mengumpulkan tenaga sebelum menghadapi kesibukan seharian.

Baru saja ia hendak menikmati tegukan pertama, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar pelan.

Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya terangkat.

Ibu.

Grenia segera mengusap tangannya dengan tisu sebelum menerima panggilan video.

"Assalamu'alaikum, Bu."

"Wa'alaikumussalam."

Wajah teduh sang ibu langsung memenuhi layar.

"Alhamdulillah... sehat, Nduk?"

"Alhamdulillah sehat."

"Kamu sendiri gimana?"

"Ibu juga sehat."

Percakapan mereka selalu diawali dengan kalimat yang sama.

Sederhana.

Namun selalu menghadirkan rasa tenang.

"Sevgi mana, Bu?"

"Lagi sarapan."

Belum sempat ibunya memanggil, seorang bocah kecil berlari menghampiri kamera dengan wajah ceria.

"Mamaaa..."

Grenia langsung tersenyum lebar.

"Masyaallah..."

"Anak Mama sudah mandi?"

"Sudah."

"Sudah sarapan?"

"Sudah juga."

"Hebat."

Sevgi lalu mengangkat sebuah gambar hasil coretannya.

"Mama lihat."

"Aku gambar Mama."

Grenia memperhatikan gambar itu sambil tertawa kecil.

Meski garis-garisnya masih sederhana, ia bisa mengenali sosok perempuan berambut panjang dengan senyum lebar.

"Itu Mama?"

"Iya."

"Kalau yang ini?"

"Itu Sevgi."

"Lalu yang besar di sebelahnya?"

Sevgi tampak berpikir beberapa detik.

"Itu..."

"...Om baik."

Grenia mengernyit kecil.

"Om baik?"

"Iya."

"Yang kemarin."

Sang ibu di balik layar langsung tersenyum geli.

"Sejak kemarin dia cerita terus."

Grenia mulai penasaran.

"Om yang mana?"

Sevgi menggeleng polos.

"Nggak tahu namanya."

"Yang baik."

"Yang bantu Mama."

Kalimat itu membuat Grenia terdiam sejenak.

Entah mengapa...

Bayangan Teguh kembali muncul begitu saja di kepalanya.

Ia segera mengalihkan pembicaraan.

"Sevgi belajar yang rajin ya."

"Iya."

"Nurut sama Nenek."

"Iya."

"Nanti kalau Mama libur, Mama pulang."

"Mama jangan lama-lama."

Suara kecil itu membuat hati Grenia kembali menghangat.

"Insyaallah."

"Doakan salon Mama ramai terus."

"Iya."

"Aku doain."

"Semoga Mama sehat."

"Semoga rezekinya banyak."

Mata Grenia terasa sedikit berkaca.

Anak sekecil itu belum benar-benar memahami beratnya kehidupan.

Namun doa-doanya selalu menjadi penyemangat terbesar bagi dirinya.

Setelah beberapa menit mengobrol, panggilan video akhirnya berakhir.

Grenia meletakkan ponselnya perlahan.

Ia menatap secangkir kopi yang kini mulai menghangat.

Lalu tanpa sadar...

Ia kembali mengingat ucapan Sevgi.

"Om baik..."

Grenia tersenyum kecil sambil menggeleng.

"Kenapa jadi kepikiran lagi..."

Padahal...

Hari itu bahkan belum benar-benar dimulai.

Setelah menuntaskan secangkir kopi hangatnya, Grenia berdiri dan merapikan meja makan kecil di sudut dapur.

Jam dinding baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi.

Masih ada waktu sebelum salon mulai ramai oleh pelanggan.

Ia mengambil tas kerja, memastikan buku agenda, dompet, dan kunci kendaraan sudah berada di tempatnya. Kebiasaan itu selalu ia lakukan setiap pagi agar tidak ada yang tertinggal.

Beberapa menit kemudian, pintu rumah kontrakan terkunci rapi.

Motor matiknya melaju pelan meninggalkan gang yang dipenuhi pepohonan rindang.

Udara pagi Jakarta masih terasa cukup bersahabat.

Sesekali Grenia menikmati embusan angin yang menerpa wajahnya selama perjalanan menuju salon.


Di kawasan Kemang, aktivitas mulai menggeliat.

Warung kopi dipenuhi pelanggan.

Pegawai kantoran bergegas menuju tempat kerja.

Sementara deretan toko perlahan membuka pintunya satu per satu.

Ketika Grenia tiba di depan salon, Aini sudah lebih dahulu datang.

"Assalamu'alaikum, Mbak."

"Wa'alaikumussalam."

Aini segera membantu membuka rolling door.

Tak lama kemudian Mutia, Ratna, Ami, dan Imah juga berdatangan.

Seperti biasa, sebelum menerima pelanggan pertama, mereka berkumpul sejenak untuk melakukan briefing singkat.

Grenia memandang kelima pegawainya dengan senyum hangat.

"Bagaimana? Semua sehat?"

"Alhamdulillah."

"Alhamdulillah."

Jawaban mereka terdengar hampir bersamaan.

"Booking hari ini lumayan padat," ujar Aini sambil membuka tablet jadwal.

"Pukul sembilan ada tiga pelanggan manicure."

"Setengah sepuluh eyelash."

"Jam sebelas ada treatment hair spa."

Mutia ikut menambahkan.

"Terus siang ada rombongan empat orang yang reservasi nail art."

Grenia mengangguk pelan.

"Baik."

"Seperti biasa, utamakan kenyamanan pelanggan."

"Kalau ada komplain sekecil apa pun, segera sampaikan ke saya."

"Jangan dipendam."

"Siap, Mbak."

Mereka menjawab serempak.

Sebelum berpencar ke posisi masing-masing, Grenia kembali mengingatkan sesuatu.

"Dan satu lagi..."

"Layanan boleh cepat."

"Tapi jangan terburu-buru."

"Ketelitian tetap nomor satu."

Ucapan itu membuat kelima pegawainya mengangguk penuh semangat.

Mereka sudah hafal.

Kalimat itu hampir selalu diucapkan Grenia setiap memulai hari kerja.

Bukan sekadar nasihat.

Melainkan prinsip yang membuat salon mereka terus dipercaya pelanggan.

Suasana salon pun perlahan hidup.

Musik instrumental diputar dengan volume pelan.

Aroma terapi mulai memenuhi ruangan.

Peralatan disusun kembali dengan rapi.

Beberapa menit kemudian, pelanggan pertama datang.

Rutinitas kembali berjalan seperti biasa.

Di sela-sela kesibukan itu, Aini diam-diam memperhatikan Grenia yang sedang memeriksa stok kuteks di rak display.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

"Mbak..."

Grenia menoleh.

"Iya?"

Aini tampak ragu-ragu.

"Boleh tanya sesuatu?"

"Tanya saja."

Aini menahan senyum jahilnya.

Lihat selengkapnya