PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #16

Sebuah Pengakuan

Langit Jakarta mulai berwarna jingga ketika Grenia menutup buku agenda di atas meja kerjanya.


Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore.


Aktivitas di salon perlahan mereda.


Pelanggan terakhir baru saja meninggalkan ruangan dengan senyum puas.


"Alhamdulillah."


Grenia mengembuskan napas lega.


Hari yang padat akhirnya hampir usai.


"Terima kasih, Mbak."


"Besok saya datang lagi untuk hair treatment."


"Insyaallah."


"Kami tunggu."


Grenia mengantar pelanggan itu hingga ke depan pintu sebelum kembali masuk ke dalam salon.


Di dekat meja kasir, Aini sedang merekap transaksi hari itu.


Mutia dan Ratna merapikan peralatan manicure.


Sementara Ami bersama Imah membersihkan ruang hair spa.


"Alhamdulillah."


"Hari ini lancar semua."


Aini menyerahkan laporan penjualan.


Grenia membacanya sekilas, lalu mengangguk puas.


"Tidak ada komplain?"


"Alhamdulillah tidak ada."


"Bagus."


"Terima kasih untuk kerja keras kalian."


Kelima pegawainya tersenyum.


Bagi mereka, ucapan sederhana dari Grenia selalu terasa sebagai bentuk penghargaan.


Setelah memastikan seluruh perlengkapan telah kembali ke tempatnya, Grenia mempersilakan mereka pulang lebih dulu.


"Hati-hati di jalan."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Satu per satu mereka meninggalkan salon.


Suasana yang sejak pagi dipenuhi percakapan dan tawa perlahan berubah hening.


Grenia mematikan sebagian lampu ruangan.


Tangannya baru saja hendak menurunkan rolling door ketika ponsel di dalam tas bergetar pelan.


Nama yang muncul di layar membuat langkahnya terhenti.


Mas Teguh.


Entah mengapa...


Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat.


Ia menarik napas pelan sebelum mengangkat panggilan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Suara Teguh terdengar hangat seperti biasa.


"Mudah-mudahan saya tidak menelepon di waktu yang salah."


Grenia tersenyum kecil.


"Alhamdulillah tidak."


"Salon juga baru selesai tutup."


"Syukurlah."


Teguh terdiam sejenak.


Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu.


"Kalau Mbak Grenia tidak ada acara malam ini..."


"...bolehkah saya mengajak makan malam?"


Kalimat itu meluncur dengan tenang.


Tanpa nada memaksa.


Tanpa rayuan yang dibuat-buat.


Hanya sebuah ajakan sederhana yang terdengar tulus.


Grenia tidak langsung menjawab.


Tatapannya jatuh pada jalanan di depan salon yang mulai dipenuhi lampu kendaraan.


Ajakan itu...


Entah mengapa membuatnya teringat pada ucapan Sevgi pagi tadi.


"Om baik..."


Senyum tipis kembali menghiasi wajah tirusnya.


"Mas..."


"Iya?"


"Boleh saya tahu..."


"...ini makan malam biasa?"


"...atau ada sesuatu yang ingin Mas bicarakan?"


Di seberang sana, Teguh tersenyum.


"Ada."


"Sesuatu yang sejak beberapa hari ini terus saya simpan."


Jawaban itu membuat Grenia kembali terdiam.


Ada rasa penasaran.


Ada pula kegugupan yang perlahan menyelinap ke dalam hatinya.


Namun, di balik semua itu...


Ia justru ingin mendengar apa yang akan disampaikan pria tersebut.

Beberapa detik berlalu.

Tak satu pun dari mereka segera melanjutkan percakapan.

Di seberang telepon, Teguh memilih memberi Grenia waktu.

Sementara Grenia mencoba menenangkan debar yang perlahan memenuhi dadanya.

Ia bukan gadis remaja yang mudah hanyut oleh kata-kata manis.

Pengalaman hidup telah mengajarkannya untuk berhati-hati.

Terlebih, sejak membesarkan Sevgi seorang diri, ia terbiasa mempertimbangkan segala sesuatu dengan kepala dingin.

"Kalau saya menerima ajakan Mas..."

"...ke mana kita akan pergi?"

Teguh tersenyum mendengar pertanyaan itu.

Lihat selengkapnya