PRAMESWARI

Sang Alifas Yang Merumput
Chapter #19

Pertanda

Langit Jakarta mulai dihiasi semburat jingga ketika Grenia mengendarai motor matiknya meninggalkan bangunan tua itu.

Sepanjang perjalanan pulang...

Pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama Teguh.

"Amanah itu nyata."

"Keluarga kita sama-sama berkewajiban menjaganya."

Kalimat-kalimat itu terus berulang di benaknya.

Untuk pertama kalinya sejak menerima kotak jati, Grenia merasa bahwa dirinya tidak sedang mengejar sebuah teka-teki tanpa arah.

Sedikit demi sedikit...

Potongan-potongan misteri itu mulai menemukan tempatnya.

Sesampainya di rumah kontrakan, Grenia memarkir motornya di teras kecil.

Ia membuka pintu, lalu menyalakan lampu ruang tamu.

Keheningan kembali menyambutnya.

Rumah sederhana itu terasa begitu akrab.

Namun malam ini...

Ada sesuatu yang berbeda.

Entah mengapa, pandangannya langsung tertuju ke arah lemari tempat ia menyimpan kotak jati.

Beberapa saat ia hanya berdiri.

Tidak mendekat.

Tidak pula membuka lemari.

Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Aku sudah berjanji..."

"...akan menunggu."

Gumamnya lirih.

Ia memilih berjalan ke dapur untuk membuat segelas teh hangat.

Aroma melati perlahan memenuhi ruangan.

Biasanya, minuman hangat selalu berhasil menenangkan pikirannya.

Namun malam itu...

Pikirannya justru semakin sibuk.

Ia kembali mengingat setiap ucapan Teguh.

Tentang keluarga Wijaya Kusuma.

Tentang amanah para leluhur.

Dan tentang rahasia yang belum boleh diungkapkan.

"Kalau memang belum waktunya..."

"...kenapa kotak itu dikirim sekarang?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Tidak ada yang menjawab.

Hanya keheningan yang menemani.

Setelah menghabiskan tehnya, Grenia melangkah menuju ruang tamu.

Perlahan...

Ia membuka pintu lemari.

Kotak jati itu masih berada di tempatnya.

Ukiran naga dan bunga Wijaya Kusuma tampak semakin indah di bawah cahaya lampu.

Segel lilin merah masih melekat utuh.

Tidak berubah sedikit pun.

Grenia berjongkok di depan lemari.

Jemarinya terulur.

Berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh permukaan kotak.

Ia menarik napas panjang.

Lalu...

Mengurungkan niatnya.

"Tidak."

"Aku akan memegang amanah ini."

Dengan hati-hati, ia kembali menutup pintu lemari.

Tanpa ia sadari...

Sesaat setelah pintu lemari tertutup rapat, ukiran bunga Wijaya Kusuma pada permukaan kotak memancarkan kilau keemasan yang sangat samar.

Hanya sekejap.

Begitu cepat hingga mata manusia nyaris mustahil menangkapnya.

Di luar rumah...

Angin malam berembus perlahan, menggoyangkan dedaunan di halaman.

Seolah membawa sebuah pertanda...

Bahwa sesuatu yang telah lama tertidur mulai perlahan terbangun.

Malam terus merambat.


Setelah memastikan seluruh pintu dan jendela rumah terkunci, Grenia mematikan lampu ruang tamu.


Ia membawa ponselnya ke kamar.


Seperti biasa, sebelum beristirahat ia menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan Sevgi.


Tak lama kemudian, wajah bocah itu muncul di layar.


"Ibu!"


Senyum Grenia langsung merekah.


"Assalamu'alaikum, Nak."


"Wa'alaikumussalam, Ibu."


"Sudah makan malam?"


"Sudah."


"Tadi makan sama Nenek."


"Alhamdulillah."


"Belajar juga sudah?"


Sevgi mengangguk bangga.


"Sudah. Tadi dapat bintang dari Bu Guru."


"Masyaallah."


"Anak Ibu hebat."


Mata Sevgi berbinar mendengar pujian itu.


"Ibu kapan pulang?"


Pertanyaan sederhana itu membuat Grenia terdiam sejenak.


"Kalau salon agak longgar, Ibu pulang."


"Doakan ya."


"Iya."


"Aku selalu doain Ibu."


Jawaban polos itu kembali menghangatkan hati Grenia.


Mereka masih mengobrol beberapa menit.


Sevgi bercerita tentang teman-temannya.


Tentang permainan yang baru dipelajarinya.


Dan tentang cita-citanya yang setiap minggu selalu berubah.


Grenia mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil.

Lihat selengkapnya