Malam semakin larut ketika pertemuan itu berakhir.
Teguh berdiri lebih dahulu, lalu mengantar Grenia hingga ke area parkir.
Angin malam berembus pelan, membawa hawa sejuk yang menghapus sisa hangatnya siang di ibu kota.
Di bawah cahaya lampu taman, keduanya berdiri beberapa saat tanpa segera berpamitan.
"Terima kasih, Mas."
Grenia tersenyum tulus.
"Sudah mengajak saya makan malam."
"Saya yang seharusnya berterima kasih."
Teguh membalas senyumnya.
"Karena Mbak Grenia sudah bersedia datang."
Sejenak, suasana kembali hening.
Tak ada kecanggungan.
Hanya perasaan yang perlahan tumbuh di antara dua hati yang sama-sama memilih berjalan dengan hati-hati.
"Jalan pulangnya hati-hati."
"Iya."
"Mas juga."
Teguh mengangguk pelan.
"Insyaallah."
Grenia mengenakan helmnya.
Sebelum mesin motor dinyalakan, ia sempat menoleh sekali lagi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Motor matik itu pun melaju perlahan meninggalkan rumah makan.
Sementara Teguh masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya mengikuti hingga lampu belakang motor Grenia menghilang di tikungan jalan.
Barulah ia mengembuskan napas panjang.
Senyum kecil terukir di wajahnya.
"Alhamdulillah..."
"Setidaknya malam ini..."
"...aku berhasil menyampaikan isi hatiku."
Namun, di balik rasa lega itu, Teguh juga memahami satu hal.
Perjalanan mereka...
Baru saja dimulai.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi bagi Grenia.
Bukan karena jalanan sepi.
Kemang masih dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang.
Lampu-lampu pertokoan dan kafe masih menyala terang.
Namun, pikirannya dipenuhi oleh percakapan beberapa jam terakhir.
"Saya ingin menjalani masa depan bersama Mbak."
Kalimat itu terus terngiang di benaknya.
Berkali-kali.
Ia menggenggam setang motornya sedikit lebih erat.
Entah sejak kapan...
Jantungnya kembali berdebar hanya karena mengingat ucapan sederhana itu.
Sesampainya di rumah kontrakan, Grenia memarkir motornya seperti biasa.
Ia membuka pintu, lalu menyalakan lampu ruang tamu.
Keheningan langsung menyambutnya.
Rumah kecil itu kembali terasa lengang.
Ia meletakkan tas di atas sofa.
Melepaskan hijabnya perlahan.
Lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Setelah meminumnya hingga habis, Grenia bersandar sejenak di meja makan.
Pandangannya tanpa sengaja jatuh ke arah lemari kayu kecil di sudut ruang keluarga.
Lemari itu jarang dibuka.
Bukan karena terlupakan.
Melainkan karena di dalamnya tersimpan sesuatu yang selalu membuat hatinya dipenuhi pertanyaan.
Kotak jati peninggalan ayahnya.
Kotak yang selama bertahun-tahun tetap terkunci rapat.
Kotak yang pernah mengubah jalan hidupnya.
Grenia memejamkan mata beberapa saat.
Ucapan Teguh malam tadi kembali terngiang.
"Sebelum Mbak mengambil keputusan... ada beberapa hal yang perlu Mbak ketahui."
Perlahan...
Ia melangkah menuju lemari itu.
Tangannya berhenti tepat di depan gagang pintu.
Seakan ada keraguan yang kembali mengikat langkahnya.
Apakah...
Malam ini adalah waktunya membuka kembali kenangan yang selama ini ia simpan rapat?
Rumah kontrakan itu kembali sunyi.
Hanya suara jarum jam dinding yang sesekali memecah keheningan malam.
Grenia meletakkan tasnya di atas sofa.
Ia melepaskan hijab, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
Meski tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja, pikirannya justru sulit beristirahat.
Percakapan bersama Teguh terus berputar di dalam benaknya.
"Ada beberapa hal yang perlu Mbak ketahui."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Grenia...
Ucapan tersebut terasa seolah menyentuh sebuah rahasia yang selama ini belum pernah berhasil ia pahami.
Ia mengembuskan napas pelan.
Tatapannya tanpa sadar beralih ke arah lemari kecil di ruang tamu.
Di sanalah...
Kotak kayu jati itu masih tersimpan.
Kotak yang diantar oleh dua pria misterius beberapa waktu lalu.
Kotak yang hingga malam ini masih tetap tersegel rapat.
Perlahan Grenia melangkah mendekat.
Tangannya membuka pintu lemari, lalu mengangkat kotak itu dengan hati-hati.
Ukiran naga yang melingkar di permukaannya tampak begitu hidup di bawah cahaya lampu ruang tamu.
Sementara bunga Wijaya Kusuma yang terukir di bagian tengahnya memancarkan keindahan yang sulit dijelaskan.
Segel lilin merah itu...
Masih utuh.
Tak pernah sekalipun ia mencoba merusaknya.
"Ayah..."
Gumamnya lirih.
Bayangan mimpi yang pernah ia alami kembali memenuhi pikirannya.
Sosok sang ayah.
Padang rumput yang diselimuti kabut.
Dan...
Pria berjas hitam yang berdiri di belakang ayahnya.
Tatapan mata pria itu.
Tenang.
Berwibawa.
Namun entah mengapa...
Semakin hari terasa semakin akrab di dalam ingatannya.
Grenia mengusap perlahan permukaan kotak.
Bukan untuk membukanya.
Hanya seolah ingin memastikan bahwa semua yang pernah terjadi bukanlah sekadar mimpi.