PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #18

Warisan yang Terbangun

Dua hari berlalu sejak makan malam itu.

Rutinitas di Nail Art Salon berjalan seperti biasanya.

Pelanggan datang silih berganti.

Suara pengering rambut, obrolan ringan para pelanggan, dan alunan musik instrumental kembali memenuhi ruangan.

Namun...

Di balik kesibukan itu, ada satu perubahan kecil yang mulai disadari oleh orang-orang terdekat Grenia.

Senyumnya menjadi lebih sering terlihat.

Bukan senyum lebar yang mencolok.

Melainkan senyum tipis yang muncul tanpa ia sadari setiap kali pikirannya melayang kepada seseorang.

"Mutia."

"Iya, Mbak?"

"Tolong cek stok vitamin rambut."

"Sepertinya tinggal sedikit."

"Baik, Mbak."

Grenia kembali memeriksa jadwal reservasi di tablet.

Hari itu cukup padat.

Hampir seluruh kursi perawatan telah terisi sejak pagi.

Kesibukan itu membuat pikirannya untuk sementara teralihkan dari berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab.

Hingga menjelang waktu Zuhur...

Ponselnya bergetar pelan.

Nama yang muncul di layar membuat langkahnya terhenti sesaat.

Mas Teguh.

Grenia menarik napas pelan sebelum menjawab panggilan tersebut.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Suara Teguh terdengar tenang seperti biasa.

"Maaf mengganggu jam kerja."

"Tidak apa-apa, Mas."

"Ada yang bisa saya bantu?"

Terdengar jeda beberapa detik.

"Sebenarnya..."

"...saya ingin menanyakan kabar Mbak Grenia."

Grenia tersenyum kecil.

"Alhamdulillah baik."

"Salon juga sedang ramai."

"Alhamdulillah."

Suara Teguh terdengar lega.

"Lalu..."

"Saya juga ingin menepati janji."

"Janji?"

"Ya."

"Saya pernah bilang..."

"...ada beberapa hal yang perlu Mbak ketahui."

Senyum di wajah Grenia perlahan memudar.

Nada suara Teguh kali ini berbeda.

Lebih serius.

Lebih hati-hati.

Tanpa sadar, pandangannya mengarah ke ruang staf.

Di balik dinding rumah kontrakannya...

Masih tersimpan sebuah kotak jati yang hingga kini belum pernah dibuka.

"Mas..."

"Apakah ini ada hubungannya..."

"...dengan kotak itu?"

Untuk beberapa saat...

Teguh tidak langsung menjawab.

Keheningan di ujung telepon justru membuat jantung Grenia berdetak semakin cepat.

Akhirnya, Teguh mengembuskan napas perlahan.

"Ada."

"Sangat erat."

"Tetapi..."

"...saya tidak ingin menjelaskannya melalui telepon."

Grenia terdiam.

Ia dapat merasakan kesungguhan dalam setiap kata yang diucapkan pria itu.

"Kalau begitu..."

"...kapan kita bisa bertemu?"

"Kalau Mbak tidak keberatan..."

"...besok sore."

"Ada satu tempat yang ingin saya tunjukkan."

"Bukan untuk membuat Mbak percaya kepada saya."

"Melainkan..."

"...agar Mbak melihatnya sendiri."

Kalimat itu membuat Grenia terdiam cukup lama.

Rasa penasarannya semakin besar.

Namun, entah mengapa...

Ia juga merasakan ketenangan.

Seolah langkah yang akan diambilnya memang sudah digariskan sejak lama.

Panggilan telepon itu berakhir beberapa menit kemudian.


Grenia masih memandangi layar ponselnya yang telah kembali gelap.


Ucapan Teguh terus terngiang di benaknya.


"Ada satu tempat yang ingin saya tunjukkan."


"Agar Mbak melihatnya sendiri."


Ia belum mengetahui tempat seperti apa yang dimaksud.


Namun, dari nada suara Teguh, ia dapat merasakan bahwa pertemuan berikutnya bukan sekadar obrolan biasa.


"Mbak?"


Suara Mutia membuyarkan lamunannya.


"Iya?"


"Pelanggan hair spa sudah datang."


"Oh, iya."


Grenia segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celemek.


Ia kembali memasang senyum profesional sebelum menghampiri pelanggan.


Bagi Grenia...


Apa pun persoalan yang sedang dihadapinya, pelayanan kepada pelanggan tetap menjadi prioritas.



---


Menjelang sore...


Aktivitas di Nail Art Salon mulai berkurang.


Beberapa pelanggan terakhir telah meninggalkan tempat.


Aini sibuk merapikan meja manicure.


Ratna membersihkan peralatan eyelash extension.


Sementara Ami dan Imah menghitung kembali persediaan produk yang mulai menipis.


Grenia memeriksa laporan pemasukan hari itu.


"Alhamdulillah."


"Hasilnya lumayan."


Aini tersenyum.


"Akhir-akhir ini pelanggan baru juga mulai banyak, Mbak."


"Iya."


"Semoga bisa terus seperti ini."


"Aamiin."


Jawaban itu disambut anggukan oleh semua pegawainya.


Bagi mereka...


Kemajuan salon bukan hanya kebanggaan Grenia.


Melainkan juga sumber penghidupan yang mereka perjuangkan bersama.


Tak lama kemudian, Grenia menutup buku laporan.


"Besok saya mungkin keluar sebentar setelah jam operasional selesai."


Aini mengangkat wajah.


"Ada keperluan, Mbak?"


"Iya."


"Ketemu teman."


Jawaban itu terdengar singkat.


Namun, senyum tipis yang muncul di wajah Grenia membuat Aini langsung saling pandang dengan Mutia.


Mutia menggigit bibirnya, berusaha menahan tawa.


Sedangkan Aini hanya mengangguk pelan.


"Baik, Mbak."


"Kami yang bereskan sisanya."


"Terima kasih."


Grenia mengangguk sambil tersenyum.


Melihat kebersamaan mereka, hatinya dipenuhi rasa syukur.


Membangun usaha dari nol bukan perkara mudah.


Tetapi memiliki rekan kerja yang saling mendukung...


Adalah rezeki yang tak ternilai.


Di sisi lain...

Lihat selengkapnya